Senin Suci
Oleh P Jack Dambe CjdMaria merespons Sang Hamba Yahweh dengan cinta yang boros. FB JD.
Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, Senin Suci adalah titik awal eskalasi ketegangan dalam Pekan Suci.
Hari ini bukanlah sekadar ruang tunggu atau hari transit yang membosankan dari sorak-sorai daun palem di Minggu Palma menuju tragedi berdarah Jumat Agung. Sebaliknya, Senin Suci adalah momen teologis dan psikologis. Di mana Yesus secara sadar mulai melangkah dalam keheningan menuju altar pengorbanan-Nya.
Liturgi hari ini secara brilian memadukan keagungan nubuat Yesaya 42 tentang "Hamba Yahweh" yang sunyi dan tak banyak berteriak di jalanan, dengan realitas ironis di ruang makan Betania, enam hari sebelum Paskah.
Betapa absurd sekaligus agungnya makan malam itu: ada Yesus yang menatap lurus ke arah bukit Golgota tanpa mengeluh, ada Lazarus yang baru saja melakukan comeback dari kematian, sebuah pemandangan sosiologis yang pasti membuat canggung siapa pun yang semeja dengannya. Dan tentu saja, ada benturan epik antara cinta Maria dan kalkulasi Yudas Iskariot (Yohanes 12:1–11).
Bentuk "bunuh diri sosial"
Di tengah kesunyian misi Sang Hamba Yahweh, Maria masuk dan merusak tatanan rasionalitas ekonomi seketika. Ia membawa setengah kati minyak narwastu murni seharga tiga ratus dinar, atau kira-kira setara upah buruh setahun penuh. Lalu menumpahkannya begitu saja di kaki Yesus.
Secara historis, seorang wanita yang menggerai rambut untuk mengelap kaki pria di ruang publik adalah bentuk "bunuh diri sosial". Namun, teologi rahmat seringkali menertawakan keluhuran rasionalitas manusia.
Maria merespons Sang Hamba Yahweh dengan cinta yang boros, brutal, dan tanpa pamrih. Lalu, muncullah Yudas, sang "menteri keuangan" dadakan yang melontarkan kritik ala pakar ekonomi utilitarian: "Kenapa pemborosan ini?
Lebih baik dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin!" Sungguh sebuah virtue signaling yang epik di abad pertama. Injil dengan jenaka menelanjanginya: Yudas bicara begitu bukan karena ia sungguh peduli pada orang miskin, melainkan karena ia hobi mengutil uang kas.
Sikap Yudas ini, secara sosiologis dan politik, adalah cermin retak yang memantulkan wajah birokrasi Indonesia saat ini. Sungguh ironis, mentalitas Yudas Iskariot seolah menjadi prototipe favorit yang banyak dikloning oleh para elit, yang mungkin kita salah satu di dalamnya, membuat Nusantara yang bagaikan sekeping surga ini betah berlama-lama menyandang status "negara berkembang".
Padahal ketika kita bicara data dan fakta: Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia yang memegang kendali rantai pasok global masa depan, raksasa tak tertandingi dalam ekspor minyak kelapa sawit (CPO), menduduki gunung-gunung batu bara raksasa di Kalimantan dan Sumatera, serta memeluk tambang emas Grasberg di Papua yang merupakan salah satu cadangan emas dan tembaga terbesar di perut bumi.
Ratusan triliun rupiah berputar dari kekayaan alam yang luar biasa tumpah ruah ini, jauh melampaui harga tiga ratus dinar narwastu milik Maria!
Mengapa kemiskinan dan ketimpangan masih menjerat rakyat
Lantas, mengapa kemiskinan dan ketimpangan masih menjerat rakyat sedemikian erat? Jawabannya ada pada psikologi kemunafikan ala Yudas tadi. Banyak pejabat/elit kita sangat fasih menyusun proposal anggaran dan berpidato heroik berkedok "kesejahteraan rakyat", "pembangunan daerah", atau "kemanusiaan". Namun, layaknya Yudas yang memegang kantong uang perkumpulan, tangan mereka di bawah meja sibuk merampok kas negara.
Mereka mengaudit kekayaan alam dengan kacamata keserakahan, mengubah gunung emas, kebun sawit, dan jutaan ton nikel menjadi pundi-pundi oligarki pribadi, sementara rakyat miskin di sekitar wilayah tambang seringkali hanya kebagian ampas dan kerusakan ekologinya. Ini adalah kemunafikan moral berskala nasional. Namun jangan berhenti melihat para pejabat, ingat mereka itu berasal dari rakyat, dan rakyat itu adalah kita. Kalau mereka salah, itu cerminan kesalahan kita. Bahwa ada yang tidak beres dalam pendidikan moral kehidupan kita.
Nubuat Yesaya dengan tegas mengingatkan bahwa Yesus datang untuk membuka mata yang buta. Sayangnya, mata Yudas terlalu buta oleh kilauan keping perak, persis seperti para oknum pejabat dan elit yang matanya dibutakan oleh kilauan emas dan nikel, hingga gagal melihat martabat kemanusiaan rakyatnya sendiri.
Senin Suci menantang kita hari ini
Ketika berhadapan dengan salib Kristus dan realitas dunia yang terluka, Anda mau berakting menjadi Yudas, sang auditor rohani dan sosial, yang sibuk memperkaya ego sambil berteriak soal kebaikan.
Atau berani menjadi seperti Maria yang "gila," menanggalkan mahkota kehormatannya karena sungguh-sungguh mencintai.
Allah dan sesama tanpa batasan?
Keputusan di tangan Anda.