Patris Allegro: Saat Kebenaran Harus Dikatakan

Patris Allegro: Saat Kebenaran Harus Dikatakan
Patris Allegro dapat ditempatkan dalam barisan orang-orang yang membela dan mempertahankan kebenaran iman Katolik.

Oleh Gregorius Nyaming

Apa yang membedakan Patris Allegro dari yang lainnya? Sejauh yang dapat saya baca, terletak pada cara ia menjawab segala serangan dan tuduhan. 

Rm. Patris Allegro.

Sebuah nama yang pastinya tidak asing lagi di kalangan umat Kristen (Katolik dan Protestan). 

Kunjungi REVEALED! The Work of Luther That Protestants Dare Not Read | Father Patris Allegro, Pr

Di kalangan umat Katolik sendiri, ia ditempatkan dalam barisan orang-orang yang membela dan mempertahankan kebenaran iman Katolik. Apologet, begitulah istilah yang dipakai untuk menyebutnya.

Post truh di sekitar Katolik: ibarat ilalang di antara gandum

Penjelasan (lebih tepat dari pembelaan) ini penting. Hal itu karena Algoritma di mesin pencarian akan merekam data. Lalu memberikan umpan baliknya kepada pencari dengan kata kunci yang sama. 

Patris tahu itu! Sebab jika Iman kepercayaan Katolik sarat post post truth, ibarat gereja penuh sampah, harus dibuang. Sebab tidak semua yang ada di interet itu benar. Banyak sampah. Dan iman kepercayaan Katolik yang benar, harus ditempatkan pada tempat yang benar, bukan pada tong sampah!

Kehadirannya dianggap hanya menimbulkan kegaduhan. Membuat renggang hubungan antara umat Katolik dan Protestan. Ada juga yang berpandangan kalau sikapnya itu tidak sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II yang mengajak Gereja Katolik untuk menjalin kerja sama yang tulus untuk membangun persaudaran semua orang (Gaudium et Spes, 3).

Sudah tepatkah segala buruk sangka itu dialamatkan kepadanya? Tulisan ini ingin memberikan beberapa catatan dan refleksi dengan menempatkan Rm. Patris dalam konteks bagaimana umat Katolik membela imannya (berapologetik). 

Jika kita sependapat untuk memasukkan Rm. Patris dalam barisan para apologet, maka penting kiranya untuk kita pahami bahwa dalam sejarah Gereja Katolik mereka muncul ke permukaan bukan tanpa alasan. 

Serangan dan tuduhan terhadap kebenaran ajaran iman Katolik adalah alasan utama mereka harus turun gunung. Mereka hadir dengan tujuan tunggal: memberi pemahaman, menjelaskan, dan mempertahankan iman Katolik dengan memberikan jawaban-jawaban atau argumen-argumen dengan cara yang rasional. 

Dasar biblis bagi upaya mempertanggungjawabkan iman Katolik kita temukan dalam surat St. Petrus. “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu” (1 Ptr 3:15).

Dalam konteks Rm. Patris, bila kita melihat postingan-postingannya di medsos, ia termasuk dalam barisan para apologet yang membela kebenaran iman Katolik dari serangan Reformasi Protestan. Mengapa ia harus menyibukkan diri? Bukankah respon Gereja Katolik terhadap Reformasi Protestan sudah pernah dilakukan lewat Konsili Trente (1545-1563)? 

Penelusuran atas postingan-postingannya di medsos, serta komentar-komentar atas postingannya itu memperlihatkan kalau ada oknum pendeta yang dalam menyampaikan kotbahnya, alih-alih memperdalam iman jemaatnya, malah sibuk mempersoalkan ajaran dan praktek iman Gereja Katolik, seperti devosi kepada Bunda Maria; mendoakan arwah; patung, dan lain sebagainya.

Sebelum Rm. Patris tentu sudah ada imam maupun awam yang memberikan katekese terkait dengan kekayaan dan keindahan iman Katolik yang bersumber pada Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium. 

Apa yang membedakan Rm. Patris dari yang lainnya? Sejauh yang dapat saya baca, terletak pada cara ia menjawab segala serangan dan tuduhan. 

Kardinal Avery Dulles, SJ dalam A History of Apologetics mengatakan kalau apologet itu kerap dipandang agresif, pribadi oportunis yang mencoba membantah orang lain dengan tujuan agar orang bergabung dengan Gereja (bertobat). Inilah yang menjadi alasan mengapa terminologi apologetik memuat konotasi yang tidak menyenangkan di pikiran banyak umat Kristiani. 

Sifat agresif inilah – saya bisa saja keliru - yang sepertinya menjadi ciri khas Rm. Patris. Ketika yang lain merespon “dengan lemah lembut dan hormat” (1 Ptr 3:15), dia tanpa tedeng aling-aling menyatakan fakta historis: Protestantisme itu bidat! 

Kebenaran sekali ia diungkapkan banyak kali mendapat reaksi negatif dalam bentuk cacian, hujatan, serangan terhadap fisik (ad hominem). Ini terjadi dengan Rm. Patris. Fotonya diedit dengan kepala bertanduk, bertaring, di dahinya ditulis angka 666. Singkat kata, dia disamakan dengan iblis. 

Ketidaksiapan mental menerima serangan ad hominem nampaknya menjadi alasan utama mengapa beberapa orang yang biasa membantah Rm. Patris di media sosial menyembunyikan identitas mereka.

Kebenaran memang harus dikatakan. St. Agustinus pernah berkata, “Kebenaran itu harus dikatakan, khususnya ketika sebuah problem membuatnya lebih mendesak untuk mengatakan kebenaran. Mereka yang dapat mengerti, mengertilah. Dengan menahan diri untuk mengatakan kebenaran karena takut melukai mereka yang tidak dapat mengerti, kita tidak hanya menyembunyikan kebenaran, tapi kita memasukkan ke dalam kesesatan mereka yang mungkin dapat menghindari kesesatan itu”.

Rm. Patris tidak menahan diri untuk mengatakan kebenaran. Tujuan utamanya tentu agar umat Katolik tidak jatuh ke dalam kesesatan. Agar umat beriman, dalam bahasa Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, “tidak jatuh pada rupa-rupa pengajaran palsu atau disesatkan oleh angin pengajaran” (Ef 4:14).

Gereja Katolik mengakui ada tiga sumber iman: Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium. Sementara Protestantisme mengakui satu sumber iman: Sola Scriptura

Dalam upaya memberi pemahaman, menjelaskan, dan mempertahankan iman Katolik, apologet yang satu ini menggunakan filsafat, khususnya filsafat metafisika. Gereja Katolik mengajarkan bahwa kebenaran yang diwahyukan adalah benar secara universal dan tak dapat diubah dalam tataran substansinya. Prinsip ini membawa konsekuensi terhadap penggunaan hermeneutika metafisik, bukan hermeneutika reduksionis dalam berteologi. 

Adapun hermeneutika yang mengusung posisi reduksionis, sebagaimana dikatakan oleh Komisi Teologi Internasional di dalam dokumen The Interpretation of Dogma (1989) ialah hermeneutika positivistik, hermeneutika antroposentik dan hermenutika kultural.

Mengapa hermeneutika metafisik? Berkaitan dengan filsafat jenis apa yang dapat memenuhi tugas yang pantas untuk mendukung kebenaran wahyu, St. Paus Yohanes II dalam ensiklik Fides et ratio mengatakan bahwa, “filsafat-filsafat dengan “cakrawala metafisika” sangat esensial bagi teologi” (no. 38). Thomas G. Guarino dalam The Unchanging Truth of God? Crucial Philosophical Issues for Theology, menegaskan bahwa, “filsafat yang menolak metafisika akan sangat tidak cocok untuk tugas mediasi memahami Wahyu”. Dia melanjutkan, “metafisika sungguh membantu dalam mempertahankan klaim-klaim terhadap kebenaran iman Katolik”.

Protestantisme anti terhadap penggunaan filsafat dalam memahami kebenaran wahyu Ilahi. Sementara bagi Gereja Katolik, seperti dikatakan St. Paus Yohanes Paulus II dalam pembukaan ensiklik Fides et Ratio, “iman dan akal budi bagaikan dua sayap manusia untuk terbang membumbung tinggi pada kontemplasi tentang kebenaran”, bagi Protestantisme, sebagaimana perkataan Martin Luther yang dikutip oleh Thomas. G. Guarino, “Siapa pun yang ingin menjadi seorang Kristen harus bertekad untuk membungkam suara akal budi”.

Sikap anti-metafisika juga ditunjukkan oleh Karl Barth, teolog Reformasi asal Swiss. Dalam kata-kata Barth sendiri seperti dikutip oleh Guarino, “Saya menganggap analogia entis sebagai ciptaan Antikristus, dan berpikir bahwa karena hal itu seseorang tidak dapat menjadi Katolik”.

Sekarang menjadi jelas kiranya bagi kita mengapa beberapa pendeta yang biasa bersoal jawab dengan Rm. Patris di medsos sukar untuk memahami, atau bisa jadi sengaja untuk tidak mau memahami, penjelasan-penjelasannya soal iman Katolik. Karena enggan menggunakan akal budi (berfilsafat) dalam menyanggah argumen, dipakailah kemudian jurus serangan terhadap penampilan fisik lawan bicara (ad hominem). 

Ketidaktahuan pintu kepada pertobatan

Gereja Katolik mengakui ada tiga sumber iman: Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium. Sementara Protestantisme mengakui satu sumber iman: Sola Scriptura

Buah dari perbedaan sumber iman ini sudah jelas. Adanya penafsiran yang berbeda, bahkan bertolak berlakang, atas iman Kristiani. Penafsiran berbeda, berbeda pula praktek penghayatan iman dalam hidup sehari-hari.

Tidak heran kemudian Gereja Katolik kerap dituduh menyimpang dari ajaran Kitab Suci dengan mempraktekkan tradisi seperti mendoakan arwah, devosi kepada Bunda Maria, berdoa lewat pengantaraan santo-santa, dan sebagainya. Namun, hemat saya, masih ada faktor mendasar lain yang menyebabkan munculnya tuduhan-tuduhan itu, yakni faktor “ketidaktahuan”. Dan di dalam Kitab Suci, kita menemukan kalau Tuhan kerap kali memakai ketidaktahuan manusia sebagai titik awal transformasi hidup. Sebagai pintu kepada pertobatan dan pengampunan. 

Saya berikan tiga contoh. Pertama, ketika Yesus disalibkan. Yesus memberikan pengampunan bagi mereka yang menyalibkannya. “Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). 

Kedua, saat Petrus berkhotbah di Serambi Salomo (Kis 3:11-26). Dalam khotbahnya itu Petrus mulai mengingatkan orang banyak yang berkumpul setelah penyembuhan orang lumpuh di serambi Salomo bahwa mereka telah “menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki agar seorang pembunuh sebagai hadiahmu” (3:14). Kalian “telah membunuh Pemimpin kepada hidup, yang dibangkitkan Allah dari antara orang mati” (3:15). Setelah pengingat yang menyakitkan ini, ia melanjutkan: “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu” (3:17). Orang banyak itu lalu diajak oleh Petrus untuk sadar dan bertobat.”Karena itu, sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” (3:19).

Ketiga, dalam refleksi autobiografi Paulus. Tema “ketidaktahuan” juga muncul ketika Paulus merefleksikan pengalaman dikasihani oleh Allah sungguh pun ia menyadari dirinya sebgai orang yang paling berdosa. Ia mengakui dirinya menghujat, menganiaya dan menghina Yesus, kemudian ia melanjutkan “tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yakni di luar iman” (1 Tim 1:13).

Apakah orang-orang, yang karena ketidaktahuannya menuduh Gereja Katolik sesat, tidak Alkitabiah, dll, suatu saat juga akan mengalami pertobatan? Kita serahkan semuanya itu pada karya Roh Kudus.

Penutup 

Kita bersyukur bahwa Allah Bapa mengaruniakan para apologet Katolik di dalam Gereja-Nya. Mereka telah dan akan selalu memainkan peranan yang penting dalam membela dan mempertahankan iman Katolik. Rm. Patris dan apologet Katolik yang lainnya hanyalah alat di tangan Tuhan agar kita “mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:2-3). 

Dan lagi, “supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,…, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar” (Kol 1:9-11).

Karena mereka hanyalah alat, maka jangan sampai kita mengkultuskan mereka. Lalu mendewa-dewakan akal budi. Kardinal Avery Dulles, SJ dalam bukunya itu menulis kalau apologet itu bukan hanya orang terpelajar, fasih berbicara, bertalenta, melainkan juga manusia pendoa. 

Kardinal Dulles mau mengingatkan kita bahwa Allah adalah misteri. Adalah mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk memahami esensi-Nya secara penuh. Di sini kita bisa menimba pembelajaran dari Teologi Apophatic (Teologi Negatif) Gereja Ortodoks Timur: “Terhadap sesuatu yang tidak dapat kita ketahui, lebih baik diam”. 

Diam. Hening dalam doa sebagai bentuk penyembahan dan pengakuan akan keagungan misteri Ilahi.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org