Gereja yang Didirikan Kristus: Lumen Gentium dan Ekklesiologi Katolik tentang Petrus dan Suksesi Apostolik
| Kristus mendirikan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik di atas Petrus sebagai kepala dan penerusnya. Ist. |
Dalam iman Katolik, Gereja bukanlah sebatas lembaga religius yang lahir dari kesepakatan sosial atau dinamika sejarah semata. Gereja adalah misteri ilahi sekaligus realitas historis: mysterium et sacramentum.
Gereja lahir dari kehendak Allah sendiri, didirikan oleh Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi daging, dan dihadirkan terus-menerus di dalam sejarah melalui karya Roh Kudus.
Salah satu pokok sentral dalam ekklesiologi Katolik adalah keyakinan bahwa Gereja didirikan oleh Kristus di atas para rasul, dengan Petrus sebagai batu karang, dan diteruskan melalui suksesi apostolik para penerus mereka.
Dokumen Lumen Gentium (1964), Konstitusi Dogmatis tentang Gereja dari Konsili Vatikan II, memberikan landasan teologis yang kaya untuk memahami hakikat Gereja, struktur hirarkisnya, serta kesinambungannya dari zaman para rasul hingga kini.
Bersama dengan tradisi ekklesiologi Katolik yang berkembang sejak para Bapa Gereja, Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik ini bukan ciptaan manusia, melainkan karya Kristus sendiri yang terus hidup dalam sejarah.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam pandangan dan doktrin Katolik mengenai Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus di atas Petrus dan penerusan para rasul dalam suksesi apostolik, dengan merujuk secara khusus pada Lumen Gentium dan kerangka besar ekklesiologi Katolik.
Gereja sebagai Misteri dan Sakramen Keselamatan
Lumen Gentium membuka refleksinya dengan menempatkan Gereja dalam horizon misteri Allah Tritunggal. Gereja bukan pertama-tama struktur organisasi, melainkan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Dalam pengertian ini, Gereja adalah buah dari rencana keselamatan Allah yang telah disiapkan sejak awal, digenapi dalam Kristus, dan diteruskan oleh Roh Kudus.
Yesus Kristus, dengan pewartaan Kerajaan Allah, pemilihan para murid, wafat dan kebangkitan-Nya, secara nyata meletakkan dasar Gereja. Gereja lahir dari lambung Kristus yang tertikam di kayu salib, sebagaimana para Bapa Gereja melihat paralel antara Hawa yang lahir dari sisi Adam dan Gereja yang lahir dari sisi Kristus. Maka, Gereja bukan sekadar pengikut ajaran Yesus, tetapi Tubuh Mistik-Nya sendiri.
Dalam terang ini, Gereja selalu memiliki dimensi ilahi dan manusiawi. Ia kudus karena asal-usul dan kepalanya adalah Kristus, namun sekaligus terus-menerus membutuhkan pemurnian karena terdiri dari manusia berdosa.
Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja "sekaligus kudus dan selalu perlu dimurnikan", berjalan dalam ziarah sejarah sambil mengarahkan pandangan pada kepenuhan Kerajaan Allah.
Pemahaman Gereja sebagai misteri dan sakramen inilah yang menjadi dasar bagi seluruh refleksi tentang struktur, jabatan, dan suksesi apostolik. Tanpa kerangka ini, Gereja mudah direduksi menjadi organisasi belaka dan kehilangan dimensi ilahinya.
Kristus Mendirikan Gereja di Atas Para Rasul
Salah satu ajaran pokok iman Katolik adalah bahwa Yesus Kristus secara sadar dan bebas memilih dua belas rasul dan memberikan kepada mereka peran khusus dalam Gereja-Nya. Pemilihan ini bukan tindakan simbolik semata, melainkan tindakan konstitutif.
Dua belas rasul melambangkan dua belas suku Israel yang baru, umat Allah yang diperbarui dalam Kristus.
Lumen Gentium menegaskan bahwa para rasul diutus oleh Kristus sebagaimana Ia sendiri diutus oleh Bapa. Mereka menerima tugas untuk mewartakan Injil, mengajar, menguduskan, dan menggembalakan umat Allah.
Dalam diri para rasul, Gereja memiliki fondasi historis dan teologisnya.
Kristus tidak hanya memberikan ajaran, tetapi juga wewenang. Ia memberi kuasa untuk mengikat dan melepaskan, merayakan Ekaristi sebagai kenangan akan Dia, serta mengampuni dosa.
Dengan demikian, Gereja sejak awal bersifat apostolik, bukan hanya karena berpegang pada ajaran para rasul, tetapi karena secara struktural dibangun di atas mereka.
Apostolisitas ini bukan kenangan masa lampau, melainkan prinsip hidup yang menjamin kesinambungan Gereja. Gereja yang sejati selalu berada dalam persekutuan dengan para rasul, baik dalam iman, sakramen, maupun kepemimpinan.
Petrus sebagai Batu Karang dan Prinsip Kesatuan
Di antara para rasul, Petrus menerima peran yang khas dan unik. Injil Matius mencatat sabda Yesus yang terkenal:
Ayat itu terdapat dalam Injil Matius 16:18.
“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18)
Teks Latin (Vulgata):
“Et ego dico tibi quia tu es Petrus, et super hanc petram aedificabo Ecclesiam meam, et portae inferi non praevalebunt adversus eam.”
Dalam tradisi Katolik, teks ini dipahami sebagai penetapan Petrus sebagai dasar yang kelihatan bagi kesatuan Gereja.
Lumen Gentium menyatakan bahwa Petrus dan para rasul membentuk satu kolegium apostolik, namun Petrus memiliki primasi di antara mereka. Primasi ini bukan kehormatan kosong, melainkan tugas pelayanan demi kesatuan iman dan persekutuan Gereja. Petrus dipanggil untuk meneguhkan saudara-saudaranya dalam iman.
Peran Petrus berlanjut dalam diri para penerusnya, yakni Uskup Roma. Paus, sebagai penerus Petrus, adalah tanda dan pelayan kesatuan Gereja universal. Dalam perspektif Katolik, primasi Petrus tidak bertentangan dengan kolegialitas para uskup, melainkan justru menjaminnya.
Gereja Katolik memahami struktur kepemimpinannya bukan sebagai sistem kekuasaan duniawi, tetapi sebagai pelayanan yang berakar pada kehendak Kristus sendiri. Kesatuan Gereja dijaga melalui persekutuan dengan Petrus dan para penerusnya.
Suksesi Apostolik sebagai Jaminan Kesinambungan Gereja
Salah satu ciri paling khas ekklesiologi Katolik adalah ajaran tentang suksesi apostolik. Lumen Gentium menegaskan bahwa tugas para rasul tidak berhenti dengan wafat mereka, tetapi diteruskan kepada para penerus melalui penumpangan tangan, yakni para uskup.
Suksesi apostolik bukan sekadar rantai historis tanpa makna teologis. Ia adalah sarana yang dengannya Kristus sendiri terus menggembalakan Gereja-Nya. Melalui suksesi ini, ajaran yang sama, sakramen yang sama, dan persekutuan yang sama tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Para uskup, dalam persekutuan dengan Paus, mengambil bagian dalam tugas mengajar, menguduskan, dan memimpin umat Allah. Mereka bukan wakil komunitas semata, melainkan penerus para rasul yang menerima mandat ilahi. Di sinilah Gereja Katolik melihat perbedaan mendasar dengan komunitas Kristen yang tidak mempertahankan suksesi apostolik.
Kesetiaan pada suksesi apostolik menjamin bahwa Gereja tetap setia pada Kristus, bukan pada tafsir individual atau arus zaman. Ia menjadi benteng kontinuitas iman di tengah perubahan sejarah.
Gereja Apostolik dalam Ziarah Sejarah
Sebagai Gereja yang apostolik, Gereja Katolik hidup dalam ketegangan antara kesetiaan pada tradisi dan keterbukaan pada tanda-tanda zaman. Lumen Gentium menekankan bahwa Gereja adalah umat Allah yang berziarah, dipimpin oleh para gembala, namun digerakkan oleh Roh Kudus.
Apostolisitas Gereja bukan beban masa lalu, melainkan sumber daya rohani untuk menghadapi tantangan masa kini. Dalam dunia yang plural, terfragmentasi, dan sering relativistik, Gereja dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kebenaran yang satu dan menyelamatkan, tanpa kehilangan belarasa terhadap situasi konkret manusia.
Kesatuan dengan Petrus dan para uskup bukan penghalang dialog, tetapi fondasi yang memungkinkan dialog yang jujur dan berakar.
Gereja tetap satu dan sama di mana pun ia hadir, baik dalam ajaran, liturgi, maupun struktur dasarnya, sekaligus mampu berinkulturasi dalam berbagai budaya.
Pada akhirnya, iman Katolik akan Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Petrus dan diteruskan dalam suksesi apostolik adalah pengakuan iman akan kesetiaan Allah sendiri. Allah yang memulai karya keselamatan tidak meninggalkannya terbengkalai, melainkan memeliharanya dalam Gereja, sampai kepenuhan zaman, ketika Kristus menjadi segala sesuatu di dalam semua orang.
Kandungan Isi Lumen Gentium
- Gereja sebagai misteri dan sakramen keselamatan: Lumen Gentium art. 1, 2, dan 9.
- Gereja lahir dari kehendak Kristus dan karya Roh Kudus: Lumen Gentium art. 3–5.
- Gereja dibangun di atas para rasul: Lumen Gentium art. 18 dan 19.
- Peran khusus Petrus dalam kolegium para rasul: Lumen Gentium art. 18 dan 22.
- Primasi Uskup Roma sebagai penerus Petrus: Lumen Gentium art. 22 dan 23.
- Suksesi apostolik para uskup melalui penumpangan tangan: Lumen Gentium art. 20.
- Tugas mengajar, menguduskan, dan menggembalakan para uskup: Lumen Gentium art. 21 dan 24.
- Gereja sebagai umat Allah yang berziarah dalam sejarah: Lumen Gentium art. 48 dan 50.
Daftar Pustaka
Konsili Vatikan II. Lumen Gentium. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. 21 November 1964.
Katekismus Gereja Katolik. Jakarta: Obor, 1995.
Ratzinger, Joseph. Called to Communion: Understanding the Church Today. San Francisco: Ignatius Press, 1996.
Dulles, Avery. Models of the Church. New York: Image Books, 2002.
Congar, Yves. True and False Reform in the Church. Collegeville: Liturgical Press, 2011.
Rahner, Karl. The Church and the Sacraments. New York: Herder and Herder, 1963.