Suksesi Apostolik Gereja Katolik: Dari Paus I Santo Petrus hingga Paus ke-267, Leo XIV
| Suksessi apostolik dalam Gereja Katolik jelas dan historis: Dari Paus I Santo Petrus hingga Paus ke-267, Leo XIV |
Oleh Br. Cosmas Damianus
Gereja Katolik tidak lahir dari rapat. Ia tidak dimulai oleh manifesto. Gereja tumbuh dari panggilan. Dari suara yang memanggil di tepi danau. Dari seorang nelayan yang gemetar. Dari Petrus yang rapuh, tetapi dipilih. Dan diteruskan suksesinya hingga hari ini oleh Paus ke-267, Leo XIV. Katolik jelas awal pemimpinnya hingga kini di alas sejarah yang kuat dan ingatan umat yang mencatat.
Di sanalah suksesi apostolik bermula. Bukan sebagai daftar kekuasaan, melainkan sebagai rantai kesetiaan. Sebuah alur sunyi yang menghubungkan Kristus, para rasul, dan Gereja hari ini. Dari tangan ke tangan. Dari doa ke doa. Dari napas ke napas.
Panggilan yang Diteruskan dari Kristus kepada Para Rasul dan penerusnya
Yesus tidak meninggalkan tulisan. Ia meninggalkan orang. Ia memanggil dua belas. Ia mengutus mereka. Ia mempercayakan Injil bukan kepada batu prasasti, tetapi kepada manusia yang lemah. Dalam iman Katolik, di situlah Gereja mulai berdetak.
Ajaran resmi Gereja menegaskan bahwa para rasul menerima tugas bukan hanya untuk mewartakan, tetapi juga untuk meneruskan. Meneruskan iman. Meneruskan pengajaran. Meneruskan kuasa menggembalakan. Semua itu tidak berhenti ketika para rasul wafat. Justru di situlah Gereja belajar setia.
Suksesi apostolik adalah jawaban Gereja atas pertanyaan ini. Bagaimana Kristus tetap hadir ketika para rasul telah tiada. Jawabannya sederhana sekaligus dalam. Melalui mereka yang ditahbiskan. Melalui penumpangan tangan. Melalui doa yang memanggil Roh Kudus turun kembali.
Dokumen resmi Gereja menyebut suksesi apostolik sebagai jaminan bahwa Gereja hari ini tetap berdiri dalam iman yang sama dengan Gereja para rasul. Bukan iman yang diperbarui sesuai selera zaman. Melainkan iman yang dijaga, dirawat, dan diwariskan.
Di sini, sejarah bukan museum. Ia adalah sungai. Mengalir. Tenang. Tidak pernah putus.
Petrus. Batu yang Retak, tetapi Dipilih
Dalam tradisi Katolik, Petrus bukan tokoh sempurna. Ia menyangkal. Ia takut. Ia jatuh. Namun justru kepadanya Kristus berkata, “Engkau adalah batu.” Bukan karena ia kuat. Melainkan karena ia berserah.
Gereja memahami bahwa kepemimpinan Petrus bukan soal keunggulan pribadi, tetapi perutusan ilahi. Maka ketika Petrus mengakhiri hidupnya di Roma, Gereja tidak berkata, “Semuanya selesai.” Gereja berkata, “Tugas itu diteruskan.”
Takhta Roma dipahami sebagai kelanjutan pelayanan Petrus. Bukan sebagai takhta politik. Melainkan sebagai tempat menjaga kesatuan. Paus, dalam iman Katolik, adalah penerus Petrus. Ia berdiri di dalam garis yang sama. Garis pelayanan. Garis kesetiaan. Garis pengorbanan.
Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa Gereja itu apostolik karena ia dibangun di atas dasar para rasul. Dan para uskup, bersama Paus, adalah penerus mereka. Ini bukan klaim kosong. Ini adalah pengakuan iman.
Dalam iman Katolik, otoritas tidak lahir dari suara mayoritas. Ia lahir dari kesetiaan kepada asal.
Garis yang Panjang dari Petrus hingga Leo XIX Paus ke-267
Sejarah Gereja adalah sejarah yang panjang. Kadang terang. Kadang gelap. Kadang mulia. Kadang berdarah. Namun satu hal dijaga. Garis itu tidak boleh putus.
Dari Petrus, Gereja mengenal Linus. Dari Linus, kepada Klemens. Dari generasi ke generasi. Melalui penganiayaan Romawi. Melalui perpecahan. Melalui konsili. Melalui reformasi. Melalui perang. Melalui zaman modern yang riuh.
Nama-nama Paus datang dan pergi. Watak mereka berbeda. Latar belakang mereka beragam. Namun Gereja tidak melihat Paus sebagai figur individual semata. Gereja melihat mereka sebagai mata rantai.
Suksesi apostolik tidak menjanjikan bahwa setiap Paus adalah orang suci. Ia hanya menjanjikan satu hal. Bahwa Gereja tidak berjalan sendiri. Bahwa iman yang sama tetap diwariskan.
Karena itu Gereja tidak takut pada waktu. Ia tidak gentar pada perubahan. Sebab yang dijaga bukan kekuasaan. Yang dijaga adalah iman yang diterima dari para rasul.
Paus Leo XIV. Penjaga Api di Zaman Baru
Ketika Paus Leo XIV terpilih sebagai Paus ke-267, Gereja tidak sedang memulai sesuatu yang baru. Gereja sedang meneruskan sesuatu yang lama. Api yang sama. Cahaya yang sama. Beban yang sama.
Paus Leo XIV berdiri di persimpangan zaman. Dunia retak oleh polarisasi. Gereja terluka oleh krisis. Namun suksesi apostolik tidak menjanjikan jalan yang mudah. Ia hanya menjanjikan kesetiaan.
Dalam homili-homili awalnya, Paus Leo XIV berbicara tentang persatuan. Tentang Gereja sebagai rumah. Tentang pelayanan yang tidak menguasai, tetapi menggembalakan. Nada itu bukan kebetulan. Itulah nada Petrus. Nada gembala.
Dalam iman Katolik, Paus bukan pengganti Kristus. Ia adalah pelayan Kristus. Ia tidak menciptakan ajaran baru. Ia menjaga ajaran yang diterimanya. Seperti seorang penjaga api yang memastikan nyala itu tidak padam.
Paus Leo XIV adalah Paus ke-267. Tetapi dalam iman Gereja, ia juga adalah penerus Petrus yang pertama. Jarak waktu dua ribu tahun tidak memutus panggilan itu.
Mengapa Suksesi Apostolik Tak Pernah Usang
Bagi Gereja Katolik, suksesi apostolik bukan romantisme masa lalu. Ia adalah jaminan kehadiran. Tanpa suksesi, Gereja akan menjadi komunitas tanpa akar. Dengan suksesi, Gereja tetap terikat pada asalnya.
Suksesi menjamin keabsahan sakramen. Menjaga kesatuan ajaran. Melindungi Gereja dari iman yang berubah sesuai angin. Ia adalah pagar sunyi yang menjaga ladang iman.
Karena itu Gereja Katolik tidak mengandalkan karisma pribadi. Ia mengandalkan tradisi hidup. Tradisi yang bukan fosil, tetapi napas.
Di dunia yang cepat berubah, Gereja tetap berjalan pelan. Tidak tergesa. Tidak panik. Karena ia tahu dari mana ia datang. Dan ke mana ia pergi.
Rantai yang tidak pernah putus matanya
Suksesi apostolik adalah kisah tentang kesetiaan. Tentang manusia yang datang dan pergi. Tentang iman yang tetap tinggal. Dari Petrus hingga Paus Leo XIV, Gereja berjalan dengan luka, tetapi juga dengan harapan.
Bukan karena Gereja selalu benar. Melainkan karena Gereja selalu kembali.
Kembali kepada Kristus.
Kembali kepada para rasul.
Kembali kepada panggilan pertama.
Gereja yang Bertahan dalam Kesetiaan
Gereja Katolik yang bertahan sepanjang zaman
Di situlah Gereja bertahan.
Bukan karena ia keras seperti batu, melainkan karena ia setia seperti jalan pulang. Di setiap zaman, Gereja berjalan tertatih. Kadang dipuji, kadang dicerca. Kadang dielu-elukan, kadang disalibkan oleh anak-anaknya sendiri. Namun ia tidak bubar. Ia tidak tercerai. Ia bertahan bukan dengan teriakan, melainkan dengan kesetiaan yang diam.
Di mana pun ia berada, wajahnya boleh berbeda. Kulitnya boleh berganti. Bahasanya boleh berlapis-lapis. Tetapi jantungnya satu. Ajarannya satu. Doanya satu. Dari altar kecil di desa terpencil sampai basilika agung di Roma, roti yang dipecah tetap roti yang sama. Kalender liturginya berjalan serempak. Bacaan-bacaannya mengalun bersama. Gereja hadir sebagai tubuh yang utuh, bukan potongan-potongan yang tercerai.
Kepemimpinannya tidak lahir dari karisma sesaat. Ia lahir dari garis panjang yang sunyi. Dari tangan ke tangan. Dari doa ke doa. Dari para rasul kepada para uskup. Dari Petrus kepada para penerusnya. Ajaran resmi Gereja Katolik dijaga, bukan dimodifikasi. Dogmanya tidak diperdagangkan. Liturginya tidak sekadar selera. Semuanya bergerak dalam ritme yang sama. Lambat, tetapi pasti.
Itulah sebabnya Gereja Katolik tetap satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Satu dalam iman. Kudus bukan karena anggotanya tanpa cela, melainkan karena ia terus dipanggil untuk kembali. Katolik karena ia merangkul segala bangsa. Apostolik karena ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal.
Dan selama ia ingat asalnya, Gereja akan tetap berdiri. Bukan sebagai monumen, melainkan sebagai peziarah yang setia.