Takhta Roma tak Pernah Sunyi dari Noda, Namun Tetap Tegak
Takhta Roma tak pernah Sunyi dari noda, Namun tetap tegak. Ist. |
Oleh Jack Dambe Cjd
Sejarah Gereja Katolik membentang panjang dan megah, tetapi tidak steril dari kekacauan. Ia bukan taman tanpa duri.
Dalam riwayat Kepausan. Kita tidak hanya menemukan pribadi-pribadi kudus seperti Yohanes Paulus II atau Gregorius Agung, melainkan juga tokoh-tokoh yang membuat intrik politik tampak sederhana.
Alexander VI dari keluarga Borgia lebih sering dikenang karena skandal keluarganya. Benediktus IX tercatat dalam sejarah karena kekacauan hidupnya, bahkan sampai “menjual” takhta kepausan.
Maka pertanyaan pun muncul: mengapa lembaga ini tetap dipertahankan? Mengapa Cincin Nelayan tetap dihormati, padahal tangan yang mengenakannya dalam sejarah pernah ternoda?
Pertanyaan ini wajar. Iman tidak alergi pada kejujuran sejarah.
Tahta dan Pribadi yang Mendudukinya
Jawaban Gereja terletak pada pembedaan mendasar antara Tahta dan pribadi. Dalam teologi Katolik dikenal perbedaan antara Sedis, Tahta itu sendiri, dan Sedens, orang yang duduk di atasnya. Kristus tidak mendirikan Gereja di atas malaikat tanpa cela. Ia memilih Petrus, manusia biasa yang pernah gentar.
“Tu es Petrus, et super hanc petram aedificabo ecclesiam meam” (Mat. 16:18).
Batu karang itu pernah rapuh. Petrus menyangkal Gurunya tiga kali. Namun justru kepadanya Kunci Kerajaan Surga dipercayakan. Di sinilah tampak ironi Ilahi. Allah memilih yang lemah untuk menopang yang besar, agar nyata bahwa kekuatan Gereja bersumber dari Dia, bukan dari kecakapan manusia.
Dijaga dalam Ajaran, Bukan Dibebaskan dari Dosa
Keyakinan Gereja tentang ketidaksesatan Paus tidak sama dengan keyakinan bahwa Paus tidak bisa berdosa.
Papal Infallibility, yang dirumuskan dalam Konsili Vatikan I, hanya berlaku ketika Paus berbicara ex cathedra mengenai iman dan moral. Itu pun dalam batas yang sangat jelas.
Sejarah membuktikan Paus tetap manusia dengan segala keterbatasan. Namun Gereja percaya Roh Kudus menjaga agar dalam ajaran resmi yang mengikat seluruh Gereja, ia tidak tersesat. Yang dijaga adalah jabatannya, bukan kepribadiannya.
Sakramen bekerja ex opere operato karena janji Allah yang menyertainya, bukan karena kesempurnaan moral pelayannya. Jika semuanya bergantung pada kesalehan pribadi pejabat Gereja, maka umat tidak pernah memiliki kepastian.
Kesatuan yang Kelihatan dan Janji yang Teguh
Kepausan berdiri sebagai tanda kesatuan yang kelihatan. Tanpa pusat rujukan yang jelas, iman mudah terpecah oleh tafsir yang saling meniadakan.
Dalam diri Paus, Gereja melihat penjaga jembatan, Pontifex Maximus, yang merawat kesatuan umat beriman.
Ketika seorang Paus mengecewakan atau gaya kepemimpinannya mengundang tanya, yang diuji adalah kedewasaan iman kita.
Umat Katolik tidak menyembah Paus. Kesetiaan diberikan pada Tahta Petrus karena Kristuslah yang menegakkannya.
Janji itu tetap berdiri: Portae inferi non praevalebunt Pintu alam maut tidak akan menguasainya. Perahu Petrus telah melewati badai, pengkhianatan, ambisi, dan skandal, namun ia tidak tenggelam. Bukan karena para nahkodanya selalu cemerlang, melainkan karena Sang Tuan Laut sendiri yang berdaulat atas ombak.
Paus hanyalah pelayan. Rajanya tetap Kristus.