Dipanggil dalam Kesederhanaan

Kita dipanggil dalam kesederhanaan mengikuti Dia.
Kita dipanggil dalam kesederhanaan mengikuti Dia yang taat, sampai mati disalib. Istimewa.

Oleh Antonius Widada CP 

Hari ini kita diajak merenungkan panggilan hidup kita sebagai orang beriman. 

Rasul Paulus mengingatkan bahwa tidak banyak dari kita yang menurut ukuran dunia dianggap hebat, pandai, atau terpandang (bdk. Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus 1:26). Justru dalam kesederhanaan itulah Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib.

Sering kali kita merasa kecil, tidak berarti, bahkan ragu akan kemampuan diri sendiri. Kita membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih berhasil, lebih berpengaruh, atau lebih dihargai. 

Iman kita menegaskan bahwa Tuhan tidak memilih berdasarkan ukuran manusia. Ia melihat hati. Ia memanggil setiap pribadi, termasuk kita, dengan segala keterbatasan yang kita miliki.

Pengalaman hidup kita, entah itu penuh perjuangan, kekurangan, atau luka batin, bukanlah penghalang bagi karya Allah. Justru di situlah rahmat-Nya nyata. 

Banyak orang besar dalam iman lahir dari latar belakang yang sederhana. 

Maka jangan pernah meremehkan diri sendiri. Kita semua adalah pribadi yang dipanggil dan dikasihi.

Tuhan Tidak Pernah Tidur

Dalam perjalanan hidup, kita mungkin pernah mengalami masa-masa sulit. Ada beban ekonomi, kegagalan, kehilangan, atau ketidakpastian masa depan. Namun di tengah semua itu, kita diajak untuk percaya pada satu hal sederhana tetapi mendalam: “Gusti boten sare”, Tuhan tidak pernah tidur.

Ia selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita, bahkan ketika kita tidak menyadarinya. Jika kita menengok ke belakang, kita akan menemukan begitu banyak pertolongan Tuhan yang terjadi melalui berbagai cara. Bisa melalui keluarga yang tetap berjuang, sahabat yang menguatkan, atau orang-orang baik yang hadir menolong tanpa pamrih.

Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah cara Tuhan menyapa kita. Ia membentuk kita melalui pengalaman hidup, agar kita semakin dewasa dalam iman. Kadang kita tidak langsung mengerti rencana-Nya, tetapi waktu akan menyingkapkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Dari pengalaman-pengalaman itulah, hati kita digerakkan untuk bertanya: apa yang bisa saya lakukan sebagai balasan kasih? Bukan untuk membalas secara materi, tetapi sebagai ungkapan syukur yang tulus. Syukur itu nyata ketika kita mulai peduli dan mau berbagi kepada sesama.

Dipanggil untuk Berbuah dan Menjadi Berkat

Sebagai orang yang terpanggil, kita tidak berhenti pada kesadaran bahwa Tuhan mengasihi kita. Kita juga dipanggil untuk bertindak. Dalam Injil Matius 25:14–30, kita diingatkan tentang pentingnya mengembangkan talenta. Setiap orang memiliki karunia, sekecil apa pun, dan semuanya berharga di mata Tuhan.

Talenta itu bisa berupa kemampuan, kesempatan, relasi, atau bahkan pengalaman hidup. Semua itu diberikan agar kita menghasilkan buah. Salah satu buah iman yang paling nyata adalah kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang lemah dan berkekurangan.

Di sekitar kita, ada banyak anak yang sebenarnya cerdas dan berbakat, tetapi terhenti langkahnya karena keterbatasan ekonomi. Ada keluarga yang memikul beban berat dalam diam. Kita dipanggil untuk peka, hadir, dan membantu sesuai kemampuan kita. Tidak harus besar, yang penting tulus.

Kebahagiaan sejati akan kita rasakan ketika melihat orang lain bangkit karena sentuhan kasih kita. Ketika mereka berhasil, bahkan kemudian membantu orang lain lagi, di situlah kasih Tuhan terus mengalir. Itulah buah dari panggilan kita sebagai orang beriman.

Seperti ditegaskan oleh Gregorius dari Nyssa, seorang Kristiani adalah dia yang hidupnya semakin serupa dengan Kristus. Artinya, hidup dalam kasih, pengorbanan, dan kepedulian yang nyata.

Pertanyaan Refleksi

  1. Apakah saya sudah menyadari bahwa saya adalah pribadi yang dipanggil Tuhan?
  2.  Sudahkah saya mensyukuri karya Tuhan dalam perjalanan hidup saya?
  3.  Bagaimana saya menggunakan talenta saya untuk menjadi berkat bagi sesama?

Semoga kita semakin setia menjawab panggilan Tuhan, bukan dengan kata-kata saja, tetapi dengan tindakan nyata dalam hidup sehari-hari.

Amin.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org