Antara Halusinasi Sejarah dan Amnesia Selektif Mak Loya Latoya
Oleh P Jack Dambe Cjd
Kali ini membaca narasi tante Loya yang berjudul: “Tawanan Vatikan: Drama Merajuk di Balik Tembok Emas, seperti menonton film dokumenter yang narasinya ditulis oleh orang yang belajar sejarah hanya dari kolom komentar media sosial.
Kali ini membaca narasi tante Loya yang berjudul: “Tawanan Vatikan: Drama Merajuk di Balik Tembok Emas, seperti menonton film dokumenter yang narasinya ditulis oleh orang yang belajar sejarah hanya dari kolom komentar media sosial.
Begitu dramatis, begitu emosional, dan sayangnya begitu kosong dari pemahaman hukum internasional. Kamu menyebut Vatikan "merajuk"? Mari kita luruskan sedikit logika "warung kopi" yang kamu gunakan ini sebelum kita masuk ke bagian yang lebih "berdarah".
Paus Pius IX bukan sedang "merajuk". Ia sedang mempertahankan independensi spiritual. Dalam dunia nyata (bukan dunia imajinasi Loya), jika Paus menjadi warga negara Italia, maka setiap ensiklik dan keputusannya akan dicurigai sebagai pesanan politik Pemerintah Italia. Status "Tawanan Vatikan" adalah cara Gereja berkata kepada dunia: "Kami tidak bisa dibeli oleh nasionalisme sempit Italia." Tanpa status kedaulatan itu, Gereja Katolik hanya akan menjadi "Gereja Nasional" seperti yang terjadi pada saudara-saudara kita di Inggris atau Jerman, yang ups ternyata jauh lebih haus darah dan tunduk pada sepatu bot raja-raja mereka.
Klaim teritorial Paus pada 1870 didasarkan pada hukum internasional yang berlaku selama seribu tahun. Tapi tentu saja, riset mendalam seperti itu terlalu membosankan untuk narasi "drama merajuk" yang ingin tante Loya jual, bukan?
Jika kamu benci "kontrol absolut" Vatikan, mari kita lihat bagaimana para tokoh Reformasi bermain dengan kekuasaan:
• Martin Luther dan Pembantaian Petani: Ketika petani di Jerman bangkit melawan penindasan feodal pada 1524, apa yang dilakukan si "pahlawan Reformasi" ini? Alih-alih membela yang miskin, ia menulis pamflet berjudul "Melawan Gerombolan Petani yang Merampok dan Membunuh". Ia memerintahkan para pangeran Jerman untuk "menusuk, memukul, dan mencekik mereka (para petani) secara diam-diam maupun terang-terangan". Hasilnya? Sekitar 100.000 petani dibantai. Vatikan mungkin memungut pajak, tapi Luther memberikan restu teologis untuk pembantaian massal demi menjilat para pangeran Jerman. Siapa yang lebih "haus darah" sekarang?
• Teokrasi Berdarah Jean Calvin di Jenewa: Kamu menyebut Vatikan "penjara"? Kamu belum pernah tinggal di Jenewa di bawah Calvin. Di sana, tidak pergi ke gereja adalah kejahatan. Menari adalah dosa berat. Dan jangan lupa Michael Servetus, yang dibakar hidup-hidup hanya karena berbeda pendapat teologis dengan Calvin. Vatikan setidaknya punya prosedur inkuisisi yang Panjang, tetapi di bawah "Reformasi" Calvin, kamu bisa mati hanya karena terlihat terlalu bahagia di hari Minggu.
• Henry VIII dan Penjarahan Biara: Kamu mengeluh soal "gudang emas" Vatikan?
1. "Penjara" atau Kedaulatan? (Sebuah Pelajaran Dasar untuk Pemula)
Kamu tertawa melihat Paus yang mengunci diri di "istana mewah" dan menyebutnya drama. Lucu, ya? Tapi mari kita gunakan analogi yang sesuai dengan level pemahamanmu: Jika preman lokal mendobrak pintu rumahmu, merampas ruang tamu, dapur, dan kamar tidurmu, lalu menyisakan kamu hanya di dalam kamar mandi sambil berkata, "Hei, ini saya beri uang saku bulanan, tapi sekarang kamu adalah bawahanku," apakah kamu akan keluar sambil menari balet?Paus Pius IX bukan sedang "merajuk". Ia sedang mempertahankan independensi spiritual. Dalam dunia nyata (bukan dunia imajinasi Loya), jika Paus menjadi warga negara Italia, maka setiap ensiklik dan keputusannya akan dicurigai sebagai pesanan politik Pemerintah Italia. Status "Tawanan Vatikan" adalah cara Gereja berkata kepada dunia: "Kami tidak bisa dibeli oleh nasionalisme sempit Italia." Tanpa status kedaulatan itu, Gereja Katolik hanya akan menjadi "Gereja Nasional" seperti yang terjadi pada saudara-saudara kita di Inggris atau Jerman, yang ups ternyata jauh lebih haus darah dan tunduk pada sepatu bot raja-raja mereka.
2. Donasi Konstantin: Argumen Usang yang Masih Digali?
Sungguh menggemaskan melihatmu masih terus saja mengangkat isu Donatio Constantini. Sebagaimana yang saya sudah jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya, Gereja sendiri sudah mengakui dokumen itu palsu sejak abad ke-15 melalui penelitian Lorenzo Valla? Yang membongkar itu adalah orang dari dalam sendiri yang diberi applaus, bukan orang orang luar dari Gereja Katolik. Menyebut "Tawanan Vatikan" sebagai kelanjutan dokumen palsu itu seperti menuduh seseorang mencuri mobil pada tahun 2024 berdasarkan laporan kehilangan sepeda pada tahun 1400. Tidak nyambung, mak.Klaim teritorial Paus pada 1870 didasarkan pada hukum internasional yang berlaku selama seribu tahun. Tapi tentu saja, riset mendalam seperti itu terlalu membosankan untuk narasi "drama merajuk" yang ingin tante Loya jual, bukan?
3. Cermin untuk Sebelah: Mari Bicara Tentang "Gereja Reformasi"
Loya, kamu begitu bersemangat menyerang "kemegahan" Vatikan dan "kebebalan" kepausan. Mari kita alihkan pandangan sejenak ke para tokoh Reformasi yang sering dipuji sebagai "pembebas" namun ternyata memiliki rekam jejak yang membuat intrik Vatikan terlihat seperti pesta teh taman kanak-kanak.Jika kamu benci "kontrol absolut" Vatikan, mari kita lihat bagaimana para tokoh Reformasi bermain dengan kekuasaan:
• Martin Luther dan Pembantaian Petani: Ketika petani di Jerman bangkit melawan penindasan feodal pada 1524, apa yang dilakukan si "pahlawan Reformasi" ini? Alih-alih membela yang miskin, ia menulis pamflet berjudul "Melawan Gerombolan Petani yang Merampok dan Membunuh". Ia memerintahkan para pangeran Jerman untuk "menusuk, memukul, dan mencekik mereka (para petani) secara diam-diam maupun terang-terangan". Hasilnya? Sekitar 100.000 petani dibantai. Vatikan mungkin memungut pajak, tapi Luther memberikan restu teologis untuk pembantaian massal demi menjilat para pangeran Jerman. Siapa yang lebih "haus darah" sekarang?
• Teokrasi Berdarah Jean Calvin di Jenewa: Kamu menyebut Vatikan "penjara"? Kamu belum pernah tinggal di Jenewa di bawah Calvin. Di sana, tidak pergi ke gereja adalah kejahatan. Menari adalah dosa berat. Dan jangan lupa Michael Servetus, yang dibakar hidup-hidup hanya karena berbeda pendapat teologis dengan Calvin. Vatikan setidaknya punya prosedur inkuisisi yang Panjang, tetapi di bawah "Reformasi" Calvin, kamu bisa mati hanya karena terlihat terlalu bahagia di hari Minggu.
• Henry VIII dan Penjarahan Biara: Kamu mengeluh soal "gudang emas" Vatikan?
Mari bicara tentang Henry VIII dari Inggris. Ia memisahkan diri dari Roma bukan karena pencerahan spiritual, tapi karena ingin gonta-ganti istri dan merampas seluruh harta milik biara-biara di Inggris. Ia adalah "perampok suci" yang sebenarnya. Ia menggantung, memutilasi, dan menyiksa ribuan orang yang setia pada imannya hanya demi mengisi kas kerajaan yang kosong. Dan orang seperti ini mendapat karpet merah dalam arus reformasi.
Vatikan menerima kesepakatan itu untuk mengakhiri kebuntuan yang merugikan umat. Dan soal "merestui fasisme"? Kamu mungkin lupa (atau pura-pura lupa) bahwa hanya dua tahun kemudian, Paus Pius XI mengeluarkan ensiklik Non Abbiamo Bisogno yang mengutuk ideologi Fasisme sebagai "paganisme yang menyembah negara".
Mari kita bandingkan dengan Gereja Reich (Reichskirche) di Jerman. Sebagian besar Gereja Protestan di sana saat itu justru memberikan dukungan total kepada Adolf Hitler, bahkan mencoba menghapus pengaruh Yahudi dari Alkitab. Mereka menyebut Hitler sebagai "utusan Tuhan". Jadi, jika kamu ingin mencari institusi yang benar-benar "merestui rezim haus darah," arahkan telunjukmu sedikit lebih ke utara dari Roma.
Dana tersebut digunakan untuk membiayai misi diplomatik Vatikan di seluruh dunia, yang seringkali menjadi satu-satunya suara bagi kaum tertindas di negara-negara diktator yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Barat. Dana itu membangun rumah sakit, sekolah, dan dapur umum di pelosok bumi yang bahkan tidak bisa ditemukan oleh Mak Loya Latoya di peta.
Tentu saja, jauh lebih mudah menulis tentang "sel mewah" daripada mengakui bahwa tanpa kemandirian finansial ini, Gereja akan menjadi budak dari donor-donor korporat atau negara-negara adidaya.
Justru dengan menjadi "tawanan", Kepausan kehilangan beban sebagai "Raja Duniawi" dan bertransformasi menjadi Otoritas Moral Global. Saat para raja dan kaisar yang meruntuhkan tembok Roma itu kini hanya menjadi nama-nama di buku sejarah yang berdebu, sementara "Tawanan" yang kamu ejek itu tetap berdiri kokoh sampai hari ini.
Ketika tentara nasionalis Italia masuk, mereka mengira telah membunuh institusi kepausan. Ternyata, mereka justru membebaskannya dari urusan administrasi selokan dan pajak pasar, memungkinkannya untuk fokus pada misi spiritual universal. Ini namanya apa? Ada tangan tak terlihat bekerja dibalik layar, itulah yang disebut penyelenggaraan Ilahi. Hehe.
4. Pakta Lateran dan Mussolini: Transaksi atau Strategi Bertahan Hidup?
Mak Loya menyebut Pakta Lateran 1929 sebagai "transaksi serasi antara dua pihak yang mencintai kontrol absolut." Oh, betapa naifnya.Vatikan menerima kesepakatan itu untuk mengakhiri kebuntuan yang merugikan umat. Dan soal "merestui fasisme"? Kamu mungkin lupa (atau pura-pura lupa) bahwa hanya dua tahun kemudian, Paus Pius XI mengeluarkan ensiklik Non Abbiamo Bisogno yang mengutuk ideologi Fasisme sebagai "paganisme yang menyembah negara".
Mari kita bandingkan dengan Gereja Reich (Reichskirche) di Jerman. Sebagian besar Gereja Protestan di sana saat itu justru memberikan dukungan total kepada Adolf Hitler, bahkan mencoba menghapus pengaruh Yahudi dari Alkitab. Mereka menyebut Hitler sebagai "utusan Tuhan". Jadi, jika kamu ingin mencari institusi yang benar-benar "merestui rezim haus darah," arahkan telunjukmu sedikit lebih ke utara dari Roma.
5. Peter’s Pence: "Penipuan Emosional" atau Solidaritas Global?
Mak Loya menyebut Peter’s Pence sebagai pemerasan terhadap orang miskin untuk membiayai gaya hidup mewah. Narasi yang klasik, namun basi.Dana tersebut digunakan untuk membiayai misi diplomatik Vatikan di seluruh dunia, yang seringkali menjadi satu-satunya suara bagi kaum tertindas di negara-negara diktator yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Barat. Dana itu membangun rumah sakit, sekolah, dan dapur umum di pelosok bumi yang bahkan tidak bisa ditemukan oleh Mak Loya Latoya di peta.
Tentu saja, jauh lebih mudah menulis tentang "sel mewah" daripada mengakui bahwa tanpa kemandirian finansial ini, Gereja akan menjadi budak dari donor-donor korporat atau negara-negara adidaya.
6. "Tawanan" yang Menang Melawan Waktu
Kamu menutup tulisanmu dengan menyebut periode ini sebagai "monumen bagi kebebalan." Namun, sejarah berkata lain.Justru dengan menjadi "tawanan", Kepausan kehilangan beban sebagai "Raja Duniawi" dan bertransformasi menjadi Otoritas Moral Global. Saat para raja dan kaisar yang meruntuhkan tembok Roma itu kini hanya menjadi nama-nama di buku sejarah yang berdebu, sementara "Tawanan" yang kamu ejek itu tetap berdiri kokoh sampai hari ini.
Ketika tentara nasionalis Italia masuk, mereka mengira telah membunuh institusi kepausan. Ternyata, mereka justru membebaskannya dari urusan administrasi selokan dan pajak pasar, memungkinkannya untuk fokus pada misi spiritual universal. Ini namanya apa? Ada tangan tak terlihat bekerja dibalik layar, itulah yang disebut penyelenggaraan Ilahi. Hehe.
Kesimpulan untuk mak Loya
Narasimu itu "Drama Merajuk" yang kamu bangun hanyalah bentuk narsisme intelektualmu sendiri, demi cuan FB Pro.Kamu mencoba mengadili masa lalu dengan kacamata sempit masa kini, sambil menutup mata terhadap borok-borok mengerikan di pihak lain yang kamu anggap "lebih maju" atau "lebih sekuler".
Dunia tidak "sudah lama pulang" dari teater ini.
Dunia tidak "sudah lama pulang" dari teater ini.
Faktanya, Vatikan masih menjadi pusat gravitasi bagi 1,4 miliar manusia, sebentar lagi akan jadi 1,5 miliar manusia. Sementara Lembaga yang kamu wakili, sampai hari ini terus beramoeba, membelah diri dalam sekte-sekte. Hari ini sudah mendekati 50 ribuan sekte, sebentar lagi 60.000. hebat kan…
Sejarah mencatat status "Tawanan" bukan sebagai bentuk "merajuk", melainkan sebagai perlawanan elegan terhadap arogansi negara-bangsa yang ingin menelan agama ke dalam perut politiknya. Jika kamu menyebutnya "penipuan emosional," maka saya sebut tulisanmu sebagai "malpraktik sejarah."
NB. Terus aja halu dalam tulisanmu tante, seperti kata saya sebelumnya saya tada di bok.
Sejarah mencatat status "Tawanan" bukan sebagai bentuk "merajuk", melainkan sebagai perlawanan elegan terhadap arogansi negara-bangsa yang ingin menelan agama ke dalam perut politiknya. Jika kamu menyebutnya "penipuan emosional," maka saya sebut tulisanmu sebagai "malpraktik sejarah."
NB. Terus aja halu dalam tulisanmu tante, seperti kata saya sebelumnya saya tada di bok.