Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik

Konsili Nicea: Credo in Unam, Sanctam, Catholicam et Apostolicam Ecclesiam
Konsili Nicea: Credo in Unam, Sanctam, Catholicam et Apostolicam Ecclesiam. Ist.
Oleh Sr. Felicia Tesalonika

Inilah rumusan asli Credo/ Pengakuan Iman hasil rumusan Konsili Nicea: Credo in Unam, Sanctam, Catholicam et Apostolicam Ecclesiam yang artinya seperti judul narasi di atas.

Asal-Usul dan Makna Empat Tanda Gereja

Gereja yang utama adalah tubuh mistik Kristus dengan Yesus sebagai kepala Gereja dan Petrus serta para paus dalam kesatuannya dengan para uskup sebagai penerus (apostolik). Bdk. Efesus 1:22–23, Korintus 12:27, Matius 16:18–19, Yohanes 21:15–17,  Konsili Vatikan II, khususnya dalam konstitusi dogmatis Lumen Gentium, dinyatakan“Kristus adalah Kepala Tubuh, yaitu Gereja.” (LG 7). Juga Kitab Hukum Kanonik, Kanon 204 §1 menyatakan:

“Umat beriman Kristiani adalah mereka yang melalui baptisan dimasukkan ke dalam Kristus dan dibentuk menjadi umat Allah.”

 Kanon 330 menegaskan:

“Sebagaimana Santo Petrus dan para rasul lainnya membentuk satu kolegium rasuli, demikian pula Paus, pengganti Petrus, dan para uskup, pengganti para rasul, dipersatukan satu sama lain.”

Kanon ini menegaskan bahwa kepemimpinan Gereja Katolik tidak terlepas dari suksesi apostolik yang berasal dari para rasul.

Dari Pergumulan Iman sampai Rumusan Gereja

Sejarah iman Kristen tidak pernah lahir dalam ruang kosong. Ia muncul dari pergulatan manusia yang mencoba memahami siapa Yesus Kristus dan bagaimana komunitas para pengikut-Nya hidup dalam sejarah. Pada abad-abad awal, para pemimpin Gereja menyadari bahwa iman yang mereka warisi dari para rasul harus dirumuskan dengan jelas agar tidak disalahpahami.

Dalam perjalanan itu, para uskup dari berbagai wilayah berkumpul dalam Konsili Nicea. Konsili ini merupakan peristiwa penting karena Gereja harus menjawab perdebatan teologis yang sangat serius mengenai hakikat Kristus. Apakah Yesus benar-benar Allah, atau hanya makhluk ciptaan yang sangat tinggi kedudukannya. Pertanyaan ini bukan sekadar diskusi akademis. Ia menyentuh inti iman Kristen.

Dari pertemuan itu lahir sebuah rumusan iman yang kemudian dikenal sebagai Syahadat Nicea. Namun perjalanan teologis Gereja tidak berhenti di sana. Beberapa dekade kemudian, para pemimpin Gereja kembali berkumpul dalam Konsili Konstantinopel I. Konsili ini memperjelas dan menyempurnakan rumusan iman sebelumnya.

Dalam konsili inilah muncul pengakuan iman mengenai Gereja yang sampai sekarang dikenal luas. Rumusan itu berbunyi dalam bahasa Latin:

Credo in unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.

Artinya, Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Kalimat ini sangat singkat, tetapi maknanya luas. Ia merangkum cara Gereja memahami dirinya sendiri. Empat kata yang disebutkan di dalamnya menjadi penanda identitas Gereja sepanjang sejarah.

Unam – Gereja yang Satu

Kata pertama yang disebutkan adalah unam, yang berarti satu. Sejak awal, Gereja memahami dirinya sebagai satu tubuh rohani yang bersumber pada Kristus. Kesatuan ini bukan semata-mata kesatuan organisasi atau administrasi. Kesatuan Gereja lebih dalam daripada itu.

Kesatuan Gereja berakar pada iman kepada Allah Tritunggal. Dalam iman Kristen, Allah dipahami sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang hidup dalam persekutuan kasih. Karena Gereja lahir dari karya Allah ini, maka Gereja juga dipanggil untuk hidup dalam kesatuan.

Kesatuan itu tampak dalam beberapa aspek kehidupan Gereja. Pertama, kesatuan iman. Umat beriman kepada ajaran yang sama yang diwariskan oleh para rasul dan dijaga melalui Kitab Suci serta tradisi Gereja.

Kedua, kesatuan dalam sakramen. Umat berpartisipasi dalam kehidupan rohani yang sama melalui sakramen-sakramen yang diwariskan sejak masa awal Gereja.

Ketiga, kesatuan dalam kepemimpinan. Sejak awal Kekristenan, para uskup dipandang sebagai penerus pelayanan para rasul yang menjaga kesatuan umat.

Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kesatuan ini tidak selalu mudah dijaga. Sepanjang perjalanan Gereja, pernah terjadi perpecahan, konflik teologis, dan perbedaan penafsiran.

Karena itu, ketika Syahadat menyebut Gereja sebagai satu, pernyataan ini tidak hanya menggambarkan realitas yang sudah selesai. Ia juga merupakan panggilan moral dan spiritual bagi umat beriman untuk terus memelihara persatuan.

Sanctam dan Catholicam – Gereja yang Kudus dan Universal

Kata kedua dalam rumusan iman itu adalah sanctam, yang berarti kudus. Kekudusan Gereja sering disalahpahami seolah-olah Gereja terdiri dari manusia yang tanpa kesalahan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa anggota Gereja tetaplah manusia biasa yang memiliki kelemahan.

Gereja disebut kudus bukan karena semua anggotanya sempurna. Gereja disebut kudus karena sumber hidupnya kudus, yaitu Kristus sendiri. Gereja hidup dari rahmat Allah dan dipanggil untuk terus bergerak menuju kekudusan.

Dengan demikian, kekudusan Gereja bukan keadaan statis yang sudah selesai. Ia adalah proses yang terus berlangsung. Gereja selalu dipanggil untuk memperbarui diri, bertobat, dan kembali kepada sumbernya.

Kata berikutnya adalah catholicam, yang berarti katolik atau universal. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani katholikos yang berarti menyeluruh atau mencakup semuanya.

Sejak masa awal, Gereja memahami dirinya sebagai komunitas yang terbuka bagi semua bangsa. Pesan Injil tidak dibatasi oleh ras, budaya, bahasa, ataupun wilayah geografis.

Karena itu, iman Kristen berkembang melintasi berbagai peradaban. Dari Timur Tengah, ia menyebar ke Eropa, Afrika, Asia, hingga Amerika. Dalam setiap wilayah, Injil diterjemahkan ke dalam bahasa dan budaya setempat.

Di sinilah letak kekayaan Gereja yang katolik. Ia tidak memaksakan satu budaya tunggal, tetapi mampu berdialog dengan berbagai kebudayaan manusia.

Gereja menjadi ruang perjumpaan yang luas, tempat berbagai bangsa dapat berbagi iman yang sama.

Apostolicam – Gereja yang Berakar pada Para Rasul

Kata terakhir dalam rumusan iman tersebut adalah apostolicam, yang berarti apostolik. Istilah ini menunjuk pada hubungan langsung Gereja dengan para rasul.

Para rasul adalah murid-murid yang dipilih dan diutus oleh Yesus untuk mewartakan Injil. Mereka menjadi saksi utama kehidupan, wafat, dan kebangkitan Kristus.

Kesaksian para rasul inilah yang menjadi fondasi iman Kristen. Gereja percaya bahwa ajaran yang benar harus tetap setia pada kesaksian para rasul tersebut.

Untuk menjaga kesinambungan ini, Gereja mengenal konsep suksesi apostolik. Para uskup dipandang sebagai penerus pelayanan para rasul melalui penumpangan tangan dalam tradisi penahbisan.

Melalui proses ini, rantai kepemimpinan Gereja diteruskan dari generasi ke generasi. Suksesi ini bukan sekadar garis sejarah. Ia merupakan simbol kesetiaan Gereja terhadap iman yang diwariskan sejak awal.

Dengan kata lain, Gereja tidak menciptakan ajaran baru yang terlepas dari sumbernya. Gereja menjaga dan meneruskan iman yang sama yang telah dipercayakan kepada para rasul.

Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik

Rumusan Credo in unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam merupakan salah satu pernyataan iman yang paling ringkas namun paling padat makna dalam tradisi Kristen.

Empat kata yang disebutkan di dalamnya merangkum identitas Gereja dalam sejarah.

  1. Gereja adalah satu, karena bersumber pada Allah yang satu.
  2. Gereja adalah kudus, karena dipanggil hidup dari kekudusan Kristus.
  3. Gereja adalah katolik, karena pesannya terbuka bagi seluruh umat manusia.
  4. Gereja adalah apostolik, karena imannya berakar pada kesaksian para rasul.

Selama hampir dua ribu tahun, rumusan iman ini terus diucapkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Ia menjadi pengingat bahwa Gereja bukan sekadar lembaga manusia. 

Gereja adalah persekutuan iman yang lahir dari pengalaman manusia bertemu dengan Allah yang hidup.

Dan setiap kali umat beriman mengucapkan Syahadat itu, mereka sebenarnya sedang mengulangi keyakinan yang sama yang diungkapkan oleh Gereja perdana.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org