Purgatorium Ditolak Protestan karena Bertentangan dengan Doktrin Sola Fide dan tak Terdapat dalam Alkitabnya
| Bagi Katolik, Purgatorium adalah pemurnian jiwa sebelum surga, didukung Kitab Suci tradisi. Ist. |
Mengapa Protestan menolak Purgatorium? Karena mereka tidak mengakui Kitab Makabe (2 Makabe 12:39-46) dan 7 Kitab Deuterokanonika sebagai kanon Alkitab.
Mengapa Protestan Menolak Purgatorium? Penjelasan Lengkap soal Kitab Makabe dan Deuterokanonika yang Jadi Penyebab Utama
Mengapa Topik Purgatorium Selalu Jadi Kontroversi meski Katolik telah Final?
Dalam diskusi antar denominasi Kristen, salah satu doktrin yang paling sering menjadi perdebatan adalah Purgatorium atau api penyucian.
Baca Exsurge Domine, Bulla Paus Leo X Memperingatkan Luther sekaligus Seruan Pembelaan Gereja
Bagi umat Katolik, Purgatorium adalah keadaan pemurnian jiwa setelah mati sebelum masuk surga. Ada di Kitab Suci. Baik tradisi maupun ayatnya. Sangat terang benderang. Namun, bagi umat Protestan, doktrin ini tidak ada dalam Alkitab mereka.
Apa alasan utamanya?
Protestan tidak mengakui Kitab Makabe (khususnya 2 Makabe 12:39-46) dan tujuh Kitab Deuterokanonika sebagai bagian kanon Alkitab yang sah.
Perbedaan kanon ini menjadi akar penolakan Protestan terhadap Purgatorium. Kita akan telusuri sejarah kanon Alkitab, teks asli Kitab Makabe, argumen kedua belah pihak, hingga implikasinya bagi iman Kristen hari ini.
Apa Itu Purgatorium dalam Ajaran Katolik?
Purgatorium bukan “tempat neraka sementara” atau “kesempatan kedua”. Menurut Katekismus Gereja Katolik (No. 1030-1032), Purgatorium adalah "keadaan pemurnian" bagi jiwa yang meninggal dalam kasih karunia Allah tetapi masih membawa noda dosa ringan atau hukuman sementara. Jiwa ini disucikan oleh api kasih Allah agar layak masuk surga yang kudus.
Baca Sola Scriptura tidak Dikenal Gereja Perdana
Doktrin ini didasarkan pada:
- Tradisi Gereja sejak abad pertama.
- Praktik doa bagi orang mati yang sudah ada di Yudaisme pra-Kristen.
- Ayat-ayat Alkitab, termasuk yang ada di Deuterokanonika.
Tanpa Kitab Deuterokanonika, banyak Protestan berpendapat tidak ada dasar Alkitabiah yang jelas untuk Purgatorium. Tapi benarkah demikian? Mari kita bedah akar masalahnya.
Sejarah Kanon Alkitab: Mengapa Ada Perbedaan Katolik vs Protestan?
Kanon Alkitab bukan “dibuat” di abad ke-16, melainkan dikukuhkan secara bertahap oleh Gereja perdana. Yesus dan para Rasul menggunakan Septuaginta (terjemahan Yunani Perjanjian Lama, abad ke-3 SM), yang sudah mencakup kitab-kitab Deuterokanonika seperti Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 & 2 Makabe, serta tambahan Ester dan Daniel.
Konsili awal yang menetapkan kanon lengkap:
- Sinode Hippo (393 M)
- Konsili Kartago (397 M & 419 M) – dihadiri Santo Agustinus
- Konsili Roma (382 M) di bawah Paus Damasus I
Ketujuh kitab ini disebut Deuterokanonika (kanon kedua) oleh Gereja Katolik karena kanonisasinya dikonfirmasi belakangan dibandingkan protokanonika (39 kitab yang sama dengan Alkitab Ibrani). Namun, bukan berarti ditambahkan baru. Kitab-kitab ini sudah dibaca di Gereja sejak abad pertama.
Pada abad ke-16, Reformasi Protestan terjadi. Martin Luther, yang menolak praktik indulgensi dan mengajarkan Sola Fide (keselamatan hanya oleh iman saja) serta Sola Scriptura (hanya Alkitab), melihat Kitab 2 Makabe sebagai ancaman. Kitab ini mendukung doa bagi orang mati dan korban untuk pengampunan dosa – yang Luther anggap bertentangan dengan ajarannya. Akibatnya, Luther memindahkan tujuh kitab itu ke bagian “Apokrifa” (buku bacaan saja, bukan kanon). Alkitab Protestan pun hanya berisi 66 kitab (39 PL + 27 PB), sedangkan Alkitab Katolik 73 kitab.
Konsili Trente (1546) merespons dengan mengukuhkan kembali kanon lengkap yang sudah ada sejak abad ke-4, termasuk Deuterokanonika, dengan anatema bagi yang menolaknya.
Kitab 2 Makabe 12:39-46 – “Bukti Emas” Purgatorium yang Ditolak Protestan
Inilah ayat paling sering dikutip Katolik untuk Purgatorium. Berikut teks lengkap dari Alkitab Katolik berbahasa Indonesia:
“Pada hari berikutnya, sebagaimana pada masa itu dipandang perlu, Yudas dan anak buahnya pergi mengumpulkan jenazah orang yang telah gugur dalam pertempuran untuk dikuburkan di perkuburan keluarga. Tetapi tersembunyi di sebelah dalam pakaian setiap jenazah, mereka menemui azimat patung-patung kota Yamnia. [...] Lalu mereka memuji tindakan Tuhan, hakim yang adil [...] Kemudian dia mengumpulkan sumbangan daripada anak buahnya, dan wang yang terkumpul seluruhnya berjumlah lima ratus keping wang perak. Wang itu dikirimnya ke Yerusalem untuk menyediakan korban untuk mengampunkan dosa. Yudas melakukan perbuatan yang luhur itu kerana dia percaya pada kebangkitan orang mati. Jika dia tidak percaya bahawa orang mati akan bangkit semula, maka bodohlah dan sia-sialah untuk mendoakan mereka. Yudas yakin bahawa orang yang salih akan menerima pahala yang indah dan fikirannya itu sungguh suci dan luhur. Oleh sebab itu dia mengadakan korban untuk mengampunkan dosa, supaya semua orang yang sudah mati itu dilepaskan daripada dosa mereka.” (2 Makabe 12:39-46)
Ayat ini menunjukkan:
- Doa dan korban untuk orang mati yang berdosa.
- Keyakinan bahwa doa tersebut efektif untuk “melepaskan dari dosa”.
- Ini dilakukan karena harapan kebangkitan.
Bagi Katolik, ini adalah bukti historis bahwa umat Yahudi pra-Kristen (abad ke-2 SM) sudah percaya pemurnian setelah mati. Yesus dan Rasul tidak pernah menolak praktik ini.
Bukti Purgatorium dari Kitab yang Diterima Semua Denominasi
Meski Protestan tolak Deuterokanonika, Katolik juga mengutip ayat proto-kanon:
- 1 Korintus 3:11-15. “Karya seseorang akan diuji dengan api… jika karya itu terbakar habis, ia akan menderita kerugian; tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti orang yang luput dari api.”
- Matius 12:32. “Dosa yang tidak diampuni, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang” ayat ini menyiratkan ada pengampunan di akhirat.
- Matius 5:26. “Engkau tidak akan keluar dari sana sampai engkau membayar hutangmu sampai habis.”
- Tradisi Bapa Gereja seperti Origenes, Ambrosius, dan Gregorius Agung yang bicara soal pemurnian oleh api.
Alasan Protestan Menolak Kitab Makabe dan Deuterokanonika
1. Tidak ada dalam Kanon Ibrani. Mereka ikut keputusan Konsili Jamnia (90 M) yang hanya pakai 39 kitab PL Ibrani.
2. Tidak dikutip langsung di Perjanjian Baru. Meski sebenarnya ada alusi (misalnya Ibrani 11:35 merujuk 2 Makabe 7).
3. Bertentangan dengan Sola Fide. 2 Makabe mendukung doa bagi mati dan korban untuk pengampunan dosa; Tobit 12:9 bilang sedekah menghapus dosa.
4. Martin Luther secara pribadi. Saat debat dengan Johann Eck (1519), Luther ditantang soal Purgatorium lewat 2 Makabe. Ia langsung bilang kitab itu “tidak kanonik” karena mendukung doktrin yang ia tolak. Luther bahkan ragu-ragu terhadap Yakobus, Ibrani, dan Wahyu.
Baca Johann Eck dan Fondasi Teologisnya dalam Melawan Martin Luther
Protestan berargumen: “Jika Purgatorium benar, mengapa tidak ada di 66 kitab yang kami pakai? Doa bagi mati sia-sia karena setelah mati langsung penghakiman (Ibrani 9:27).”
Tanggapan Katolik: Mengapa Deuterokanonika Tetap Sah?
- Gereja, bukan Yahudi pasca-Kristen, yang menentukan kanon.
Konsili Jamnia adalah reaksi anti-Kristen; mereka juga tolak Injil. - Septuaginta yang dipakai Yesus.
Rasul-rasul mengutip Septuaginta ratusan kali. - Tradisi Apostolik.
Doa bagi orang mati sudah dipraktikkan sejak abad pertama (lihat prasasti kuburan Kristen awal). - Luther inkonsisten.
Luther menolak kitab karena doktrin, bukan karena bukti historis. Konsili Trente hanya mengukuhkan apa yang sudah diyakini 1.100 tahun sebelumnya.
Tanpa Deuterokanonika, Protestan kehilangan konteks lengkap tentang doa bagi mati yang sudah ada dalam Yudaisme masa Yesus.
Perbedaan Kanon, bukan Perbedaan Iman Inti
Protestan menolak Purgatorium karena mereka tidak memiliki Kitab Makabe dan Deuterokanonika. Bukan karena mereka “kurang beriman”, melainkan karena pilihan kanon yang berbeda sejak Reformasi. Dan menerima Purgatorium bertentangan dengan doktrin sola fide.
Baca "Tradisi" Disebut 12 Kali dalam Alkitab dan Diminta untuk Diteruskan
Bagi Katolik, doktrin ini adalah ungkapan kasih Allah yang sempurna. Kasih Allah tidak hanya mengampuni, tapi juga memurnikan kita sepenuhnya.
Doa bagi orang mati bukan pengganti iman, melainkan perwujudan kasih persaudaraan yang melampaui maut.
Bacalah sendiri 2 Makabe 12 dan renungkan: apakah perbuatan Yudas “luhur” itu sia-sia?