Paus sebagai Penerus Tahta Petrus: Kesinambungan Kuasa Pelayanan
| Paus adalah penerus takhta dan kuasa Petrus dalam suksesi berkesinambungan sepanjang zaman untuk menjaga kesatuan dan iman Gereja Katolik. Doc. Davod van der Wal. |
Oleh Teguh Imanqu
Pada abad ke-4, Kaisar Konstantinus Agung membangun basilika pertama di atas makam Petrus (± 324 M). Ini bukan kebetulan arsitektural, melainkan pernyataan iman dan legitimasi Gereja. Gereja Katolik tidak bermula dari ide, tetapi dari tubuh yang dikuburkan dan iman yang bertahan sampai mati.
Suksesi dalam Gereja Katolik berakar pada tindakan Yesus Kristus. Injil menampilkan Yesus sebagai Guru yang dengan sadar membentuk komunitas murid yang terpilih. Ia memilih Dua Belas rasul, memberi mereka wewenang, dan menugaskan mereka untuk melanjutkan karya-Nya.
Pada ayat Kitab Suci yang lain, Paulus mendidik Timotius dan Titus sebagai penerus yang sah dalam pelayanan gerejawi. Ia menekankan pentingnya pewarisan iman yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kesinambungan perutusan Petrus ditegaskan kembali setelah kebangkitan Kristus. Dalam Injil Yohanes, Yesus mempercayakan tugas penggembalaan universal kepada Petrus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15–17).
Gereja Katolik tumbuh dari fondasi iman yang kokoh dan berkesinambungan. Sejak awal, Gereja hidup dari kesadaran bahwa iman bukan hasil improvisasi zaman, melainkan warisan yang diterima, dijaga, dan diteruskan.
Kesinambungan ini tampak nyata dalam doktrin suksesi apostolik, yakni keyakinan bahwa pelayanan Gereja hari ini terhubung secara langsung dengan para rasul yang dipilih dan diutus oleh Kristus sendiri.
Suksesi bukan sekadar tata kelola kelembagaan, melainkan jaminan bahwa Gereja tetap setia pada sumber imannya yang asli.
Dasar Kristologis: Kristus Memilih dan Menetapkan Para Rasul
Segala pembicaraan tentang suksesi dalam Gereja Katolik berakar pada tindakan Yesus Kristus. Injil menampilkan Yesus sebagai Guru yang dengan sadar membentuk komunitas murid yang terpilih. Ia memilih Dua Belas rasul, memberi mereka wewenang, dan menugaskan mereka untuk melanjutkan karya-Nya.
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu dan menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah” (Yohanes 15:16).
Pemilihan ini bersifat personal sekaligus eklesial. Yesus tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga menetapkan struktur pelayanan. Kepada Petrus, Ia mempercayakan peran kepemimpinan yang khas:
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Matius 16:18).
Ayat ini menegaskan bahwa Gereja berdiri di atas penetapan ilahi. Dengan demikian, kesinambungan kepemimpinan dalam Gereja merupakan kelanjutan dari kehendak Kristus sendiri, bukan hasil rekayasa historis belaka.
Praktik Apostolik: Penetapan Pelayan melalui Penumpangan Tangan
Kitab Kisah Para Rasul memberikan kesaksian kuat tentang bagaimana para rasul mempraktikkan kesinambungan pelayanan. Ketika Yudas Iskariot tidak lagi mengambil bagian dalam perutusan rasuli, para rasul segera mengambil langkah untuk menjaga keutuhan pelayanan.
“Jabatan ini hendaklah diambil orang lain” (Kisah Para Rasul 1:20).
Pemilihan Matias menunjukkan bahwa Gereja perdana memahami jabatan rasuli sebagai tanggung jawab yang perlu diteruskan. Penetapan ini dilakukan melalui doa dan peneguhan komunitas. Praktik serupa tampak ketika Paulus dan Barnabas:
“Menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan berdoa serta berpuasa” (Kisah Para Rasul 14:23).
Penumpangan tangan, sebagaimana juga disebutkan dalam 1 Timotius 4:14, menjadi tanda sakramental bahwa otoritas dan tanggung jawab pelayanan diteruskan secara nyata. Gereja sejak awal hidup dari kesadaran bahwa pelayanan memerlukan legitimasi rohani dan historis.
Paulus dan Timotius: Rantai Pewarisan Iman
Surat-surat Pastoral memperlihatkan secara eksplisit bagaimana Gereja menjaga kesinambungan ajaran dan kepemimpinan. Paulus mendidik Timotius dan Titus sebagai penerus yang sah dalam pelayanan gerejawi. Ia menekankan pentingnya pewarisan iman yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Apa yang telah engkau dengar daripadaku di depan banyak saksi, percayakanlah kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Timotius 2:2).
Ayat ini menggambarkan logika suksesi yang utuh. Ajaran dan otoritas diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui orang-orang yang layak dan teruji. Dengan demikian, Gereja menjaga kesatuan iman sekaligus memastikan bahwa pengajaran tetap setia pada Injil yang diterima dari para rasul.
Kesaksian Gereja Perdana: Suksesi sebagai Ukuran Keaslian Iman
Selain Kitab Suci, Tradisi Gereja awal memberikan dukungan historis yang kuat bagi doktrin suksesi apostolik. Para Bapa Gereja melihat kesinambungan uskup sebagai tanda keaslian iman. Santo Ireneus dari Lyon menegaskan bahwa ajaran sejati dapat dikenali melalui garis kepemimpinan yang bersambung langsung dengan para rasul.
Dalam karyanya Against Heresies, Ireneus menunjukkan bahwa Gereja Roma memiliki daftar uskup yang dapat ditelusuri hingga Petrus dan Paulus. Bagi Gereja perdana, suksesi bukan sekadar urusan administratif, melainkan sarana untuk menjaga kemurnian ajaran rasuli. Dengan cara ini, iman tetap hidup dalam kesatuan dan kebenaran.
Makna Teologis: Roh Kudus Bekerja dalam Kesinambungan Gereja
Yesus menjanjikan kehadiran Roh Kudus yang akan membimbing Gereja sepanjang zaman:
“Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13).
Janji ini terwujud dalam kehidupan Gereja yang berkesinambungan. Roh Kudus bekerja melalui para pelayan yang ditetapkan secara sah, menjaga Gereja tetap setia pada Injil. Suksesi apostolik menjadi tanda bahwa Gereja hidup dalam bimbingan Roh yang sama yang berkarya pada zaman para rasul.
Dengan demikian, Gereja Katolik memandang suksesi sebagai rahmat. Melalui kesinambungan ini, Gereja tetap menjadi sakramen keselamatan yang hadir secara historis dan nyata di tengah dunia.
Kesinambungan sebagai Tanda Kesetiaan
Suksesi apostolik menunjukkan bahwa Gereja Katolik hari ini adalah Gereja yang sama dengan Gereja para rasul. Dalam alur sejarah yang panjang, iman diteruskan tanpa terputus. Kesinambungan ini memberi kesaksian bahwa Gereja hidup dari kesetiaan, bukan dari perubahan selera zaman.
Melalui suksesi yang jelas dan nyata, Gereja menjaga amanat Kristus, merawat warisan iman, dan menghadirkan Injil secara autentik bagi setiap generasi.
Paus sebagai Penerus Tahta Petrus: Kesinambungan Kuasa Pelayanan
Dalam tradisi Gereja Katolik, Paus dipahami sebagai pengganti Petrus, bukan karena keunggulan pribadi, melainkan karena kesinambungan pelayanan yang ditetapkan oleh Kristus sendiri. Pemahaman ini berakar langsung pada Kitab Suci dan diteguhkan oleh praktik Gereja sejak abad pertama.
Yesus memberikan kepada Petrus perutusan yang bersifat khusus dan publik. Dalam Injil Matius, mandat ini dinyatakan secara eksplisit:
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga” (Matius 16:18–19).
Pemberian kunci merupakan simbol otoritas pemerintahan rohani, selaras dengan tradisi Perjanjian Lama tentang pemegang kunci istana Daud (bdk. Yesaya 22:22). Dengan demikian, kuasa yang diberikan kepada Petrus bersifat struktural dan berkelanjutan, bukan sementara atau personal semata.
Kesinambungan perutusan Petrus ditegaskan kembali setelah kebangkitan Kristus. Dalam Injil Yohanes, Yesus mempercayakan tugas penggembalaan universal kepada Petrus:
“Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15–17).
Perintah ini diulang tiga kali, menandakan peneguhan misi yang menyeluruh. Petrus dipanggil untuk menggembalakan seluruh kawanan, bukan sebagian. Karena Gereja hidup melampaui usia seorang rasul, maka tugas penggembalaan ini secara logis dan teologis diteruskan kepada para penerusnya.
Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan peran kepemimpinan Petrus secara nyata dalam Gereja perdana. Ia tampil sebagai juru bicara para rasul (Kisah Para Rasul 2:14), pemimpin dalam pengambilan keputusan (Kisah Para Rasul 1:15), dan figur pemersatu Gereja (Kisah Para Rasul 15). Peran ini kemudian diwariskan melalui suksesi uskup Roma, karena Petrus mengakhiri pelayanannya di Roma dan Gereja Roma sejak awal diakui memiliki otoritas khusus.
Tradisi Gereja perdana menegaskan pemahaman ini. Santo Ireneus dari Lyon menyebut Gereja Roma sebagai Gereja yang memiliki “kepemimpinan yang unggul” karena kesinambungannya dengan Petrus dan Paulus.
Dengan demikian, Paus dipahami sebagai penjaga kesatuan Gereja universal dan pelayan para pelayan Allah.
Secara teologis, Paus bukan sumber kebenaran iman, melainkan penjamin kesetiaan terhadap iman rasuli. Kuasa Paus bersifat pelayanan, sebagaimana ditegaskan oleh Kristus sendiri:
“Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26).
Dengan demikian, penyebutan Paus sebagai pengganti tahta Petrus bukan klaim dominasi, melainkan pengakuan akan tanggung jawab historis dan rohani untuk menjaga kesatuan, iman, dan perutusan Gereja di sepanjang zaman.