Pemartiran Stefanus: Teladan Iman yang Total

Pemartiran Stefanus: Teladan Iman yang Total
St. Stefanus, teladan iman yang total. Ist.

Oleh Antonius Widada CP

Renungan Selasa Pekan III Paskah: pemartiran Stefanus dan Yesus sebagai roti hidup, mengajak umat memahami iman sejati dan janji hidup kekal.

Selasa Pekan III Paskah

Kita merenungkan sabda Tuhan dari Kisah Para Rasul 7:54–60, tentang pemartiran Stefanus.

Stefanus adalah diakon utama dari tujuh diakon yang dipilih oleh Gereja awal. Tugasnya melayani altar, berkhotbah, serta memperhatikan para janda dan orang miskin.

Pemartirannya dapat disandingkan dengan kisah pengadilan Yesus dalam Injil Sinoptik. Kematian Stefanus secara jelas mencerminkan kematian Yesus. Ia sekaligus menjawab pertanyaan tentang ibadah yang sejati.

Menyerupai Kristus hingga Akhir

Ketika Stefanus mengatakan bahwa ia melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sisi kanan Allah (ay. 56), lawan-lawannya menyeretnya ke luar kota untuk membunuhnya, sebagaimana mereka lakukan terhadap Yesus.

Seperti Yesus, Stefanus menyerahkan jiwanya kepada Bapa. Ia berdoa, “Tuhan Yesus, terimalah rohku” (ay. 59; bdk. Lukas 23:46). Bahkan, ia juga berdoa bagi para pembunuhnya, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (ay. 60).

Dua tema penting tampak dalam kisah ini:

a. Seorang pengikut Yesus menghidupi kembali kisah Yesus, bahkan secara harfiah.

b. Stefanus menjawab makna ibadah sejati melalui doa kepada Yesus sebagai Tuhan dan dengan mempersembahkan hidupnya.

Yesus, Roti Hidup dari Surga

Dalam Yohanes 6:34–40, orang banyak memahami Yesus secara harfiah, seperti perempuan Samaria saat berbicara tentang air hidup (Yohanes 4:15). Karena itu, mereka meminta roti tersebut.

Namun, dengan penuh wibawa, Yesus menyatakan bahwa Dialah roti hidup (ay. 35), yang memberikan makanan dan minuman yang membuat manusia tidak lapar dan haus lagi (bdk. Yohanes 4:14; 7:37).

Dalam tradisi Perjanjian Lama, Kebijaksanaan digambarkan sebagai pemberi makanan (bdk. Sirakh 24:21; Yesaya 49:10). Namun, Yesus melampaui semuanya: Ia adalah sumber hidup itu sendiri.

Kehendak Allah: Hidup Kekal bagi Semua

Yesus mengetahui bahwa ada yang tidak percaya dan imannya tidak utuh (ay. 36). Namun, kasih Allah bersifat universal. Hal ini tampak dalam ungkapan seperti “barang siapa,” “setiap orang,” dan “semua” (ay. 37–40).

Kehendak Allah adalah agar semua orang yang percaya kepada Yesus memperoleh hidup kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman.

Bagaimana iman Anda, para sahabat?

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org