Gereja Katolik yang Bertahan dan Berkembang Sepanjang Zaman
| Gereja Katolik yang satu, kudus, katolik, dan apostolik terbukti bertahan dan berkembang sepanjang zaman. Ilustrasi: Istimewa. |
Gereja Katolik bertahan sepanjang zaman karena ia adalah satu tubuh, satu jiwa, dan satu roh di dalam Kristus Tuhan. Kesatuan itu diteruskan melalui satu kepemimpinan pastoral yang bersambung sejak Santo Petrus hingga para penerusnya, para paus sebagai suksesor apostolik dari zaman ke zaman.
Di situlah Gereja bertahan.
Bukan karena ia keras seperti batu, melainkan karena ia setia seperti jalan pulang.
Yesus sendiri tidak meninggalkan sebuah sistem yang rapi. Ia tidak menulis konstitusi. Ia tidak menyusun manual kelembagaan. Ia memanggil murid-murid yang rapuh, lalu berkata: “Ikutlah Aku” (Mat 4:19).
Gereja lahir dari undangan untuk berjalan, bukan untuk berdiam. Maka wajar jika Gereja sepanjang sejarah tampak tertatih. Kadang maju. Kadang tersandung. Kadang jatuh. Tetapi selalu bangkit.
Konsili Vatikan II menyebut Gereja sebagai Umat Allah yang sedang berziarah (Lumen Gentium, 48). Bukan umat yang sudah tiba, melainkan umat yang sedang menuju.
Di situ terletak rahasianya. Gereja tidak membeku dalam kemurnian imajiner, tetapi hidup dalam sejarah yang nyata. Sejarah yang luka. Sejarah yang berdarah. Sejarah yang memerlukan penebusan terus-menerus.
Karena itu, Gereja sering dipuji sekaligus dicerca. Ia dipeluk oleh dunia, lalu ditolak oleh dunia. Ia ditinggikan oleh kekuasaan, lalu disalibkan oleh kekuasaan. Bahkan tidak jarang, Gereja disalibkan oleh anak-anaknya sendiri. Namun Gereja Katolik tidak bubar. Ia tidak tercerai. Ia bertahan bukan dengan teriakan, melainkan dengan kesetiaan yang diam.
Kesetiaan itulah yang membuatnya terus berjalan.
Tubuh yang Satu dengan Wajah yang Berbeda
Di mana pun Gereja berada, wajahnya boleh berbeda. Kulitnya boleh berganti. Bahasanya boleh berlapis-lapis. Tetapi jantungnya satu.
Dari desa terpencil di pegunungan hingga pusat kota metropolitan, dari kapel kayu sederhana hingga basilika megah, Gereja tetap memecah roti yang sama. Doa Ekaristi yang sama. Iman yang sama. Gereja bukan sekadar jaringan institusi global, melainkan satu tubuh yang hidup.
Rasul Paulus telah lama mengingatkan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27). Tubuh ini tidak seragam, tetapi satu. Mata tidak menjadi tangan. Telinga tidak menjadi kaki. Namun semuanya hidup dari satu Roh.
Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa kesatuan Gereja bersumber dari Tritunggal Mahakudus (KGK 813). Gereja tidak satu karena kesepakatan sosial, melainkan karena ia dilahirkan dari satu Bapa, disatukan oleh satu Putra, dan dihidupkan oleh satu Roh Kudus.
Itulah sebabnya kalender liturgi Gereja berjalan serempak di seluruh dunia. Bacaan Kitab Suci mengalun bersama. Hari Minggu dirayakan sebagai Hari Tuhan, di mana pun umat berada. Gereja hadir bukan sebagai kepingan yang tercerai, tetapi sebagai tubuh yang utuh.
Konsili Vatikan II menyebut Gereja katolik, artinya universal, karena Kristus hadir secara utuh di dalamnya (Lumen Gentium, 13). Gereja tidak dimiliki oleh satu bangsa, satu budaya, atau satu bahasa. Ia melampaui semuanya, tanpa menghapus kekhasan masing-masing.
Kesatuan Gereja bukanlah keseragaman yang mematikan, melainkan persekutuan yang menghidupkan.
Kepemimpinan yang Lahir dari Kesunyian
Gereja bertahan bukan karena ia pandai beradaptasi dengan selera zaman, melainkan karena ia setia pada asal-usulnya. Kesetiaan itu dijaga melalui kepemimpinan yang lahir bukan dari popularitas, tetapi dari perutusan.
Yesus tidak memilih para rasul melalui pemilu. Ia memanggil mereka satu per satu. Ia menyerahkan kepada mereka tugas yang berat:
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19).
Tugas itu kemudian diteruskan melalui apa yang disebut Gereja sebagai suksesi apostolik.
Dari tangan ke tangan. Dari doa ke doa. Dari rasul kepada para uskup. Dari Petrus kepada para penerusnya.
Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa para uskup adalah penerus para rasul (KGK 861). Bukan sekadar pewaris jabatan, melainkan penjaga iman yang sama. Maka ajaran resmi Gereja Katolik tidak lahir dari opini sesaat, melainkan dari pergulatan panjang dalam doa, diskresi, dan ketaatan.
Dogma Gereja tidak diperdagangkan. Ia tidak tunduk pada survei publik. Liturgi tidak disusun mengikuti selera pasar. Konsili Vatikan II sendiri menegaskan bahwa Gereja tidak dapat mengubah apa yang telah diterimanya dari Kristus (Dei Verbum, 10).
Gerak Gereja memang lambat. Tetapi justru di situlah ketahanannya. Ia tidak tergesa-gesa mengikuti arus. Ia menimbang. Ia mendengarkan. Ia berdoa. Lalu melangkah.
Dalam dunia yang terobsesi pada kecepatan, Gereja memilih kesetiaan. Dalam dunia yang mengejar kebaruan, Gereja menjaga ingatan.
Kudus di Tengah Luka
Sering orang tersandung oleh satu kata ini: kudus.
Bagaimana mungkin Gereja disebut kudus, sementara sejarahnya penuh luka? Bagaimana mungkin Gereja mengklaim kekudusan, sementara anggotanya jatuh dalam dosa?
Konsili Vatikan II menjawabnya dengan jujur dan rendah hati. Gereja adalah kudus, bukan karena anggotanya tanpa cela, melainkan karena Kristus yang menguduskannya (Lumen Gentium, 39).
Gereja kudus karena ia selalu dipanggil untuk kembali. Dipanggil untuk bertobat. Dipanggil untuk diperbarui. Ia adalah Gereja yang selalu membutuhkan pemurnian (Lumen Gentium, 8).
Yesus sendiri telah memperingatkan bahwa gandum dan ilalang akan tumbuh bersama sampai akhir zaman (Mat 13:30).
Gereja hidup di antara ketegangan itu. Ia tidak menutup mata terhadap dosa, tetapi juga tidak menyerahkan diri pada keputusasaan.
Katekismus menegaskan bahwa Gereja memuat orang-orang berdosa dalam pangkuannya, sekaligus tetap kudus (KGK 827). Kekudusannya bukan milik manusia, melainkan rahmat Allah yang terus bekerja.
Di situlah Gereja bertahan: dengan mengakui lukanya, tanpa menyangkal rahmatnya.
Peziarah yang Ingat Asalnya
Gereja Katolik tetap satu, kudus, katolik, dan apostolik bukan karena ia berhasil menaklukkan dunia, melainkan karena ia tidak melupakan asal-usulnya.
Gereja Katolik lahir dari salib. Ia hidup dari Ekaristi. Ia berjalan menuju Kerajaan Allah.
Selama Gereja ingat bahwa ia bukan tujuan, melainkan jalan; bukan pemilik kebenaran, melainkan pelayan kebenaran; bukan penguasa sejarah, melainkan saksi harapan—selama itu pula Gereja akan tetap berdiri.
Gereja Katolik bukan sebagai monumen yang beku, tetapi sebagai peziarah yang setia mengarungi arus dinamika dunia zaman ke zaman.
Dan di dalam pusaran arus dunia yang men-zaman itulah Gereja Katolik bertahan. Bahkan terus berkembang dalam iman yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.
Daftar Pustaka
Alkitab Katolik, Terjemahan Resmi Konferensi Waligereja Indonesia.
Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja).
Konsili Vatikan II, Dei Verbum (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi).
Katekismus Gereja Katolik, Edisi Resmi.