Maria, Tabut Perjanjian Baru
| Maria dalam tradisi dan ajaran Gereja Katolik banyak gelar, salah satunya: Tabut Perjanjian Baru. Ist. |
Oleh Sr. Felicia Tesalonika
Gagal-paham orang di luar Katolik, tidak dapat membedakan antara penyembaan dan penghormatan. Penyembahan hanya kepada Tuhan, namun penghormatan kepada Maria dan orang kudus.
Dalam tradisi iman Katolik, Maria tidak pernah dipahami secara terpisah dari Kristus.
Seluruh kehormatan (bukan penyembahan) yang diberikan kepadanya selalu bersifat kristosentris. Maria dihormati karena perannya yang unik dalam misteri Inkarnasi.
Sebagaimana Tabut Perjanjian Lama menjadi tempat kehadiran Allah di tengah Israel, Maria dipahami sebagai bejana suci yang mengandung Sabda yang menjadi manusia. Dalam terang iman Gereja, Maria bukan “objek pengganti” Kristus, melainkan ruang ketaatan tempat Allah berkenan hadir secara nyata dalam sejarah keselamatan.
Tabut Perjanjian dalam Kitab Suci: Simbol Kehadiran Allah
Dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian (Ibrani: *Aron ha-Berit*) memiliki makna teologis yang sangat mendalam. Tabut itu berisi loh hukum Taurat, buli-buli berisi manna, dan tongkat Harun yang berbunga (bdk. Ibr. 9:4). Ketiganya melambangkan firman Allah, pemeliharaan ilahi, dan imamat pilihan Allah. Lebih dari sekadar benda ritual, Tabut merupakan tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya (Kel. 25:22).
Tabut itu dibuat dari kayu pilihan, dilapisi emas murni, dan ditempatkan di ruang maha kudus. Tidak sembarang orang boleh menyentuhnya. Kekudusan Tabut bukan berasal dari bahannya, melainkan dari Allah yang berdiam di atasnya. Dengan demikian, Tabut adalah ruang perjumpaan antara Allah yang transenden dan umat manusia.
Tradisi Gereja melihat bahwa segala simbol dalam Perjanjian Lama mencapai kepenuhannya dalam Kristus. Jika Tabut Lama mengandung firman Allah dalam bentuk loh batu, maka Maria mengandung Firman Allah yang hidup. Inilah dasar biblis awal yang memungkinkan Gereja membaca Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru tanpa mereduksi makna Kristus, justru untuk menegaskan keilahian-Nya.
Maria dalam Injil Lukas: Tipologi yang Disengaja
Injil Lukas memberikan landasan Kitab Suci yang sangat kuat bagi tipologi Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru. Dalam kisah Kabar kepada Maria (Luk. 1:26–38), Malaikat Gabriel menyatakan bahwa Roh Kudus akan “menaungi” Maria (Yunani: *episkiazō*). Kata yang sama digunakan dalam Septuaginta untuk menggambarkan awan kemuliaan Allah yang menaungi Tabut Perjanjian (Kel. 40:35). Pilihan kata ini bukan kebetulan literer, melainkan indikasi teologis yang disengaja.
Paralel semakin jelas dalam peristiwa Maria mengunjungi Elisabet (Luk. 1:39–45). Daud berseru, “Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?” (2Sam. 6:9). Elisabet, dalam kepenuhan Roh Kudus, berseru, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:43). Daud melonjak-lonjak di hadapan Tabut; Yohanes Pembaptis melonjak dalam rahim Elisabet. Tabut tinggal tiga bulan di rumah Obed-Edom; Maria tinggal kira-kira tiga bulan di rumah Elisabet.
Semua paralel ini menunjukkan bahwa Lukas secara sadar membingkai Maria dalam simbolisme Tabut. Maria bukan sekadar ibu biologis Yesus, melainkan tempat kehadiran ilahi yang membawa Kristus kepada dunia.
Tradisi Gereja dan Ajaran Magisterium
Pemahaman Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru telah hadir sejak masa Gereja perdana. Santo Athanasius, Santo Ambrosius, dan Santo Yohanes Damaskus menggunakan bahasa tabut untuk menjelaskan kekudusan Maria. Bagi mereka, Maria adalah “bejana yang dipilih Allah”, bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena rahmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Konsili Vatikan II, khususnya dalam Lumen Gentium pasal 53–69, menegaskan bahwa Maria “sepenuhnya bergantung pada Kristus dan sepenuhnya terarah kepada-Nya”. Gelar dan peran Maria selalu harus dipahami dalam kerangka misteri Kristus dan Gereja. Dengan demikian, gelar Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru tidak berdiri sendiri, melainkan berfungsi untuk menegaskan kebenaran iman akan Inkarnasi.
Katekismus Gereja Katolik (KGK) menegaskan bahwa Maria “dipenuhi rahmat” sejak awal hidupnya (KGK 490–493). Kekudusan Maria bukan hasil usaha moral semata, melainkan karya rahmat Allah yang mempersiapkannya sebagai tempat tinggal Putra-Nya. Di sinilah makna terdalam dari tipologi Tabut: Allah sendiri yang menguduskan tempat kediaman-Nya.
Implikasi Teologis dan Spiritualitas Gereja
Memahami Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru memiliki implikasi penting bagi iman Katolik. Pertama, hal ini menegaskan realitas Inkarnasi secara konkret dan historis. Kristus tidak hadir secara simbolik, melainkan sungguh-sungguh mengambil daging dari Maria. Tubuh Maria menjadi ruang nyata bagi karya keselamatan Allah.
Kedua, tipologi ini meneguhkan ajaran tentang martabat tubuh manusia. Jika Allah berkenan berdiam dalam rahim seorang perempuan, maka tubuh manusia memiliki nilai teologis yang luhur. Spiritualitas Katolik, dengan demikian, menolak segala bentuk dualisme yang merendahkan tubuh.
Ketiga, Maria sebagai Tabut menjadi ikon Gereja. Sebagaimana Maria mengandung Kristus dan membawanya kepada dunia, Gereja dipanggil untuk mengandung Kristus dalam iman dan menghadirkannya dalam kehidupan nyata melalui sakramen dan kesaksian kasih. Maria adalah figura Ecclesiae yakni gambar Gereja yang setia dan taat.
Akhirnya, devosi kepada Maria tidak pernah berhenti pada Maria sendiri. Ia selalu menunjuk kepada Kristus. Seperti Tabut Perjanjian Lama yang tidak disembah, tetapi dihormati karena kehadiran Allah di dalamnya, demikian pula Maria dihormati karena Kristus yang dikandung dan dilahirkannya bagi keselamatan dunia.
Daftar Pustaka
Brown, R. E. (1993). The Birth of the Messiah. New York: Doubleday.
Gereja Katolik. (1994). Katekismus Gereja Katolik. Jakarta: Obor.
Konsili Vatikan II. (1964). Lumen Gentium. Vatican City.
St. Athanasius. (1996). On the Incarnation. Crestwood: St. Vladimir’s Seminary Press.
St. John Damascene. (2011). Homilies on the Dormition. Yonkers: St. Vladimir’s Seminary Press.
Hahn, S. (2001). Hail, Holy Queen: The Mother of God in the Word of God. New York: Doubleday.
Ratzinger, J. (Paus Benediktus XVI). (1987). Mary: The Church at the Source. San Francisco: Ignatius Press.