Samir Busana Pelayanan bukan Kekuasaan

Samir Busana Pelayanan bukan Kekuasaan
Samir adalah busana liturgis bagi kaum awam yang menjalankan tugas khusus dalam ibadat. Dokpen.
Oleh Oleh P Jack Dambe Cjd

Dalam setiap perayaan liturgi, mata kita sering tertuju pada para petugas yang melayani di sekitar altar. 

Selain Imam dan Diakon, kita melihat para prodiakon atau asisten imam yang mengenakan selembar kain khusus yang dikalungkan di bahu hingga dada. 

Kain itulah yang kita kenal sebagai Samir.

​Samir bukanlah sekadar hiasan atau pelengkap seragam. ​Samir memiliki makna teologis yang dalam. 

Samir adalah busana liturgis bagi kaum awam 

Samir adalah busana liturgis bagi kaum awam yang menjalankan tugas khusus dalam ibadat. Samir berfungsi untuk menutupi identitas duniawi kita, baju batik atau kemeja kerja kita, dan menggantinya dengan "busana pelayanan". 

Saat seorang awam mengenakan samir, ia tidak lagi tampil sebagai pribadi, melainkan sebagai pelayan Gereja yang mengemban tugas suci.

In persona Christi

​Namun, kita perlu memahami perbedaan mendasar antara Samir dan Stola. ​Stola adalah tanda dari Imamat Jabatan. Ia adalah simbol "kuk Kristus" dan otoritas sakramental yang dianugerahkan Tuhan hanya melalui Sakramen Tahbisan Suci (Imamat). 

Ketika seorang Imam atau Diakon mengenakan stola, itu menandakan bahwa mereka bertindak in persona Christi (dalam pribadi Kristus Sang Kepala). Stola memiliki bentuk yang panjang menjuntai, melambangkan aliran rahmat yang turun dari Allah melalui pelayanan mereka.

​Sebaliknya, Samir adalah tanda dari Imamat Umum. Setiap orang yang dibaptis adalah "imamat yang rajani" (1 Petrus 2:9). 

Samir adalah simbol partisipasi umat dalam liturgi, bukan simbol kuasa. Bentuk samir haruslah berbeda secara tegas dari stola. Samir biasanya lebih lebar, menutupi bahu seperti kerah, dan tidak menjuntai panjang menyerupai stola.

​Mengapa Gereja, melalui dokumen Redemptionis Sacramentum (No. 153), melarang keras penggunaan busana awam yang menyerupai stola? 

Menjaga kebenaran tanda

Tujuannya bukan untuk membeda-bedakan kasta, melainkan untuk menjaga kebenaran tanda. Liturgi adalah perayaan tanda. Jika seorang awam mengenakan busana yang menyerupai imam, maka tanda itu menjadi kabur. Umat bisa bingung membedakan mana pelayanan yang bersumber dari Baptisan (awam) dan mana yang bersumber dari Tahbisan (klerus).

​Oleh karena itu, mengenakan samir hendaknya dilakukan dengan semangat kerendahan hati. Samir bukanlah "stola kecil" atau simbol kenaikan pangkat. Justru, samir adalah "celemek pelayanan". 

Sama seperti Yesus yang mengikatkan kain lenan di pinggang-Nya saat membasuh kaki para murid (Yohanes 13:4-5), demikianlah hendaknya sikap hati setiap prodiakon saat mengenakan samir. ​

Samir dipakai hanya saat menjalankan tugas: membagi Komuni, memimpin Ibadat Sabda, atau mengirim Tubuh Kristus kepada orang sakit. Di luar itu, samir harus ditanggalkan.

​Marilah kita memandang samir bukan sebagai perhiasan yang mengundang kebanggaan tak sehat, melainkan sebagai pengingat akan tanggung jawab yang berat namun mulia. Bahwa di balik kain yang menempel di bahu itu, ada panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama dengan tulus, tanpa menuntut penghormatan, sebagaimana Kristus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Matius 20:28).

​Semoga samir yang kita kenakan menyucikan pelayanan kita dan memuliakan nama Tuhan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org