Belajar Kepemimpinan yang Melayani dari Jonan: Gunarso Serahkan buku “Eksploitasi Dayak Masa ke Masa”
| Jonan-Gunarso: Dua tokoh Katolik sekaligus tokoh bangsa, saling belajar dan bertukar buku. Ist. |
Petrus Gunarso menyerahkan buku terbaru berjudul Eksploitasi Dayak Masa ke Masa kepada Ignasius Jonan salah satu tokoh Katolik ternama Indonesia.
Pertemuan kedua tokoh bangsa sebagai wujud pembelajaran tentang kepemimpinan yang melayani dan pengabdian bagi masyarakat.
Jonan salah satu tokoh awam Katolik Indonesia terpandang sekaligus terkenal hari ini. Tak perlu menyebutkan jasanya dan skillnya, silakan pembaca ulik di media.
Namun, salah
satu yang tetap dikenang adalah bahwa pemilik nama baptis "Iganasius"
itu salah satu tokoh penting di balik kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesiia
tahun 2025.
Jonan menerima Literasi Dayak
Jonan berkenan menerima Petrus Gunarso, salah seorang
dari pegiat literasi sekaligus pimpinan Badan Penerbitan dan Percetakan LembagaLiterasi Dayak untuk berdiskusi.
Sekaligus dalam kesempatan itu, Gunarso memberinya buku penting yang wajib dibaca dan ditindaklanjuti yakni Eksploitasi Dayak Masa ke Masa. Pustaka yang berisi paparan fakta dan kritik sosial terkait ketidakadilan di Indonesia.
Di buku yang ditulis Dr. HC. Cornelis dan Masri Sareb Putra, M.A. yang terbit tahun 2026, Gunarso memberikan Pengantar sebagaia
"outsider" dengan pikiran bening dan hati yang bersih.
Pengalaman Gunarso hampir sepuluhan tahun bekerja di
Malinau, Balikpapan, dan kini di Melapi Kalbar membuatnya merasa bagian dari
komunitas Dayak.
Mendorong penerbitan Panca Palma dan dilanjut dengan
Panca Dipterocarpaceae - rimbawan konservasionis ini konsisten bekerja utk
lingkungan. Dari hutan alam, hutan gambut, hutan tanaman dan juga mangrove.
Kelestarian atau sustainability – menjadi prinsip arah dan tujuannya.
Pendekatan bentang alam yang dilakukannya. Dari hulu ke hilir, dari gunung, lembah, sawah dan laut. Hal itu terinspirasi dari Tri Hitakarana dalam penelitian S-1 nya di Padang Galak Bali tahun 1981-1982.
Harapan Kolaborasi Berkelanjutan
Pertemuan itu menegaskan bahwa literasi dan
kepemimpinan memiliki titik temu pada nilai pelayanan: Gerakan Literasi Dayak,
yang selama ini berupaya mendokumentasikan sejarah, budaya, dan dinamika
sosial, membutuhkan jejaring serta dukungan moral dari berbagai pihak.
Gunarso berharap nilai kepemimpinan yang melayani
dapat menjadi fondasi dalam membangun gerakan literasi yang berkelanjutan. Gunarso menilai, tanpa karakter pelayanan, literasi mudah terjebak pada kepentingan
sempit dan kehilangan daya transformasinya.
Di tengah tantangan zaman yang ditandai arus informasi cepat dan polarisasi opini, kepemimpinan yang memeberi contoh dan melayani menjadi semakin relevan.
Pertemuan antara Jonan dan Gunarso menjadi contoh bahwa dialog lintas sektor dapat melahirkan inspirasi dan inovasi baru.
Literasi Dayak, melalui langkah-langkah kecil namun konsisten, terus berupaya menghadirkan narasi yang adil dan berimbang.
Dengan belajar dari teladan kepemimpinan yang melayani, gerakan ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah pengetahuan. Namun juga berkontribusi pada pembangunan Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan. (X-5)