Uskup Agung Socrates B. Villegas Mengajak Para Guru Katolik Menjadikan "Tanda Salib" sebagai Tanda Pengakuan Iman yang Hidup
| Uskup Agung Socrates B. Villegas. Dok. Donimican Order,OP/wikipedia. |
Oleh Sr. Charito A. Quinones, OP
Tanda Salib adalah jalan bagi hidup iman seorang Katolik. Karena itu, setiap kali bangun pagi, atau melakukan (pekerjaan) apa saja, bikinlah tanda kemenangan Kristus.
Tanda Salib adalah gerak paling awal yang dipelajari seorang Katolik.
Tanda Salib diajarkan sejak kecil, diulang setiap hari, dan menyertai hampir seluruh ritme hidup: sebelum keluar rumah, sebelum dan sesudah makan, di awal rapat, dalam pertemuan-pertemuan, dan terutama ketika orang masuk ke dalam doa.
Jika sering dilakukan, Tanda Salib kerap berubah menjadi kebiasaan tubuh semata. Tangan bergerak, mulut berucap, tetapi kesadaran tertinggal di belakang. Bukan karena umat tidak beriman, melainkan karena yang suci kadang terlalu dekat, sehingga tak lagi dihayati.
Padahal, Tanda Salib bukan sekadar pembuka doa. Ia adalah ringkasan iman Kristiani yang paling padat. Ia adalah teologi yang ditulis di tubuh manusia. Setiap geraknya menyimpan makna. Setiap sentuhannya adalah pengakuan iman. Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: apa sesungguhnya yang kita ucapkan dan kita serahkan ketika kita membuat Tanda Salib.
Penyegaran Para Guru Katolik di Keuskupan Agung Lingayen–Dagupan
Pertanyaan inilah yang dihidupkan kembali dalam retret tahunan para guru Katolik di Keuskupan Agung Lingayen–Dagupan.
Dalam suasana hening dan reflektif, Uskup Agung Socrates B. Villegas mengajak para guru untuk berhenti sejenak, menoleh ke gerak Tanda Salib yang paling akrab itu, dan memaknainya kembali. Ia tidak berbicara tentang teori yang rumit. Ia justru memulai dari hal yang sangat sederhana, hampir remeh: tangan apa yang kita gunakan untuk membuat Tanda Salib.
Jawaban para guru datang serempak. Tangan kanan. Dari jawaban itu, Uskup Agung mengajak mereka masuk lebih dalam.
Dalam tradisi Kitab Suci dan iman Kristiani, tangan kanan adalah simbol kuasa, kehormatan, dan martabat. Dan martabat itu, tegasnya, tidak berasal dari jabatan, gelar, atau pengakuan sosial, melainkan dari Allah sendiri. Memiliki Allah dalam hidup berarti hidup dalam martabat yang sejati.
Ketika tangan kanan menyentuh dahi dan kita mengucapkan, “Dalam nama Bapa,” sesungguhnya kita sedang membuat pengakuan yang sangat personal: akal budi ini milik Allah.
Dahi melambangkan pusat pikiran, tempat belajar, tempat manusia bertanya dan mencari makna. Menyerahkan akal kepada Allah berarti bersedia untuk terus dibentuk, terus belajar, dan tidak pernah merasa selesai. Kekudusan, dalam terang ini, bukanlah hasil dari kesalehan instan, melainkan buah dari proses pembelajaran yang panjang dan setia.
Uskup Agung Socrates B. Villegas mengaitkan hal ini dengan panggilan para guru. Seorang dokter yang berhenti belajar, katanya, mempertaruhkan nyawa pasien. Seorang insinyur yang berhenti belajar, mempertaruhkan keselamatan banyak orang. Dan seorang guru yang berhenti belajar bukan hanya mempertaruhkan masa depan murid, tetapi juga arah hidup mereka, bahkan relasi mereka dengan Tuhan. Guru Katolik yang menyerahkan akalnya kepada Bapa adalah guru yang terus belajar, bukan semata-mata agar pintar mengajar, melainkan agar mampu mengasihi dengan lebih dewasa dan bertanggung jawab.
Dari dahi, tangan kemudian bergerak turun ke dada. Di sanalah hati berada. Jika dahi melambangkan akal yang dipersembahkan kepada Bapa, maka dada melambangkan hati yang dipersembahkan kepada Putra. Yesus Kristus adalah kasih yang menjelma, kasih yang tidak berhenti di kata-kata, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya. Mengucapkan “dan Putra” sambil menyentuh dada berarti mengakui bahwa pusat kasih, empati, dan relasi kita diarahkan kepada Kristus.
Bagi seorang guru Katolik, Tanda Salib ini adalah pengakuan yang menentukan. Mengajar bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah pekerjaan hati. Mengajar dalam nama Putra berarti mengajar dengan kasih yang sabar, dengan kesetiaan, dan dengan kerelaan untuk berkorban. Menyiapkan pelajaran dengan sungguh-sungguh, memperhatikan murid satu per satu, dan tetap setia di tengah kelelahan bukan sekadar tuntutan profesional. Semua itu adalah wujud konkret dari kasih yang diajarkan Kristus.
Guru yang mengajar dengan hati tidak hanya memindahkan pengetahuan. Ia membentuk manusia. Ia menanamkan cara mencintai kebenaran, cara menghormati sesama, dan cara menempatkan Allah di pusat kehidupan. Jejak seperti ini sering kali tinggal jauh lebih lama daripada hafalan atau nilai ujian.
Gerak terakhir Tanda Salib membawa tangan ke bahu. Bahu adalah simbol beban dan tanggung jawab. Di sanalah salib dipanggul. Jika akal diserahkan kepada Bapa dan hati kepada Putra, maka bahu melambangkan hidup konkret yang digerakkan oleh Roh Kudus. Iman tidak berhenti pada apa yang dipikirkan dan dirasakan, tetapi harus menjelma dalam tindakan.
Uskup Agung Socrates B. Villegas menegaskan bahwa cara mengajar yang paling kuat adalah teladan hidup. Mengutip Fransiskus dari Asisi, ia mengingatkan bahwa Injil diberitakan pertama-tama melalui hidup, kata-kata hanya menyusul bila perlu.
Dalam terang ini, guru Katolik dipanggil bukan hanya untuk mengajar dengan kata-kata, tetapi untuk menghadirkan iman melalui sikap, integritas, dan kesediaan mendampingi murid dalam perjalanan hidup mereka.
Makna dan kuasa "Amin" yang diucapkan
Ketika kedua tangan akhirnya disatukan dan kata “Amin” diucapkan, Tanda Salib mencapai puncaknya. Amin berarti “ya”. Ya kepada Allah. Ya kepada panggilan. Ya kepada tanggung jawab. Ya kepada salib-salib kecil yang harus dipanggul setiap hari.
"Amin" bukan sekadar penutup doa, melainkan persetujuan batin atas seluruh hidup yang diserahkan.
Dengan demikian, Tanda Salib bukan lagi kebiasaan kosong. Ia menjadi spiritualitas yang menata seluruh hidup seorang guru Katolik.
Setiap kali dibuat dengan sadar, Tanda Salib menjadi pembaruan komitmen: untuk berpikir dalam terang Bapa, mengasihi dengan hati Putra, dan bertindak dalam kekuatan Roh Kudus.
Dan setiap "Amin" yang diucapkan diharapkan tidak berhenti di bibir, melainkan menjelma dalam cara mengajar, cara berelasi, dan cara hidup sehari-hari.
AMIN.