Katolikos dalam Gereja Perdana dan Penggunaannya oleh Ignatius dari Antiokia
| Gereja Katolik: Menampakkan Kristus utuh, kudus, katolik dan apostolik yang diutus ke seluruh bangsa manusia. Ist. |
Oleh Br. Cosmas Damianus
Dalam Credo atau Pengakuan Iman, kita menyatakan: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.”
Credo Katolik ini bukan sekadar kata-kata formal, tetapi menegaskan inti iman kita sebagai orang Kristiani.
Setiap kata memiliki makna teologis yang dalam, dan kata Katolik khususnya kerap menimbulkan pertanyaan: apa yang dimaksud dengan Gereja yang Katolik dalam konteks iman?
Memahami istilah "katolik" ini penting agar kita tidak sekadar mengucapkannya, tetapi benar-benar “mafhum” atau menangkap maknanya.
Katolikos: Asal Yunani dan Makna Teologis dalam Tradisi Gereja
Istilah katolikos berasal dari bahasa Yunani καθολικός (katholikós), yang berarti “menurut keseluruhan”, “menyeluruh”, atau “universal”. Dalam pemakaian Yunani umum, kata ini menunjuk pada sesuatu yang tidak parsial dan tidak terfragmentasi. Gereja perdana mengadopsi istilah ini bukan sebagai pinjaman linguistik kosong, melainkan sebagai ungkapan iman akan hakikat Gereja itu sendiri.
Dalam pemahaman Katolik, katolikos tidak pertama-tama menunjuk luas wilayah atau jumlah umat, melainkan kepenuhan iman dan keselamatan yang hadir dalam Gereja karena Kristus sendiri hadir di dalamnya.
Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa Gereja disebut katolik karena Kristus hadir secara utuh di dalamnya dan karena Gereja diutus kepada seluruh umat manusia tanpa pengecualian (KGK §§830–831).
Makna ini berakar langsung pada Kitab Suci. Amanat agung Kristus kepada para rasul untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat 28:19) sejak awal dipahami sebagai panggilan universal.
Gereja tidak dimaksudkan bagi satu suku, bangsa, atau kelas sosial, melainkan bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, katolikos sejak awal merupakan istilah iman, bukan label administratif.
Gereja Perdana dan Kesadaran akan Kesatuan Universal
Pada abad pertama dan kedua, Gereja hidup sebagai komunitas kecil yang tersebar di berbagai kota Kekaisaran Romawi. Tidak ada pusat administratif global seperti pada masa kemudian, namun ada kesadaran yang sangat kuat akan kesatuan iman.
Gereja-gereja lokal tidak dipahami sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai perwujudan konkret dari satu Gereja Kristus.
Kesatuan ini bersumber dari tiga hal utama: iman apostolik yang sama, perayaan Ekaristi, dan persekutuan dengan para uskup sebagai penerus para rasul. Santo Paulus menggambarkan Gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota yang hidup oleh satu Roh (1Kor 12:12–13). Gambaran ini menjadi fondasi eklesiologi Gereja perdana.
Kesadaran akan kekatolikan juga muncul sebagai respons terhadap munculnya ajaran-ajaran yang menyimpang. Gereja perdana memahami bahwa iman yang benar harus bersifat menyeluruh, utuh, dan setia pada apa yang telah diterima dari para rasul.
Dengan demikian, katolikos menjadi kriteria pembeda antara Gereja yang setia pada tradisi apostolik dan kelompok-kelompok yang memisahkan diri dari persekutuan Gereja.
Ignatius dari Antiokia dan Penggunaan Istilah “Gereja Katolik”
Santo Ignatius dari Antiokia merupakan tokoh kunci dalam sejarah penggunaan istilah katolikos. Ia adalah uskup Antiokia pada awal abad kedua dan seorang martir Gereja. Dalam perjalanan menuju Roma untuk menghadapi kemartiran sekitar tahun 107 M, Ignatius menulis tujuh surat kepada jemaat-jemaat Kristen.
Dalam Surat kepada Jemaat di Smirna 8:2, Ignatius menulis kalimat yang kemudian menjadi sangat menentukan dalam sejarah Gereja:
“Di mana Yesus Kristus berada, di situ ada Gereja Katolik.”
Ini adalah penggunaan tertua yang diketahui secara historis dari istilah “Gereja Katolik” (Ekklēsia Katholikē). Pernyataan ini tidak dimaksudkan sebagai slogan, melainkan sebagai penegasan teologis. Bagi Ignatius, kekatolikan Gereja berakar langsung pada kehadiran Kristus. Gereja adalah katolik karena Kristus hadir dan berkarya di dalamnya.
Ignatius menggunakan istilah ini dalam konteks melawan perpecahan dan ajaran sesat. Gereja Katolik adalah Gereja yang hidup dalam kesatuan, setia pada iman para rasul, dan terikat dalam persekutuan yang nyata. Dengan demikian, katolikos berfungsi sebagai penanda identitas Gereja yang sejati.
Katolikos, Uskup, dan Ekaristi dalam Pemikiran Ignatius
Eklesiologi Ignatius tidak dapat dipisahkan dari pandangannya tentang uskup dan Ekaristi. Dalam berbagai suratnya, ia menekankan bahwa kesatuan dengan uskup adalah syarat kesatuan dengan Gereja. Bagi Ignatius, uskup bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan tanda kehadiran Kristus di tengah jemaat.
Ignatius menulis bahwa tidak seorang pun boleh merayakan Ekaristi tanpa uskup atau mereka yang diberi wewenang olehnya (Surat kepada Jemaat di Smirna 8:1). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Gereja yang katolik adalah Gereja yang hidup dari Ekaristi dan menjaga kesatuan sakramentalnya.
Setiap Gereja lokal sungguh katolik, bukan karena berdiri sendiri, melainkan karena hidup dalam persekutuan dengan Gereja lain dan setia pada iman yang sama. Pandangan ini kemudian ditegaskan kembali oleh Konsili Vatikan II, yang mengajarkan bahwa Gereja Kristus sungguh hadir dalam setiap Gereja lokal yang bersatu dengan uskupnya (Lumen Gentium §26).
Dengan demikian, katolikos dalam pemikiran Ignatius bukanlah konsep abstrak, melainkan realitas yang dialami dalam hidup menggereja sehari-hari: dalam perayaan Ekaristi, ketaatan pada uskup, dan kesatuan iman.
Warisan Katolikos dalam Ajaran Gereja Sepanjang Zaman
Istilah katolikos yang digunakan oleh Ignatius dari Antiokia kemudian menjadi bagian integral dari pengakuan iman Gereja.
Dalam Syahadat Nicea-Konstantinopel, Gereja mengakui dirinya sebagai “satu, kudus, katolik, dan apostolik”. Keempat ciri ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa kekatolikan Gereja berarti kepenuhan iman dan keterbukaan universal. Gereja memiliki segala sesuatu yang diperlukan untuk keselamatan dan diutus kepada seluruh umat manusia (KGK §§830–856).
Kekatolikan juga menuntut kesetiaan pada tradisi apostolik dan persekutuan dengan seluruh Gereja.
Konsili Vatikan II memperdalam ajaran ini dengan menegaskan hubungan antara Gereja universal dan Gereja lokal. Setiap Gereja lokal sungguh katolik, sejauh ia hidup dalam persekutuan iman dan kasih dengan Gereja universal (Lumen Gentium §§23–25).
Ketika Ignatius dari Antiokia menggunakan istilah “Gereja Katolik”, ia tidak menciptakan identitas baru, melainkan memberi nama pada kenyataan iman yang sudah hidup dalam Gereja sejak awal.
Katolikos adalah jantung Gereja perdana dan tetap menjadi identitas Gereja Katolik hingga hari ini.
Daftar Pustaka
Alkitab Terjemahan Resmi Gereja Katolik, Lembaga Biblika Indonesia.
Ignatius dari Antiokia, Surat kepada Jemaat di Smirna, Efesus, dan Magnesia, dalam The Apostolic Fathers, edisi Katolik.
Katekismus Gereja Katolik. Jakarta: Obor, 1995.
Konsili Vatikan II, Lumen Gentium. Vatikan, 1964.
Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI), Called to Communion: Understanding the Church Today. Ignatius Press, 1996.
Henri de Lubac, S.J., Catholicism: Christ and the Common Destiny of Man. Ignatius Press, 1988.