Bila Kekalutan, Ketakutan, dan Kegelisahan Melanda

Bila Kekalutan,  Ketakutan, dan Kegelisahan Melanda
Bila kekalutan,  ketakutan, dan kegelisahan melanda, Tuhan andalan kita. Ist.

Oleh P. Antonius Widada, CP

Aku merefleksikan satu masa yang belum lama berlalu. Masa ketika kekalutan menyelimuti dunia. 

Masa ketika ketakutan menjalar dari satu hati ke hati lain. Masa ketika kegelisahan seperti kabut yang menutup pandangan banyak orang.

Semua itu terjadi pada waktu wabah Virus Corona, COVID-19, yang melanda dunia pada tahun 2019 sampai 2022.

  1. Orang takut tertular.
  2. Orang takut sakit.
  3. Orang takut mati terlalu cepat.

Ketakutan itu terasa di mana-mana. Di rumah-rumah. Di jalan-jalan. Di ruang-ruang perawatan rumah sakit. Bahkan di percakapan-percakapan yang pelan dan penuh kecemasan.

Pada masa itu aku berusaha hadir. 

Pada masa itu aku berusaha hadir. Menyertai mereka yang berduka. Menguatkan mereka yang kehilangan. Aku datang ke rumah sakit. Aku berdiri di rumah duka. Aku juga pernah berada di krematorium. Bahkan sampai di pemakaman.

Di tempat-tempat itu, aku melihat air mata. Aku mendengar doa yang lirih. Aku merasakan betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan kematian.

Namun anehnya, di dalam hatiku sendiri ada kedamaian.

Sebuah ketenangan yang sulit dijelaskan.

Aku berdoa dalam diam. Agar aku tidak ikut terjangkiti wabah kekalutan itu. Agar aku tetap bisa berdiri tenang di tengah badai ketakutan. Agar aku bisa menjadi sahabat bagi mereka yang sedang melewati lembah duka.

Karena di saat dunia gelisah, seseorang tetap perlu tenang.

Di saat banyak orang takut, seseorang tetap perlu berharap.

Dabbar. Sabda Tuhan yang meneguhkan. Yang menghibur.

Ada saat-saat dalam hidup ketika hati manusia diliputi kegelisahan. Pikiran terasa berat. Masa depan tampak kabur. Pada saat seperti itulah Sabda Tuhan hadir. Ia tidak datang dengan suara keras. Ia hadir perlahan. Menyentuh batin. Meneguhkan langkah.

Hari ini Sabda Tuhan berbicara melalui dua bacaan Kitab Suci. Dari Kitab Mikha dan dari Injil Lukas. Dua teks yang lahir dari zaman yang berbeda. Tetapi membawa pesan yang sama. Tentang Allah yang setia. Tentang Allah yang mengampuni. Tentang Allah yang tidak pernah lelah menunggu manusia kembali.

Nabi yang berbicara dalam bacaan pertama adalah Nabi Mikha. Ia bukan nabi dari lingkungan istana. Ia bukan pula tokoh dari kalangan elit Yerusalem. Mikha datang dari desa kecil bernama Moresyet-Gat. Sekitar dua puluh mil di sebelah tenggara Yerusalem. Ia hidup sezaman dengan Nabi Yesaya. Jika Yesaya sering berbicara di lingkungan bangsawan dan kaum ningrat Yerusalem, Mikha justru menyuarakan jeritan rakyat kecil di kampung-kampung.

Pelayanan Mikha berlangsung kira-kira antara tahun 721 sampai 701 sebelum Masehi. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ketidakadilan merajalela. Orang kaya merampas tanah orang miskin. Yang kuat menindas yang lemah. Hak hidup rakyat kecil diambil begitu saja. Bagi Mikha, itulah dosa besar. Dosa bukan hanya soal pelanggaran ritual atau ibadah. Dosa adalah ketika manusia merusak keadilan. Ketika manusia mengambil hak hidup sesamanya.

Sementara itu bagi Yesaya, dosa yang paling serius adalah mencemarkan kekudusan Allah. Menodai Bait Tuhan. Dua nabi ini memang memandang dari sudut yang berbeda. Tetapi pada akhirnya keduanya menunjuk kepada akar yang sama. Manusia telah menjauh dari Allah.

Namun dalam bagian Kitab Mikha yang kita renungkan hari ini, nada suara sang nabi tidak lagi keras seperti teguran. Ia justru penuh penghiburan. Mikha mengajak umat mengingat kembali sejarah iman mereka. Ia mengajak mereka melihat kembali tindakan besar Allah di masa lampau.

Nenek moyang Israel pernah hidup sebagai budak di Mesir. Mereka tertindas. Tidak berdaya. Tetapi Allah membebaskan mereka. Allah menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan. Mereka menyeberangi Laut Merah. Mereka berjalan menuju tanah perjanjian. Itu bukan sekadar kisah sejarah. Itu adalah kisah keselamatan. Kisah pembebasan. Kisah tentang Allah yang tidak meninggalkan umat-Nya.

Karena itu Mikha berseru dengan penuh keyakinan: Allah tidak menyimpan murka-Nya selamanya. Ia mengampuni kesalahan. Ia menghapus dosa. Ia setia kepada kasih-Nya. Ia tetap mengingat perjanjian-Nya dengan umat-Nya.

Pesan yang sama bergema dalam bacaan Injil dari Injil Lukas. Kisah yang sangat terkenal. Kisah tentang anak yang hilang. Tetapi sesungguhnya kisah itu bukan terutama tentang anak yang hilang. Kisah itu adalah tentang seorang bapa yang tidak pernah berhenti menunggu anaknya pulang.

Ketika masih muda, saya dan teman-teman sering mementaskan kisah ini dalam drama Natal atau Paskah. Waktu itu kami melihatnya sebagai cerita yang menyentuh hati. Tetapi seiring perjalanan hidup, kisah ini terasa semakin nyata. Semakin dalam maknanya.

Ada tiga tokoh dalam cerita itu yang selalu membuat saya merenung. Yang pertama adalah sang bapa. Ia adalah gambaran kasih yang tidak bersyarat. Ia tidak menutup pintu ketika anaknya pergi. Ia juga tidak menghukum ketika anak itu pulang. Ia hanya menunggu. Ia menatap jalan setiap hari. Ia berharap suatu saat anaknya kembali.

Ketika membaca kisah itu, saya sering teringat pengalaman pribadi. Tahun 2001 saya berangkat ke Italia untuk belajar dan menjalani panggilan hidup. Di halaman rumah sederhana kami di Klaten Selatan, keluarga berkumpul mengantar kepergian saya. Saya memeluk mereka satu per satu.

Sebagian besar tidak benar-benar memahami ke mana saya akan pergi. Italia bagi mereka adalah tempat yang sangat jauh. Bahkan sulit dibayangkan.

Ayah dan ibu saya berdiri di halaman rumah. Mata mereka menyipit menahan perasaan. Bibir mereka bergetar tanpa suara. Mungkin mereka sedang berdoa. Mungkin mereka sedang mengucapkan selamat jalan dengan hati yang berat.

Perpisahan itu ternyata menjadi yang terakhir.

Pada tahun 2003 ayah dan ibu saya meninggal dunia ketika saya masih tinggal di Santuario di San Gabriele dell’Addolorata di Italia. Pada waktu itu teknologi komunikasi belum seperti sekarang. Telepon pintar belum ada. Saya bahkan baru memiliki telepon genggam Nokia mobile phone pada tahun 2005.

Kabar duka itu datang melalui internet dari sepupu saya. Ia menulis bahwa ayah saya telah meninggal seminggu sebelumnya. Ia meninggal dengan damai ketika tidur.

Berita itu membuat hati saya terguncang. Air mata menetes. Para imam dan bruder di komunitas menghibur saya. Bahkan ada yang menawarkan biaya untuk pulang ke Indonesia. Tetapi saya tahu ayah sudah dimakamkan. Jika saya pulang, saya hanya akan melihat makam yang masih baru.

Akhirnya saya memutuskan tetap tinggal di Italia. Menyelesaikan tugas belajar dan misi sampai tahun 2007.

Ketika merenungkan kisah Injil tentang anak yang hilang, saya juga melihat dua tokoh lainnya. Anak bungsu melambangkan manusia yang sering terbuai oleh kesenangan dunia. Ia hidup dalam pesta dan kenikmatan sesaat. Hedonisme, konsumerisme, dan materialisme membuatnya lupa diri. Selama uang masih ada, dunia terasa menyenangkan. Tetapi ketika semuanya habis, barulah ia sadar. Penyesalan pun datang.

Namun dalam keruntuhan itu justru lahir kesadaran baru. Ia memutuskan pulang. Ia berani bertobat.

Di sisi lain ada anak sulung. Ia merasa dirinya setia dan benar. Tetapi hatinya dipenuhi iri dan kemarahan. Ia tidak mampu menerima adiknya kembali. Ia merasa ayahnya tidak adil. Sikap ini sering muncul dalam hidup manusia. Orang yang merasa paling benar sering justru paling sulit mengampuni.

Kasih Allah tidak pernah habis

Kisah ini akhirnya membawa kita pada satu kesimpulan besar. Kasih Allah tidak pernah habis. Pengampunan Allah tidak pernah kering. Selama manusia masih mau kembali, pintu itu tetap terbuka.

Dalam iman Kristiani, puncak dari kasih itu terlihat dalam diri Yesus Kristus. Ia rela mati di kayu salib bukan untuk orang-orang yang merasa benar, tetapi untuk manusia berdosa yang mau bertobat.

Itulah kabar baik Injil. Tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk kembali. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni. Selama hati manusia masih berani pulang kepada Tuhan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org