Lukisan dan Hiasan Latar Altar Gereja Paroki St. Agustinus, Sungai Raya, Pontianak

 

Pesona Lukisan dan Hiasan di Latar Altar Gereja Paroki St. Agustinus, Sungai Raya, Pontianak
Panorama keindahan lukisan dan hiasan pada latar Altar Gereja Paroki St. Agustinus, Sungai Raya, Pontianak, Kalimantan Barat. Kredit gambar: Rmsp.

Oleh Rangkaya Bada

Di Gereja Paroki St. Agustinus, Sungai Raya, Pontianak, dinding dan latar Altar tidak berbicara dengan suara, tetapi dengan keheningan yang sarat makna. 

Salib berdiri tegak di tengah, memanggul tubuh Kristus yang terluka. Sementara di atasnya lukisan besar membuka langit. Kristus yang dimuliakan setelah wafat dan bangkit, dikelilingi para kudus, malaikat, dan awan terang. 

Seakan-akan surga tidak berjarak. Ia tidak jatuh tergesa, melainkan turun perlahan, lirih, seperti embun pagi. Ia menyentuh ruang doa umat, nyata, membumi, hadir tanpa perlu dijelaskan. 

Di tempat inilah doa Bapa Kami menemukan dagingnya. Ketika “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di dalam surga” tidak lagi sekadar kata, melainkan peristiwa yang dihayati.

Ketika Langit Turun ke Altar, Iman Menjadi Rupa

Susunan itu sederhana namun tegas. Dari meja altar, tempat roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah, pandangan diarahkan ke atas. Mata diajak naik, hati dituntun menyeberang. Liturgi, seni, dan arsitektur saling menyapa dalam satu bahasa yang sama, bahasa perjumpaan. 

Gereja bukan sekadar bangunan, melainkan ruang di mana langit dan bumi bersentuhan, tempat Tuhan berkenan tinggal bersama manusia Sungai Raya, dengan segala doa, lelah, dan harapan mereka.

Lukisan dan hiasan itu tidak berhenti sebagai keindahan. Ia menjelma sabda yang tak diucapkan, teologi yang tak dituliskan, namun perlahan meresap ke dalam batin umat yang berdoa.

Sejak Michelangelo, apa maknanya

Sejak zaman Michelangelo, Gereja percaya bahwa keindahan dapat menjadi jalan menuju kebenaran. Tubuh manusia, cahaya, lipatan kain, dan gerak tangan para tokoh suci bukan sekadar unsur artistik, melainkan bahasa iman. 

Seni menjadi cara untuk mengatakan yang tak terkatakan, bahwa Allah tidak asing dengan dunia manusia.

Michelangelo melukis bukan untuk memamerkan keagungan manusia, melainkan untuk menunjukkan bahwa di dalam tubuh yang rapuh itu, misteri ilahi berdiam. 

Tradisi ini terus hidup. Lukisan altar bukan hiasan kosong, melainkan pengakuan iman yang dituangkan dalam warna dan rupa. Ia mengajar umat tanpa khotbah, mendidik tanpa suara.

Tuhan Katolik, antroposmorfis, dekat bahkan bersama manusia

Dalam iman Katolik, Allah tidak disembunyikan jauh di balik kabut metafisika. Ia berwajah manusia. Ia dapat disentuh, dilihat, bahkan disalibkan. 

Antroposmorfisme bukan kelemahan iman, melainkan keberaniannya, Allah rela menjadi dekat, menjadi rapuh, menjadi sesama.

Karena itu, materi tidak ditolak. Kayu salib, batu altar, cat lukisan, patung malaikat, bunga, dan kain liturgi menjadi alat. 

Materi membantu manusia yang terbatas untuk mendekat kepada substansi keilahian yang tak terbatas. Yang kelihatan menuntun kepada Yang Tak Kelihatan.

Di altar itu, iman Katolik berkata pelan namun tegas, Tuhan tidak hanya disembah dari kejauhan. Ia tinggal, berjalan, menderita, dan bangkit bersama manusia. 

Seni gereja menjaga kisah itu agar terus diingat, dilihat, dan dihayati, hari demi hari.

Dalam misa demi misa. Dalam untai doa demi doa. Dalam rumusan pinta demi pinta bahasa manusia.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org