Roma Tetap Utama sebagai Pusat Kristen

Roma Tetap Utama sebagai Pusat Kristen
Roma locuta, causa finita: Roma Tetap Utama sebagai Pusat Kristen. Ist.

Oleh Jack Dambe

Jack Dambe salah satu dari segelintir Katolik yang "rajin" bersoal-jawab dengan siapa saja di media sosial terkait topik Katolik, sebagai ibu Gereja yang meneruskan tradisi suci dan suksesi apostolik sepanjang zaman hingga hari ini. Warga Katolik sebaiknya mengikuti narasi Katolik juga, apalagi dari Magisterium dan referensi Katolik yang tepercaya utuh, satu, kudus, katolik, dan apostolik. Ada post-truth yang dijawabnya. Ada mispersepsi. Pula ada penggiringan opini. Silakan terus ikuti Katekese dan literasi khas Katolik hanya di mimbar dan sumber Katolik-resmi dan tepercaya.

Redaksi.

Saya menulis ini sebagai tanggapan terhadap narasi dari saudara Loya Latoya yang dengan sengaja menggiring opini bahwa Gereja Katolik "mengada-ada" soal posisi Roma sebagai pusat Kekristenan. Saudara Latoya dalam narasinya mencoba menggunakan urutan waktu untuk mengecilkan peran Roma. 

Saya tertarik untuk menjawab keberatan saudara Latoya  ini sebagai bahan katekes untuk umat Katolik yang tertarik untuk mengetahui Sejarah awal Gereja, bagaimana fondasi teologi dibangun dan apa implikasinya pada Gereja hari ini. Kita langsung saja menilik klaim Latoya sebagai wakil dari pandangan denominasi protestan pada umumnya, dan jawaban Gereja Katolik terhadapnya. 

1. Latoya: "Yerusalem, yang paling tua, titik nol... Tidak ada perdebatan di sini."

Jawab: Benar, Yerusalem adalah rahim tempat Gereja dilahirkan. Namun, dalam logika teologis, rahim bukanlah tahta permanen.  seolah ingin mengunci otoritas Kristen di Yerusalem. Namun, jika kita membaca Kitab Suci dengan teliti, Roh Kudus justru mendorong Gereja untuk keluar dari Yerusalem.

Yerusalem adalah "Gereja Ibu", tetapi Petrus adalah "Batu Karang". Gereja Katolik menghormati Yerusalem sebagai titik awal, namun otoritas kunci yang diberikan Kristus kepada Petrus (Mat 16:19) tidak terpaku pada tanah kelahiran, melainkan pada pribadi Petrus. Bayi yang lahir di rumah bersalin tidak wajib menjadikan ruang persalinan sebagai pusat hidupnya selamanya. Otoritas itu bergerak bersama sang pemegang kunci.

2. Latoya: "Antiokhia... Basis misi Paulus... Gereja multi-etnis pertama."

Jawab: Latoya sangat memuji Antiokhia, namun tampak sengaja "lupa" menyebutkan siapa yang membangun pondasi di sana: Santo Petrus. Sebelum ke Roma, Petrus adalah Uskup pertama Antiokhia.

Iman Katolik melihat Antiokhia sebagai bukti bahwa otoritas Petrus itu bersifat mobile. Namun, yang menohok bagi argumen Latoya adalah fakta sejarah dari St. Ignasius dari Antiokhia (Uskup ketiga Antiokhia, wafat ±107 M). Meskipun ia memimpin kota "tua nomor dua" versi penulis, dalam suratnya Ignasius justru menulis bahwa Gereja Romalah yang "mengetuai dalam kasih". Jika Antiokhia merasa lebih hebat karena lebih tua, mengapa uskupnya sendiri tunduk pada Roma? Jawabannya sederhana: Otoritas bukan soal siapa yang lebih dulu buka cabang, tapi soal di mana pusat komando berada.

3. Latoya: "Roma... Tua, tapi bukan yang paling awal."

Jawab: Di sinilah letak kekeliruan logika yang paling lucu. Latoya memperlakukan Gereja seperti antrean sembako, siapa yang datang duluan, dia yang paling berhak. Dalam sejarah keselamatan, Tuhan terkadang memilih yang "bungsu" atau yang datang "belakangan" untuk memimpin (ingat Yakub dan Esau, atau Daud).

Roma memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki Yerusalem, Antiokhia, atau Edessa. Roma adalah satu-satunya kota yang disucikan oleh darah dua soko guru Gereja sekaligus, Petrus dan Paulus. Secara sosiologis, Roma memang dibangun oleh diaspora, tetapi secara eklesiologis, Roma dikonsolidasikan oleh martir puncaknya. Mengatakan Roma tidak utama karena bukan yang pertama sama saja dengan mengatakan Washington DC tidak penting karena Jamestown dibangun lebih dulu. Otoritas ditentukan oleh fungsi dan penetapan ilahi, bukan tanggal akta notaris.

4. Latoya: "Kekristenan tidak lahir di Eropa, tapi di Timur Tengah & Afrika."

Jawab: Ini adalah argumen ad hominem yang mencoba membenturkan Gereja Katolik dengan sentimen anti-Barat. Gereja Katolik tidak pernah mengklaim Yesus lahir di Roma atau makan pizza di Vatikan.

Keistimewaan Roma justru terletak pada keberanian para Rasul untuk menyerbu jantung kekaisaran pagan yang paling kejam. Tuhan memilih Roma bukan karena itu "Eropa", tapi karena Roma adalah Caput Mundi (Kepala Dunia). Dengan menaklukkan Roma lewat iman, Injil bisa mengalir melalui jalan-jalan Romawi ke seluruh pelosok dunia. Roma menjadi pusat karena ia adalah "panggung utama" peperangan antara Kerajaan Allah dan Kerajaan Dunia. Menolak posisi Roma hanya karena letak geografisnya adalah tindakan yang mengabaikan strategi Roh Kudus dalam menyebarkan iman secara universal (Katolik)

Kesimpulan untuk Katekese: 

Umat Katolik harus paham: Senioritas waktu tidak sama dengan Keutamaan Otoritas. Yerusalem adalah sejarah kita, Antiokhia adalah kawan seperjalanan kita dan Roma adalah pusat kesatuan kita. Roma menjadi pusat bukan karena ia "paling tua", tapi karena di sanalah Petrus dan Paulus  memberikan kesaksian darah terakhirnya, mengunci janjinya kepada Kristus, dan mewariskan takhtanya kepada para penerusnya (Paus). Tanpa Roma sebagai pusat kesatuan, Kekristenan akan pecah menjadi ribuan faksi lokal (seperti yang terjadi pada banyak komunitas non-Katolik hari ini). Kita adalah Katolik karena kita satu, kudus, dan apostolik, yang terhubung secara tak terputus dengan garis suksesi dari Santo Petrus yang ada di Roma. 

AMDG

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org