Ad Iesum per Mariam sebagai Jalan Devosi
| Penghormatan kepada Maria juga berakar dalam Injil Lukas, khususnya dalam salam malaikat Gabriel. Ist. |
Oleh Sr. Tanti Yosepha
Dalam iman Katolik, arah perjalanan rohani tidak pernah kabur. Semuanya jelas, tertuju, dan berpusat pada satu pribadi, yaitu Yesus Kristus.
Yesus bukan sekadar jalan di antara banyak jalan, melainkan satu-satunya jalan yang menghubungkan manusia dengan Allah. Injil Yohanes 14:6:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Ayat ini menjadi dasar kuat dalam teologi Kristen bahwa Yesus bukan salah satu jalan, melainkan satu-satunya jalan yang menghubungkan manusia dengan Allah.
Ad Iesum per Mariam
Dalam terang inilah ungkapan ad Iesum per Mariam dipahami. Bukan sebagai pengalihan tujuan, melainkan sebagai cara sederhana dan manusiawi untuk semakin dekat kepada Kristus. Pusatnya tetap Yesus. Yang lain hanya menuntun, bukan menggantikan. Ini sekadar berbagi, agar pemahaman tidak melenceng dari inti iman itu sendiri.
Dalam ajaran Gereja Katolik, titik berangkat dan titik tujuan iman selalu kembali kepada Yesus Kristus. Ia bukan hanya sosok historis atau tokoh religius. Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia dan satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia. Pernyataan ini bukan hasil spekulasi teologis, melainkan bersumber langsung dari Kitab Suci.
Rasul Paulus dalam 1 Timotius menegaskan bahwa Allah itu esa dan pengantara itu juga esa, yaitu Yesus Kristus. Dengan demikian, tidak ada pengantara lain yang memiliki kedudukan setara dengan Dia. Semua doa, liturgi, dan kehidupan rohani umat Katolik pada dasarnya diarahkan kepada Allah Tritunggal melalui Kristus.
Prinsip ini penting untuk diletakkan di awal agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami devosi kepada Maria. Dalam iman Katolik, tidak pernah ada penggantian posisi Yesus oleh siapa pun, termasuk Maria. Ia tetap pusat. Ia tetap tujuan akhir. Semua jalan rohani yang sah dalam Gereja selalu bermuara kepada-Nya.
Makna "perantaraan" dalam Gereja
Sering muncul pertanyaan, jika Yesus adalah satu-satunya pengantara, mengapa umat Katolik masih meminta doa dari Maria dan para kudus. Untuk menjawab ini, perlu dibedakan antara pengantara utama dan perantara dalam arti pendoa atau pengantara doa.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria dan para kudus bukanlah mediator utama, melainkan pendoa syafaat. Mereka tidak menggantikan peran Kristus, tetapi berpartisipasi dalam karya keselamatan dengan cara mendoakan umat yang masih berziarah di dunia.
Konsep ini sebenarnya tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang meminta temannya untuk mendoakan dirinya, ia tidak sedang meniadakan hubungannya dengan Tuhan. Ia justru memperluas lingkaran doa. Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan Gereja.
Dasar biblisnya dapat ditemukan dalam Surat Yakobus yang menyatakan bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya. Jika doa orang benar di dunia saja berdaya, apalagi mereka yang telah hidup dalam kepenuhan bersama Allah.
Dengan demikian, meminta doa kepada Maria bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan kelanjutan logis dari kehidupan iman yang bersifat komunal dan saling mendoakan.
Dasar Kitab Suci tentang peran Maria
Peran Maria dalam iman Katolik tidak dibangun di atas imajinasi atau tradisi semata, tetapi memiliki dasar dalam Kitab Suci. Salah satu peristiwa yang paling sering dirujuk adalah kisah pesta perkawinan di Kana dalam Injil Yohanes.
Dalam peristiwa tersebut, Maria melihat kebutuhan yang tidak disadari oleh banyak orang, yaitu kekurangan anggur. Ia kemudian menyampaikan hal itu kepada Yesus. Tindakannya sederhana, tetapi menunjukkan kepekaan dan kepedulian. Ia tidak melakukan mukjizat. Ia tidak mengambil alih peran Yesus. Ia hanya menyampaikan kebutuhan manusia kepada-Nya.
Hal yang menarik adalah kata-kata Maria kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.” Kalimat ini mencerminkan seluruh spiritualitas Maria. Ia selalu mengarahkan kepada Kristus, bukan kepada dirinya sendiri.
Peristiwa lain terdapat dalam Injil Yohanes pasal 19, ketika Yesus dari salib menyerahkan Maria kepada murid yang dikasihi-Nya. Gereja memahami peristiwa ini sebagai penyerahan Maria menjadi ibu bagi semua murid Kristus. Karena itu, relasi umat dengan Maria sering dipahami dalam kerangka relasi anak dan ibu.
Penghormatan kepada Maria juga berakar dalam Injil Lukas, khususnya dalam salam malaikat Gabriel dan Elisabet. Teks ini kemudian menjadi dasar doa Salam Maria yang dikenal luas dalam tradisi Katolik.
Maria dalam kehidupan Gereja Perdana
Maria tidak hanya hadir dalam kisah kelahiran dan kehidupan awal Yesus, tetapi juga dalam kehidupan Gereja perdana. Dalam Kisah Para Rasul disebutkan bahwa para rasul bertekun dalam doa bersama Maria.
Kehadiran ini menunjukkan bahwa Maria adalah bagian dari komunitas yang berdoa. Ia bukan figur yang berdiri di luar Gereja. Ia ada di dalamnya. Ia berdoa bersama. Ia menantikan pencurahan Roh Kudus bersama para rasul.
Gambaran ini penting. Maria tidak tampil sebagai sosok yang terpisah atau lebih tinggi dalam arti menggantikan Kristus. Ia adalah anggota Gereja yang istimewa. Ia menjadi teladan iman. Ia juga menjadi pendoa yang setia.
Dalam perjalanan sejarah Gereja, pengalaman umat menunjukkan bahwa kedekatan dengan Maria sering membantu mereka untuk semakin dekat dengan Kristus. Ini bukan karena Maria menjadi tujuan akhir, tetapi karena ia selalu menunjuk kepada Yesus.
Ad Iesum per Mariam sebagai jalan Devosi
Ungkapan ad Iesum per Mariam berarti “menuju Yesus melalui Maria.” Ini adalah ungkapan devosi yang berkembang dalam tradisi Gereja, bukan sebuah kewajiban doktrinal yang harus diikuti oleh semua umat tanpa kecuali.
Artinya, seorang Katolik tetap dapat berdoa langsung kepada Yesus tanpa harus melalui Maria. Bahkan, doa langsung kepada Tuhan adalah inti dari kehidupan rohani. Doa seperti Bapa Kami atau doa spontan merupakan bentuk relasi langsung dengan Allah.
Namun, Gereja juga membuka ruang bagi umat yang ingin mendekati Kristus melalui bantuan doa Maria. Dalam pengalaman banyak orang, pendekatan ini terasa lebih personal dan penuh kehangatan, terutama karena Maria dipahami sebagai seorang ibu.
Hal yang perlu ditegaskan adalah bahwa Maria tidak pernah menjadi tujuan akhir doa. Ia tidak menggantikan Yesus. Ia hanya mengambil peran sebagai pendoa yang membawa kebutuhan manusia kepada Kristus.
Karena itu, pernyataan bahwa seseorang “harus” berdoa melalui Maria terlebih dahulu tidak sesuai dengan ajaran resmi Gereja Katolik.
Yang benar adalah kebebasan dalam kasih. Umat dipersilakan memilih jalan devosi yang membantu mereka semakin dekat dengan Kristus.
Seluruh kehidupan iman kembali kepada satu pusat. Yesus Kristus. Maria hadir bukan untuk mengambil tempat itu, tetapi untuk menuntun. Membimbing. Dan dalam diamnya, ia terus mengarahkan umat kepada Putranya.