SUPERSESIONISME: Proyeksi Sejarah Masa Lalu Tante Loya dan Tuan Lodowik kepada Gereja Katolik
Oleh P Jack Dambe CjdProyeksi Sejarah Masa Lalu Tante Loya dan Tuan Lodowik kepada Gereja Katolik. Ist.
Membaca narasi Tante Loya yang ternyata juga mendapat validasi dan dukungan dari Pendeta John Lodowik David, dalam tulisan sebagaimana yang tertera pada picture tangkapan layar.
Mari kita sebut saja mereka Duo LL (Loya dan Lodowik), rasanya persis seperti sedang menonton sekuel terbaru film The Da Vinci Code. Penuh dengan trik murahan, konspirasi epik, dramatisasi sejarah, dan tentu saja, cocoklogi tingkat dewa. Nyonya Loya dan Tuan Lodowik ini tampaknya sangat bersemangat membongkar "kejahatan" Gereja Katolik Roma, sampai-sampai mereka lupa berkaca.
Tuduhan supersesionisme dan narasi kekejaman yang dilemparkan Duo LL ini ibarat aksi bunuh diri historis. Mengapa? Karena Nyonya dan Tuan ini pada dasarnya sedang memproyeksikan dosa tradisi dan trauma sejarah mereka sendiri ke halaman rumah Vatikan. Mari kita bawa narasi konspirasi Duo LL ini ke "ruang sidang" akal sehat, di mana sejarah faktual tidak ditulis berdasarkan sentimen anti-Katolik yang dibalut romantisasi naskah kuno.
1. St. Agustinus Sang "Super Villain" dan Doktrin Saksi
Tuduhan Duo LL: Agustinus menciptakan "Doktrin Saksi" murni sebagai mesin penindasan kejam agar orang Yahudi hidup miskin dan hina sebagai monumen murka Tuhan.
Jawab: Agustinus dari Hippo sering kali digambarkan oleh kritikus modern seolah-olah ia sedang duduk di kursi goyang sambil mengelus kucing putih dan merencanakan kehancuran Yahudi. Padahal, dalam konteks abad ke-5, "Doktrin Saksi" (Testimonium Veritatis) justru adalah argumen teologis yang melindungi orang Yahudi dari pembantaian.
Ketika banyak orang di Kekaisaran Romawi ingin melenyapkan orang Yahudi secara fisik karena dianggap musuh, Agustinus maju dan berkata: "Jangan sentuh mereka! Biarkan mereka hidup, karena keberadaan dan kitab suci mereka adalah bukti bahwa nubuat Perjanjian Lama itu asli.
" Ya, bahasanya terdengar keras untuk telinga abad ke-21 (karena ini abad ke-5, bukan era LSM Hak Asasi Manusia), tetapi secara faktual, doktrin inilah yang memastikan komunitas Yahudi bertahan hidup di Eropa Kristen selama lebih dari seribu tahun. Mengingat Gereja Katolik Roma tidak pernah mengeluarkan dokumen resmi (Magisterium) yang melegalkan pemusnahan ras Yahudi, menyebut pelestarian ini sebagai "pencurian identitas" sama lucunya dengan menuduh seorang kurator museum mencuri tulang dinosaurus karena ia memajangnya.
2. Tragedi "Penyanderaan Teks" dan Monopoli Vulgata Latin
Tuduhan Duo LL: Gereja mengunci Alkitab dalam bahasa Latin (Vulgata) untuk membunuh bahasa Ibrani dan memutus umat dari akar aslinya.
Jawab: Ini mungkin bagian paling komedi dari seluruh tulisan Tante Loya. Mereka lupa atau mungkin bolos di kelas Sejarah Gereja 101 tentang siapa yang menerjemahkan Vulgata: St. Hieronimus (Jerome). Apa yang dilakukan Hieronimus pada akhir abad ke-4? Ia pindah ke Betlehem, berteman dengan para rabi Yahudi, dan belajar bahasa Ibrani secara mendalam!
Hieronimus bersikeras menerjemahkan Perjanjian Lama langsung dari teks Ibrani (Hebraica Veritas), mengabaikan terjemahan Yunani (Septuaginta) yang saat itu lebih populer, justru untuk memastikan keakuratannya dengan teks asli Yahudi.
Lalu kenapa bahasa Latin? Karena "Vulgata" berasal dari kata vulgus, yang artinya "bahasa rakyat awam". Latin adalah bahasa pergaulan internasional saat itu (seperti bahasa Inggris sekarang). Gereja tidak sedang menyandera teks; Gereja justru sedang menerjemahkannya ke bahasa yang dimengerti 90% warga Kekaisaran Romawi!
3. Martin Luther Sang "Pahlawan Ibrani", Misteri 7 Kitab, dan Fakta Kelam Antisemitisme
Tuduhan Duo LL: Protestan membuang 7 kitab Deuterokanonika untuk "membersihkan lensa" dan mengembalikan Israel yang asli, menolak tradisi Latin. Luther dan Reformator adalah pahlawan yang mencintai akar Ibrani.
Jawab: Di sinilah senjata makan tuan dari narasi Duo LL meledak. Mengklaim Luther membuang 7 kitab tersebut demi "cinta pada Israel" adalah lompatan logika yang bisa bikin atlet lompat galah patah pinggang. Fakta sejarahnya: 7 kitab itu (Makabe, Tobit, dll) sudah ada di dalam Septuaginta, Alkitab berbahasa Yunani yang dibaca oleh orang-orang Yahudi di Diaspora pada zaman Yesus dan para Rasul.
Gereja Katolik melestarikan kitab-kitab yang dibaca oleh orang Yahudi abad pertama, lalu bapak-bapak Reformator membuangnya murni karena kitab-kitab itu mendukung teologi Katolik (seperti doa untuk orang mati di Makabe), dan sekarang Katolik yang dituduh memanipulasi teks? Nalar yang sangat luar biasa akrobatik.
Lebih parah lagi, menjadikan Luther sebagai ikon "pencinta naskah Ibrani dan Israel" adalah sebuah ironi berdarah. Duo LL menuduh Gereja Katolik Roma anti-Semit, padahal Gereja Katolik hanya memiliki catatan polemik anti-Yudaisme (yang merupakan tafsir teologis antar-agama), bukan antisemitisme rasial.
Sebaliknya, mari kita lihat bapak Reformasi pujaan Duo LL. Martin Luther sangat jelas dan vulgar memamerkan antisemitisme rasial melalui tulisan-tulisannya, terutama bukunya On the Jews and Their Lies (Tentang Orang Yahudi dan Kebohongan Mereka), di mana ia menyarankan agar sinagoga dibakar dan rumah orang Yahudi dihancurkan. Sentimen keras juga bisa dilacak pada tokoh reformasi lain seperti Calvin dan Zwingli.
Bukankah sebuah tragedi sejarah bahwa tulisan Luther inilah yang sering dikutip, dicetak ulang, dan dijadikan alat propaganda oleh rezim Nazi pada abad ke-20 untuk membenarkan penganiayaan Holocaust? Nazi dengan bangga mengklaim bahwa Luther adalah pahlawan nasional Jerman yang paling awal memahami "bahaya Yahudi".
Jangan lupakan juga sejarah kelam munculnya gerakan Deutsche Christen (Kristen Jerman) di bawah rezim Nazi, sebuah faksi beraliran Protestan yang sangat pro-antisemit, yang bahkan mencoba "membersihkan" Kekristenan dari segala unsur Yahudi (termasuk membuang Perjanjian Lama). Jadi, Tante Loya dan Pendeta Lodowik salah alamat besar. Sebaiknya jangan proyeksikan trauma sejarah dan kejahatan tradisi masa lalu Anda sendiri kepada Gereja Katolik.
4. Plot Twist Qumran (Gulungan Laut Mati) Menampar Roma
Tuduhan Duo LL: Penemuan naskah Qumran membungkam Roma dan menunjukkan Gereja Katolik telah memalsukan sejarah dan mengklaim hak waris Israel.
Jawab: Duo LL bertepuk tangan kegirangan atas penemuan Qumran seolah-olah itu menjatuhkan Vatikan. Padahal, tahukah mereka siapa sarjana-sarjana utama yang memimpin ekskavasi, menerjemahkan, dan mempublikasikan Gulungan Laut Mati dari Gua Qumran untuk pertama kalinya? Para imam Katolik Roma! Khususnya Pater Roland de Vaux dari École Biblique (Sekolah Alkitab Katolik Prancis di Yerusalem). Vatikan tidak gemetar melihat naskah itu, para pastor Katolik justru yang merapikan serpihan-serpihannya dengan pinset dan kaca pembesar!
Selain itu, komunitas Qumran (Essenes) adalah sekte Yahudi yang sangat eskatologis dan membenci institusi Bait Allah di Yerusalem saat itu. Mereka menganggap diri mereka sebagai "sisa Israel yang benar" dan mengutuk Yahudi arus utama. Menggunakan naskah kelompok anti-kemapanan Yahudi abad pertama untuk membela Yudaisme modern melawan Katolik adalah ironi sejarah yang menunjukkan Tante Loya dan Pendeta Lodowik sangat kurang piknik literasi.
5. Senam Penafsiran Ayat (Yeremia, Mazmur, Amos, Malakhi)
Mari kita lihat "ruang sidang" tekstual Duo LL yang penuh dengan cherry-picking:
• Yeremia 31 (Perjanjian Baru): Duo LL protes tentang Novum Testamentum (Perjanjian Baru). Tapi yang bilang ini "Perjanjian Baru" bukan Paus di Roma, melainkan Yesus sendiri, seorang Yahudi tulen, pada Perjamuan Malam Terakhir: "Cawan ini adalah perjanjian baru (Kaine Diatheke) yang dimeteraikan oleh darah-Ku" (Lukas 22:20). Jika Tante Loya marah pada konsep Perjanjian Baru yang "menggantikan/memperbaharui", ia sedang memarahi Kristus, bukan Roma.
• Amos 9:11-12 (Manipulasi Septuaginta): Tante Loya menuduh Gereja Katolik menyukai versi Septuaginta yang mengubah kata "Edom" menjadi "manusia/bangsa-bangsa" untuk menyingkirkan Israel secara fisik. Fakta mengejutkan: Rasul Yakobus (Uskup pertama Yerusalem, orang Yahudi asli) mengutip Amos 9 versi Septuaginta ini dalam Konsili Yerusalem (Kisah Para Rasul 15:16-17) untuk membenarkan bahwa bangsa-bangsa non-Yahudi diterima dalam keselamatan! Jadi, yang dituduh "memanipulasi" ayat Ibrani di sini adalah para Rasul sendiri.
• Malakhi 1:11: Mengatakan bahwa Katolik "mencuri" ini untuk Misa Kudus adalah mengabaikan dokumen kuno Didache (ditulis sekitar tahun 70-100 M oleh komunitas Kristen Yahudi awal). Didache sudah mengaplikasikan ayat Malakhi ini untuk perayaan Ekaristi berabad-abad sebelum Gereja Roma menjadi institusi kekaisaran yang besar.
6. Geografi "Palestina" dan Pencurian Nama
Tuduhan Duo LL: Gereja Roma melestarikan nama "Palestina" dari Hadrianus untuk menghapus memori Israel.
Jawab: Kaisar Hadrianus mengubah nama Yudea menjadi Syria Palaestina pada tahun 135 M setelah pemberontakan Bar Kokhba. Saat itu, Gereja Katolik purba masih sibuk bersembunyi di katakombe, dikejar-kejar, dan dijadikan umpan singa di Colosseum. Mereka belum punya waktu, apalagi otoritas politik, untuk memesan peta ke ahli kartografi Kekaisaran Romawi! Gereja kemudian menggunakan nama "Palestina" sekadar karena itulah nama geografis resmi wilayah tersebut secara hukum internasional selama belasan abad, bukan karena konspirasi spiritual ala sekte bayangan untuk "menghapus Israel dari GPS rohani".
Kesimpulan untuk Duo LL:
Tulisan ini sangat puitis, Tante Loya dan Pendeta Lodowik, namun sayangnya dibangun di atas anakronisme parah dan kebutaan akan sejarah. Kekristenan tidak "mencuri" identitas Israel; Kekristenan purba adalah sekte Yahudi yang meyakini bahwa janji-janji kepada Israel telah digenapi dalam Sang Mesias Yahudi bernama Yesus, dan melalui Dia, berkat Israel diperluas ke seluruh dunia.
Tante Loya dan Lodowik tidak sedang menulis sejarah, melainkan sedang merakit bom rakitan dari rongsokan cocoklogi yang justru meledak di tangan sendiri. Menuduh Katolik melakukan supersesionisme sambil memuja tradisi Reformasi yang catatan antisemitisme rasialnya begitu vulgar, bahkan menjadi inspirasi favorit rezim Nazi, adalah puncak komedi intelektual. Nyonya dan Tuan sibuk menggugat "pencurian identitas" di Roma, padahal sedang berdiri di atas puing-puing tradisi yang secara historis mencoba menghapus jejak Yahudi lewat gerakan Deutsche Christen.
Berhentilah memproyeksikan trauma dan dosa sejarah masa lalu Anda ke Vatikan. Narasi tante dan tuan bukan "menelanjangi" Katolik, melainkan memperlihatkan bahwa Anda berdua sedang "telanjang" nalar di tengah pasar sejarah faktual. Lucu, tapi miris.