Media Sosial yang tidak Pantas dan Pantas Diikuti Orang Katolik: Ekstra Hat-hati Berbedia Sosial
Orang Katolik perlu bijak dalam bermedia sosial dan memilih dan memilah konten. Ist.
Oleh Apen Panlelugen
Di era digital, media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau kabar pribadi. Media sosial telah menjadi ruang pewartaan, ruang diskusi, bahkan ruang pertempuran gagasan Bagi umat Katolik.
Pertanyaannya bukan lagi: apakah kita boleh memakai media sosial? Melainkan: akun mana yang pantas kita ikuti agar iman tetap bertumbuh dan tidak terseret arus?
Khususnya di Facebook (FB), pilihan mengikuti akun atau halaman bukan hal sepele. Apa yang kita ikuti akan memengaruhi cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara beriman.
Media Sosial sebagai Ruang Pewartaan
Gereja Katolik tidak anti terhadap media sosial. Justru sejak lama Gereja mendorong penggunaan media sebagai sarana evangelisasi. Teladan nyata dapat kita lihat pada Paus Fransiskus yang aktif menggunakan platform digital untuk menyampaikan pesan perdamaian, kerahiman, dan persaudaraan universal.
Media sosial, termasuk Facebook, bisa menjadi:
- Ruang berbagi renungan harian
- Sarana memperdalam ajaran Gereja
- Tempat membangun persekutuan iman
- Jembatan solidaritas dan aksi sosial
Namun, ruang ini juga bisa berubah menjadi tempat perdebatan kasar, hoaks teologis, dan bahkan ujaran kebencian atas nama iman.
Karena itu, memilih akun yang diikuti adalah bagian dari disiplin rohani digital.
Kriteria FB yang Pantas Diikuti Orang Katolik
Tidak semua akun bertema agama otomatis baik untuk diikuti. Berikut beberapa kriteria yang dapat menjadi pedoman:
Setia pada Ajaran Gereja
Kontennya selaras dengan Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium. Bukan sekadar opini pribadi yang sensasional.
Menghadirkan Kasih, Bukan Kebencian
Iman Katolik berakar pada kasih. Jika sebuah akun lebih sering menyerang, merendahkan, atau memperuncing konflik antaragama atau antardenominasi, perlu kehati-hatian.
Mendidik, Bukan Memprovokasi
Akun yang baik memberi pencerahan, bukan sekadar viralitas. Ia mengajak berpikir, bukan sekadar marah.
Menguatkan, Bukan Melemahkan Iman
Untuk pencerahan dan menyibak wawasan sejarah, orang Katolik dapat mengikuti
Setelah membaca postingannya, apakah hati menjadi lebih damai? Lebih mengasihi? Lebih ingin berbuat baik? Jika tidak, mungkin ada yang perlu ditinjau ulang.
Untuk penjelasan dan atau apologetika, orang Katolik dapat mengikuti FB
Hati-Hati dengan Polarisasi Digital
Di Facebook, algoritma bekerja dengan cara memperkuat apa yang sering kita klik dan komentari. Jika kita sering terlibat dalam konten kontroversial, maka yang muncul di beranda adalah konten serupa.
Akibatnya:
- Iman bisa berubah menjadi alat debat tanpa kasih.
- Identitas Katolik dipersempit menjadi sekadar perlawanan terhadap pihak lain.
- Media sosial menjadi arena “siapa paling benar”, bukan “siapa paling mengasihi”.
Padahal, identitas Katolik tidak dibangun atas dasar kebencian, melainkan atas dasar Ekaristi dan kasih Kristus.
Mengikuti dengan Nalar dan Doa
Mengikuti sebuah akun bukan berarti menyetujui semua yang dikatakannya. Karena itu:
- Ikuti akun resmi keuskupan atau paroki.
- Ikuti imam, biarawan/biarawati, atau teolog yang dikenal setia dan bijak.
- Periksa sumber sebelum membagikan ulang.
Jangan mudah terpancing emosi digital.
Media sosial seharusnya menjadi perpanjangan tangan iman, bukan perpanjangan ego.
Menjadi Murid Kristus di Dunia Digital
Menjadi Katolik di dunia digital berarti menghadirkan terang di tengah riuhnya informasi. Apa yang kita ikuti membentuk apa yang kita pikirkan. Apa yang kita pikirkan memengaruhi apa yang kita lakukan.
Maka sebelum menekan tombol Follow di Facebook, bertanyalah:
- Apakah akun ini membawaku lebih dekat kepada Kristus?
- Apakah ia menumbuhkan kasih?
- Apakah ia membangun Gereja, bukan sekadar membangun sensasi?
Jika jawabannya "ya", maka itulah media sosial yang pantas diikuti oleh orang Katolik.
Karena pada akhirnya, iman bukan soal paling keras bersuara, melainkan paling setia dalam kasih.