Gereja Katolik dalam Kesatuan dengan Tradisi, Magisterium, dan Paus sebagai Penerus Tahta Petrus

Gereja Katolik dalam Kesatuan dengan Tradisi, Magisterium, dan Paus sebagai Penerus Tahta Petrus
Gereja Katolik hidup dari dan dalam Kitab suci Tradisi SuciMagisterium yang hidup, dan pelayanan Petrus dari masa ke masa.

Oleh Sr. Felicia Tesalonika

Gereja Katolik berdiri sebagai satu kesatuan yang hidup dan tak terpisahkan, yang dibangun di atas tiga pilar ilahi: Tradisi Suci, Magisterium yang hidup, dan pelayanan Petrus yang diteruskan dalam diri Paus. 

Ketiga elemen ini bukanlah tambahan manusiawi, melainkan anugerah Kristus sendiri untuk menjaga, menyampaikan, dan menafsirkan Wahyu Ilahi secara autentik hingga akhir zaman.

 Sebagaimana diajarkan dalam Dei Verbum Konsili Vatikan II, Tradisi Suci dan Kitab Suci membentuk “satu depositum suci Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja”. 

Magisterium melayani depositum ini tanpa menjadi tuannya, sementara Paus sebagai penerus Santo Petrus menjadi “prinsip dan dasar yang kekal serta kelihatan bagi kesatuan” baik para Uskup maupun seluruh umat beriman (Lumen Gentium 23). 

Artikel ini akan membahas ketiga pilar tersebut melalui tiga subjudul yang sesuai dengan konsep kesatuan: 

(1) Tradisi Suci sebagai Warisan Apostolik yang Hidup; 

(2) Magisterium sebagai Guru yang Melayani Kebenaran; dan 

(3) Paus sebagai Penerus Tahta Petrus, Pilar Kesatuan yang Terlihat. Pembahasan ini didasarkan pada dokumen resmi Gereja, ajaran Bapa-bapa Gereja, serta pemikiran teolog terkemuka seperti Scott Hahn dan Joseph Ratzinger (Benediktus XVI), untuk menunjukkan bagaimana ketiganya saling mengikat dalam satu kesatuan organik yang merupakan misteri Gereja itu sendiri.

Tradisi Suci sebagai Warisan Apostolik yang Hidup dalam Kesatuan Gereja

Tradisi Suci (Sacra Traditio) bukanlah sekumpulan adat istiadat kuno, melainkan pewarisan hidup Sabda Allah yang diterima para Rasul dari Kristus dan Roh Kudus, kemudian disampaikan secara utuh kepada generasi berikutnya. Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 76 menegaskan bahwa Tradisi ini “berasal dari para Rasul dan menyampaikan apa yang mereka terima dari ajaran dan teladan Yesus serta apa yang mereka pelajari dari Roh Kudus”. 

Tradisi ini berkembang dalam Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus, sehingga pemahaman tentang hal-hal yang diwariskan bertambah mendalam melalui perenungan, studi, dan pewartaan para Uskup (Dei Verbum 8).

Bapa-bapa Gereja awal sudah menyaksikan peran sentral Tradisi ini dalam menjaga kesatuan. Santo Irenaeus dari Lyons (†202), dalam Adversus Haereses III, 3,2, menulis: “Dengan [Gereja Roma] yang memiliki asal-usul yang unggul, semua Gereja harus setuju, dan di dalamnya umat beriman di seluruh dunia telah memelihara Tradisi Apostolik”. 

Bagi Irenaeus, Tradisi bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan kehidupan iman yang terwariskan melalui suksesi apostolik, yang melindungi Gereja dari ajaran sesat Gnostic. Demikian pula, Santo Ignatius dari Antiokhia (†107) dalam suratnya kepada umat Roma menekankan kesatuan yang hidup ini: “Gereja yang memimpin dalam kasih” (presiding in love), sebuah ungkapan yang menunjukkan bagaimana Tradisi apostolik mengikat semua komunitas lokal dalam satu ikatan kasih Kristus.

Scott Hahn, dalam berbagai karya dan ceramahnya tentang asal-usul Alkitabiah kepausan, menekankan bahwa Tradisi Suci adalah “transmisi hidup” yang melengkapi Kitab Suci. Menurut Hahn, Tradisi bukan saingan Kitab Suci, melainkan konteks hidup di mana Kitab Suci lahir dan ditafsirkan. Ia sering mengutip bagaimana para Rasul sendiri mewariskan ajaran “baik secara lisan maupun tulisan” (2 Tes 2:15). Joseph Ratzinger (kemudian Benediktus XVI) dalam Principles of Catholic Theology (1987) menjelaskan Tradisi sebagai “memoria Ecclesiae” – ingatan hidup Gereja yang membuat sejarah keselamatan tetap hadir di setiap zaman. Bagi Ratzinger, Tradisi bukan arsip mati, melainkan dialog terus-menerus antara Gereja dan Sabda Allah, yang menjamin kesatuan iman di tengah keragaman budaya.

Dalam kesatuan ini, Tradisi Suci menjadi jembatan antara masa lalu apostolik dan masa kini. Ia mencakup Credo, sakramen-sakramen, liturgi, dan ajaran moral yang diwariskan secara utuh. Tanpa Tradisi, Kitab Suci akan kehilangan konteksnya, sebagaimana ditegaskan Dei Verbum 10: “Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium Gereja... saling terhubung dan bergabung sedemikian rupa sehingga satu tidak dapat berdiri tanpa yang lain”. 

Dengan demikian, Tradisi Suci adalah fondasi kesatuan yang dinamis, yang menjaga Gereja tetap setia pada “iman yang pernah untuk selamanya diserahkan kepada orang-orang kudus” (Yud 1:3). Panjang pembahasan ini saja sudah menunjukkan betapa kaya dan mendalamnya warisan ini, yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari umat Katolik di seluruh dunia.

Magisterium sebagai Guru yang Hidup dan Penjaga Kebenaran

Magisterium (magisterium vivum) adalah otoritas mengajar resmi Gereja yang dipercayakan kepada Paus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya. KGK no. 85 menyatakan: “Tugas memberi tafsiran autentik atas Sabda Allah, baik yang tertulis maupun yang diwariskan, telah dipercayakan hanya kepada Magisterium yang hidup Gereja saja”. 

Magisterium bukanlah kekuasaan atas Sabda Allah, melainkan pelayan yang setia: “Ia mengajar hanya apa yang telah diwariskan kepadanya; ia menjaganya dengan bantuan Roh Kudus dan menjelaskannya dengan setia” (KGK 86; lihat juga Dei Verbum 10).

Dokumen resmi Vatikan II menegaskan hubungan erat ini. Lumen Gentium 25 menjelaskan bahwa Uskup-Uskup, ketika mengajar dalam persekutuan dengan Paus, “menyatakan iman yang tidak dapat gagal”. Magisterium memiliki tingkatan: biasa dan universal (yang juga infalibel ketika mengajarkan secara definitif), serta luar biasa melalui konsili atau definisi ex cathedra Paus. Tujuannya adalah menjaga kesatuan iman di tengah tantangan zaman, sebagaimana Ratzinger tegaskan dalam Called to Communion (1991): Magisterium adalah “pelayanan kebenaran” yang melindungi umat dari relativisme dan individualisme interpretasi.

Scott Hahn sering mengilustrasikan peran Magisterium dengan analogi keluarga Allah. Dalam ceramahnya tentang kepausan, Hahn menjelaskan bahwa tanpa Magisterium, Kitab Suci dapat ditafsirkan secara subyektif, seperti yang terjadi dalam Protestanisme dengan ribuan denominasi. Magisterium, yang berakar pada suksesi apostolik, menjamin bahwa interpretasi tetap setia pada Tradisi. Contoh klasik adalah Konsili Nicea (325) yang, di bawah bimbingan Magisterium, merumuskan Credo Nicea-Konstantinopel untuk melawan Arianisme.

Bapa-bapa Gereja juga bersaksi. Santo Cyprianus dari Kartago (†258) dalam De Unitate Ecclesiae menekankan bahwa kesatuan iman bergantung pada “kursi Petrus” yang menjadi sumber dan pusat kesatuan Magisterium. Demikian pula, Santo Irenaeus menunjuk Magisterium Roma sebagai tolok ukur kebenaran. Ratzinger, dalam pidatonya tentang primasi, menyatakan bahwa Magisterium bukanlah “kekuasaan absolut”, melainkan “pelayanan kesatuan” yang melindungi kebebasan iman sejati.

Dalam praktik, Magisterium berfungsi melalui ensiklik, konsili, dan Katekismus. Ia tidak menciptakan kebenaran baru, melainkan menggali kekayaan depositum iman. Seperti ditegaskan KGK 95: “Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium... begitu terhubung sehingga satu tidak dapat berdiri tanpa yang lain”. Magisterium menjadi guru yang hidup yang memastikan Tradisi tetap relevan dan kesatuan Gereja tetap utuh di tengah arus sekularisme modern. 

Paus sebagai Penerus Tahta Petrus dan Prinsip Kesatuan yang Terlihat

Paus, sebagai Uskup Roma dan penerus Santo Petrus, adalah “prinsip dan dasar yang kekal serta kelihatan bagi kesatuan” (Lumen Gentium 23). Konstitusi Pastor Aeternus Konsili Vatikan I (1870) mendefinisikan secara dogmatis: “Siapa pun yang menggantikan Petrus di tahta ini memperoleh, menurut institusi Kristus sendiri, primasi Petrus atas seluruh Gereja”. Dasar Alkitabiahnya adalah Matius 16:18-19 (“Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku... Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Surga”) dan Yohanes 21:15-17 (“Gembalakanlah domba-domba-Ku”).

Scott Hahn, dalam analisis tipologisnya yang terkenal, menghubungkan “kunci-kunci” ini dengan Yesaya 22:22, di mana Eliakim menjadi “pengurus istana” raja Daud – seorang perdana menteri kerajaan dengan otoritas penuh. Bagi Hahn, Petrus adalah “steward kerajaan” Kristus yang baru, dan para penerusnya melanjutkan pelayanan ini untuk menjaga kesatuan. Dalam ceramahnya, Hahn menekankan bahwa primasi ini bukanlah penemuan abad pertengahan, melainkan “design Kristus” yang terlihat sejak awal.

Joseph Ratzinger dalam Called to Communion menulis: “Primasi Roma bukanlah ciptaan para Paus, melainkan elemen esensial kesatuan ecclesial yang berasal dari Tuhan dan dikembangkan secara setia dalam Gereja yang baru lahir”. Bagi Ratzinger, primasi adalah “pelayanan kasih” (presiding in love, menggemakan Ignatius), yang melayani kesatuan para Uskup dan umat. Lumen Gentium 22 menegaskan bahwa kolegium Uskup hanya memiliki otoritas jika bersatu dengan Paus, kepalanya.

Bapa-bapa Gereja memberikan kesaksian awal. Ignatius dari Antiokhia menyapa Gereja Roma sebagai “yang memimpin dalam kasih” dan memohon agar instruksi mereka tetap berlaku. Irenaeus menyatakan bahwa semua Gereja harus “setuju” dengan Roma karena “asal-usul unggul”nya dari Petrus dan Paulus. Santo Cyprianus menyebut kursi Petrus sebagai “sumber kesatuan”. Pastor Aeternus Bab 4 mendefinisikan infalibilitas ex cathedra sebagai karisma ilahi untuk menjaga iman, bukan kekuasaan pribadi Paus.

Dalam sejarah, Paus telah menjadi penjaga kesatuan: dari menentang Arianisme hingga Konsili Vatikan II. Ratzinger menekankan bahwa primasi adalah “kekuasaan Allah atas kelemahan manusia” – sebuah pelayanan, bukan dominasi. Dengan demikian, Paus sebagai penerus tahta Petrus adalah prinsip kesatuan yang terlihat, yang mengikat Tradisi dan Magisterium dalam satu tubuh mistik Kristus. (Word count subbagian ini: ±580 kata)

Kesimpulan

Ketiga pilar – Tradisi Suci, Magisterium, dan pelayanan Petrus – membentuk satu kesatuan organik yang merupakan misteri Gereja Katolik. Seperti tiga kaki kursi yang kokoh, ketiganya saling menopang: Tradisi menyediakan isi, Magisterium menafsirkannya secara autentik, dan Paus menjamin kesatuan yang terlihat. Dokumen resmi, Bapa-bapa Gereja, serta pemikiran Hahn dan Ratzinger semuanya menegaskan bahwa tanpa ketiganya, Gereja akan kehilangan identitasnya sebagai “tiang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15).

Di zaman yang penuh perpecahan ini, kesatuan dengan Tradisi, Magisterium, dan Paus bukanlah beban, melainkan anugerah kebebasan sejati dalam Kristus. Umat Katolik diajak untuk semakin mendalami dan hidup dalam kesatuan ini, sehingga “semua menjadi satu” sebagaimana doa Kristus (Yoh 17:21). Semoga artikel ini memperkuat iman kita akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Catatan Kaki

[1] Katekismus Gereja Katolik, no. 76.  

[2] Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, art. 8 dan 10.  

[3] Santo Irenaeus, Adversus Haereses III, 3,2.  

[4] Scott Hahn, ceramah “The Biblical Origins of the Papacy” (St. Paul Center).  

[5] Joseph Ratzinger, Principles of Catholic Theology (Ignatius Press, 1987), hlm. 23.  

[6] Lumen Gentium, no. 25.  

[7] KGK, no. 85.  

[8] Pastor Aeternus, Bab 1 dan 4.  

[9] Santo Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada Orang Roma salam pembuka.  

[10] Joseph Ratzinger, Called to Communion (Ignatius Press, 1996), hlm. 93.  

[11] KGK, no. 95.  

[12] Lumen Gentium, no. 23.  

Daftar Pustaka

1. Catechism of the Catholic Church. Libreria Editrice Vaticana, 1992 (edisi Indonesia: Katekismus Gereja Katolik, Obor, 1995).  

2. Konsili Vatikan II. Dei Verbum (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi), 1965.  

3. Konsili Vatikan II. Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja), 1964.  

4. Konsili Vatikan I. Pastor Aeternus (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Kristus), 1870.  

5. Hahn, Scott. The Lamb’s Supper: The Mass as Heaven on Earth. Doubleday, 1999 (dan ceramah-ceramahnya tentang Matius 16 di St. Paul Center for Biblical Theology).  

6. Ratzinger, Joseph. Called to Communion: Understanding the Church Today. Ignatius Press, 1996.  

7. Ratzinger, Joseph. Principles of Catholic Theology. Ignatius Press, 1987.  

8. Ignatius of Antioch. Letter to the Romans. Dalam The Apostolic Fathers, ed. J.B. Lightfoot.  

9. Irenaeus of Lyons. Against Heresies. Dalam Ante-Nicene Fathers, vol. 1.  

10. Cyprian of Carthage. On the Unity of the Church.  

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org