Strategi Misi Kapusin di Jangkang: Iman yang Tumbuh dari Kampung

Strategi Misi Kapusin di Jangkang: Iman yang Tumbuh dari Kampung
Dua misionaris Kapusin di antara Dayak Jangkang tahun 1940-an. Ist.

Oleh Masri Sareb Putra

Pada dekade 1970-an, wilayah Jangkang menjadi saksi penting proses pendalaman iman Katolik di kalangan masyarakat Dayak. Ini bukan lagi fase awal perjumpaan misi dengan masyarakat lokal, melainkan masa tumbuhnya generasi kedua Dayak Jangkang yang dipermandikan Katolik oleh Misi Ordo Kapusin. Dari merekalah kita memperoleh narasi yang jernih mengenai bagaimana iman diperkenalkan, dipelihara, dan ditumbuhkan tanpa mencabut akar budaya setempat.

Generasi kedua ini menuturkan pengalaman iman mereka dengan kesadaran historis. Mereka tidak hanya mengingat ritus pembaptisan, tetapi juga cara Gereja hadir di kampung-kampung: sederhana, dekat, dan menghargai adat. Dari catatan yang saya susun dengan cermat, tampak bahwa strategi Misi Kapusin di Jangkang bertumpu pada satu prinsip utama: iman harus hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar datang dari luar.

Dari Pastor ke Kampung: Misi yang Menyentuh Akar

Kondisi geografis Jangkang yang terpencar, dengan kampung-kampung yang berjauhan dan akses terbatas, membuat kehadiran pastor tidak mungkin dilakukan secara intensif. Para misionaris Kapusin membaca situasi ini bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk membangun Gereja yang berakar di komunitas.


Strategi yang ditempuh adalah menunjuk dan mengangkat katekis serta diaken awam dari kalangan Dayak Jangkang sendiri. Mereka dipersiapkan secara khusus untuk menjadi perpanjangan tangan pastor ke kampung-kampung. Melalui merekalah katekese berlangsung, doa bersama dipimpin, dan kehidupan iman dijaga dari hari ke hari.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Misi Kapusin tidak memusatkan Gereja pada figur imam semata. Gereja justru dibangun sebagai komunitas umat beriman yang saling menopang. Pastor hadir sebagai penggembala, tetapi kehidupan iman sehari-hari dijalankan oleh umat sendiri, melalui figur-figur yang dipercaya dan dihormati di tingkat lokal.

Katekis Lokal sebagai Penjaga Iman dan Budaya

Nama-nama seperti Kipa, Sareb, Nasun, dan Agen kerap muncul dalam narasi generasi kedua Katolik Jangkang. Mereka bukan tokoh besar dalam catatan resmi Gereja, tetapi peran mereka sangat menentukan dalam sejarah iman di tingkat kampung.

Sebagai orang Dayak Jangkang, para katekis ini memahami bahasa, simbol, dan nilai-nilai budaya masyarakatnya. Katekese yang mereka sampaikan tidak bersifat abstrak. Ajaran iman diterjemahkan ke dalam contoh konkret kehidupan sehari-hari: relasi antarwarga, kerja ladang, kehidupan keluarga, hingga cara memaknai alam sebagai ciptaan Tuhan.

Dalam konteks ini, para katekis berperan ganda. Mereka adalah pewarta iman sekaligus penjaga harmoni antara ajaran Gereja dan adat. Ketika terjadi ketegangan antara praktik tradisional dan nilai kristiani, mereka menjadi penafsir yang bijak, bukan hakim yang menghakimi. Peran ini sulit dijalankan oleh orang luar, tetapi justru efektif ketika dilakukan oleh mereka yang hidup dan tumbuh dalam budaya tersebut.

Inkulturasi sebagai Jalan Misi

Pengalaman Jangkang menunjukkan bahwa Misi Kapusin tidak memosisikan budaya Dayak sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Sebaliknya, budaya dipandang sebagai ruang tempat iman dapat bertumbuh. Nilai-nilai seperti kebersamaan, belarasa, kejujuran, dan penghormatan pada kehidupan komunal menemukan resonansinya dalam ajaran Injil.

Doa dan katekese sering berlangsung di rumah panjang, di rumah warga, atau setelah aktivitas bersama. Gereja tidak hadir sebagai bangunan megah, melainkan sebagai perjumpaan umat. Dengan cara ini, iman Katolik tidak terasa asing. Ia menjadi bagian dari ritme hidup masyarakat Dayak Jangkang.

Pendekatan inkulturatif ini, meskipun belum disebut dengan istilah akademik pada masa itu, telah dipraktikkan secara nyata oleh Ordo Kapusin. Misi dijalankan dengan kesabaran, dialog, dan kepercayaan kepada umat lokal. Hasilnya bukan pertobatan instan, melainkan pertumbuhan iman yang perlahan namun mengakar.

Warisan Iman Generasi Kedua

Dari catatan generasi kedua yang dipermandikan pada tahun 1970-an, tampak bahwa strategi ini meninggalkan warisan yang kuat. Gereja tidak runtuh ketika pastor tidak hadir. Komunitas tetap hidup karena iman telah menjadi milik bersama, bukan milik segelintir orang.

Banyak dari generasi ini kemudian menjadi penopang Gereja lokal: aktif dalam pelayanan, menjaga keseimbangan antara iman dan adat, serta mewariskan nilai kristiani kepada generasi berikutnya. Gereja Katolik di Jangkang tumbuh bukan sebagai institusi yang terpisah dari masyarakat, melainkan sebagai bagian dari kehidupan Dayak itu sendiri.

Pengalaman Jangkang memberi pelajaran penting bagi refleksi misi hingga hari ini. Bahwa pewartaan iman yang bertahan lama lahir dari sikap hormat terhadap budaya, keberanian memberdayakan umat lokal, dan kesediaan berjalan bersama masyarakat. 

Dalam sunyi kampung-kampung Jangkang, strategi Misi Ordo Kapusin telah menunjukkan bahwa iman yang ditanam dengan rendah hati akan tumbuh dengan kuat.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org