Agar Bangku Gereja Tetap Dliputi oleh Anak Muda

Agar Bangku Gereja Tetap Dliputi oleh Anak Muda
Agar bangku gereja dipenuhi anak muda kembali, perlu kesadaran dan penyadaran. Bahwa komunio itu perlu. Ist.

Minggu pagi.

Gereja perlahan mulai dipenuhi umat. Suara lonceng terdengar. Lagu pembuka dinyanyikan. Satu per satu umat mengambil tempat duduknya.

Namun, ada satu pemandangan yang mungkin sering luput dari perhatian.

Baca Spirit Exsurge Domine Paus Leo X dan Ancaman terhadap Pokok-Pokok Iman Katolik Hari Ini

Di antara bangku-bangku gereja yang terisi, wajah anak muda terasa semakin jarang terlihat.

Bukan berarti mereka benar-benar menghilang. Mereka masih ada. Hanya saja, sebagian dari mereka mungkin lebih sibuk dengan dunianya sendiri.

Ada yang sibuk dengan sekolah dan tugas-tugas yang seakan tidak pernah selesai. Ada yang tenggelam dalam kesibukan organisasi dan komunitas. Ada pula yang menghabiskan waktu berjam-jam bersama layar ponsel, menikmati media sosial, mengikuti tren, menonton berbagai konten, atau sekadar menggulir layar tanpa terasa waktu telah berlalu.

Sementara itu, pergi ke gereja perlahan tidak lagi menjadi prioritas.

Bagi sebagian anak muda, gereja mungkin hanya kembali ramai ketika Natal dan Paskah tiba. Pada dua perayaan besar itu, bangku-bangku gereja kembali dipenuhi. Wajah-wajah yang jarang terlihat pada hari Minggu biasa kembali hadir.

Setelah itu?

Kembali sepi.

Pemandangan seperti ini tentu mengundang sebuah pertanyaan yang tidak sederhana.

Apakah anak muda benar-benar telah kehilangan iman?

Ataukah sebenarnya mereka tidak kehilangan iman, tetapi sedang mengalami perubahan cara dalam mencari, memahami, dan menghidupi iman?

Baca Katedral: Tradisinya Kursi Seorang Uskup Katolik

Pertanyaan ini layak direnungkan bersama.

Sebab, anak muda hari ini hidup dalam dunia yang berbeda.

Mereka lahir dan bertumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Informasi dapat diperoleh hanya dalam beberapa sentuhan jari. Dunia yang dahulu terasa jauh kini hadir di depan mata melalui layar ponsel.

Media sosial menjadi ruang tempat mereka berinteraksi, menemukan informasi, membangun relasi, bahkan membentuk cara pandang terhadap kehidupan.

Dunia anak muda berubah.

Dan perubahan dunia tentu ikut memengaruhi cara mereka memandang banyak hal, termasuk iman.

Generasi sebelumnya mungkin mengenal iman terutama melalui keluarga, lingkungan, sekolah, dan Gereja. Sementara generasi hari ini memiliki begitu banyak sumber untuk mencari jawaban.

Mereka dapat bertanya kepada mesin pencari.

Mereka dapat menonton video.

Mereka dapat membaca berbagai pandangan.

Mereka dapat berdiskusi dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Di tengah derasnya arus informasi itu, suara Gereja bukan lagi satu-satunya suara yang mereka dengarkan.

Di sinilah tantangannya.

Bukan hanya bagi Gereja, tetapi juga bagi anak muda itu sendiri.

Sebab, ketika seseorang terlalu sibuk dengan dunia di luar dirinya, terkadang ia lupa untuk melihat ke dalam.

Baca Konsili Trente Menjawab Martin Luther dan Gerakan Reformasi Protestan

Anak muda bisa begitu sibuk mengejar nilai, prestasi, popularitas, pengakuan, dan berbagai pencapaian. Mereka sibuk membangun citra diri di media sosial. Sibuk mengikuti apa yang sedang viral. Sibuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Namun, pernahkah kita berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:

"Sebenarnya, apa yang sedang aku cari dalam hidup ini?"

Pertanyaan semacam itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi, tidak semua orang berani menjawabnya.

Ada kalanya seseorang baru menyadari bahwa dirinya membutuhkan iman ketika hidup mulai terasa berat. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ketika kegagalan datang. Ketika merasa sendirian meskipun dikelilingi banyak orang.

Pada saat-saat seperti itu, manusia sering kali baru menyadari bahwa dirinya tidak cukup kuat jika hanya mengandalkan dirinya sendiri.

Dan mungkin, di situlah kita memahami bahwa iman bukan sekadar tentang pergi ke gereja.

Iman adalah tentang mengenal diri sendiri, mengenal Tuhan, dan menemukan arah dalam perjalanan hidup.

Karena itu, anak muda sebenarnya sangat membutuhkan iman.

Bukan iman yang hanya hadir ketika Natal dan Paskah.

Bukan iman yang hanya terlihat ketika seseorang duduk di bangku gereja.

Tetapi iman yang hidup dalam keseharian.

Iman yang membantu seseorang mengambil keputusan.

Iman yang membuat seseorang tetap berdiri ketika mengalami kegagalan.

Iman yang mengajarkan untuk tetap memiliki harapan ketika dunia terasa tidak baik-baik saja.

Lalu, bagaimana anak muda dapat kembali menemukan ruang untuk bertumbuh dalam iman?

Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam Orang Muda Katolik atau OMK.

OMK tidak seharusnya dipandang hanya sebagai "panitia acara Gereja".

OMK bukan sekadar kumpulan anak muda yang dipanggil ketika Gereja membutuhkan tenaga untuk mempersiapkan kegiatan. Bukan hanya mereka yang bertugas menjadi panitia Natal, Paskah, atau berbagai kegiatan paroki.

OMK adalah bagian penting dari kehidupan Gereja.

Di dalam OMK, anak muda memiliki ruang untuk hadir sebagai dirinya sendiri. Mereka dapat bertemu dengan sesama anak muda, berbagi cerita, berdiskusi, belajar, berproses, dan bertumbuh bersama dalam iman.

Baca Clare Crockett, Aktris Irlandia yang Menjadi Biarawati

Lebih dari itu, anak muda juga diberi kesempatan untuk berinisiatif dan berkarya.

Mereka bukan hanya penerima kegiatan.

Mereka adalah bagian dari Gereja yang dapat menciptakan sesuatu.

Di sinilah OMK menjadi penting.

Sebab, terkadang seorang anak muda tidak membutuhkan ceramah panjang untuk kembali mengenal imannya. Ia mungkin hanya membutuhkan sebuah komunitas yang mau mendengarkan.

Seseorang yang berkata, "Kamu boleh datang."

Sebuah ruang yang membuatnya merasa diterima.

Sebuah kelompok yang membuatnya sadar bahwa perjalanan iman tidak harus dilalui seorang diri.

Mungkin, dari sanalah sesuatu dapat dimulai kembali.

Bukan dengan paksaan.

Bukan dengan menghakimi.

Tetapi dengan kesadaran.

Kesadaran bahwa di tengah dunia yang semakin maju, manusia tetap membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar informasi.

Anak muda boleh mengenal teknologi.

Boleh aktif di media sosial.

Boleh mengejar pendidikan dan cita-cita.

Boleh membangun karier dan masa depan.

Namun, jangan sampai dalam perjalanan mengejar semuanya itu, anak muda lupa mengenal dirinya sendiri.

Sebab, ada ruang dalam diri manusia yang tidak dapat diisi hanya dengan kesibukan.

Ada kerinduan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan scrolling media sosial.

Ada pertanyaan hidup yang tidak selalu dapat dijawab oleh mesin pencari.

Dan mungkin, di ruang yang sunyi itu, iman memiliki tempatnya.

Maka, ketika bangku gereja mulai sepi dari anak muda, mungkin kita tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa mereka telah kehilangan iman.

Mungkin mereka sedang mencari.

Mungkin mereka sedang bertanya.

Mungkin mereka sedang berjalan terlalu jauh dalam dunia mereka sendiri hingga lupa bahwa ada satu tempat yang selalu terbuka untuk mereka pulang.

Namun, anak muda juga perlu menyadari satu hal.

Iman bukan sekadar sesuatu yang diwariskan. Iman adalah sesuatu yang perlu ditemukan, dihidupi, dan diperjuangkan.

Karena menjadi muda bukan berarti tidak membutuhkan Tuhan.

Justru di tengah masa muda yang penuh pilihan, perubahan, tekanan, dan ketidakpastian, iman dapat menjadi kekuatan untuk menentukan arah.

Natal mungkin datang setahun sekali.

Paskah mungkin dirayakan setahun sekali.

Tetapi perjalanan iman berlangsung setiap hari.

Dan mungkin, sudah saatnya anak muda kembali bertanya kepada dirinya sendiri:

"Di tengah kesibukan mengejar masa depan, apakah aku masih memberi ruang bagi Tuhan dalam hidupku?"

Baca Exsurge Domine, Bulla Paus Leo X Memperingatkan Luther sekaligus Seruan Pembelaan Gereja

Gereja bukan hanya tentang bangunan. Bukan hanya tentang bangku yang terisi. Gereja adalah tentang manusia yang berjalan bersama dalam iman. Di dalam perjalanan itu, anak muda bukan sekadar penonton.

Anak-anak muda adalah bagian dari Gereja. Mereka adalah masa kini Gereja. Dan mereka memiliki tempat untuk pulang.

Kita merindukan gereja kembali dipenuhi anak-anak muda. Agar bangku gereja dipenuhi anak muda kembali, perlu kesadaran dan penyadaran. Bahwa komunio itu perlu. 

Penulis: Rasti

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org