Roma Locuta Causa Finita

 

Roma Locuta Causa Finita
Roma locuta causa finita bukan kalimat yang menutup pintu dialog, melainkan kalimat yang menutup kebingungan. Ist.

Oleh Br. Cosmas Damianus

Ungkapan Latin Roma locuta, causa finita secara harfiah berarti: Roma telah berbicara, perkara selesai. Lahir dari sejarah, diuji oleh konflik, dan bertahan karena Gereja membutuhkan pusat kesatuan.

Dalam pengertian sederhana, kalimat ini menegaskan bahwa ketika otoritas Gereja di Roma, yakni Tahta Apostolik, telah memberikan keputusan, maka perdebatan teologis atau persoalan iman tersebut dianggap final dan mengikat.

Secara gramatikal, ungkapan ini ringkas namun sarat makna. Roma merujuk pada Gereja Roma sebagai pusat persekutuan Gereja Katolik. Locuta berasal dari kata kerja loqui (berbicara), yang dalam konteks ini berarti memberikan penilaian atau keputusan resmi. Causa berarti perkara atau persoalan, sementara finita berarti selesai, ditutup, atau diputuskan.

Namun penting dicatat, bentuk yang paling sering dikutip, Roma locuta causa finita, bukanlah kutipan persis dari teks klasik, melainkan ringkasan populer dari gagasan yang lebih panjang. Versi lengkap yang sering dirujuk berbunyi: Roma locuta est, causa finita est.

Ungkapan ini lahir dari tradisi hukum dan teologis Gereja awal, ketika Gereja menghadapi berbagai perdebatan serius tentang iman, ajaran, dan disiplin gerejawi. 

Dalam dunia Kristen perdana yang belum memiliki konsili-konsili besar seperti sekarang, Roma dipandang sebagai rujukan terakhir karena hubungannya dengan Rasul Petrus. Dari sinilah berkembang pemahaman bahwa keputusan Gereja Roma memiliki bobot istimewa dalam menjaga kesatuan iman.

Dengan demikian, Roma locuta causa finita bukan sekadar slogan otoritarian, melainkan ekspresi keyakinan eklesiologis bahwa Gereja membutuhkan pusat kesatuan agar iman tidak terpecah oleh tafsir yang saling bertentangan.

Kapan Ungkapan Ini Digunakan dan Oleh Siapa?

Ungkapan ini secara historis dikaitkan dengan Santo Agustinus dari Hippo (354–430), salah satu Bapa Gereja terbesar dalam tradisi Barat. Ia menggunakannya dalam konteks kontroversi Pelagianisme, sebuah ajaran yang menolak dosa asal dan menekankan kemampuan manusia untuk mencapai keselamatan tanpa rahmat ilahi.

Pada awal abad ke-5, ajaran Pelagius menyebar luas dan menimbulkan perdebatan teologis yang tajam. Para uskup di Afrika Utara, tempat Agustinus melayani, mengadakan sinode-sinode lokal untuk menanggapi ajaran ini. Namun perdebatan tidak juga mereda, karena Pelagianisme tetap mendapat dukungan di beberapa wilayah lain.

Persoalan ini diajukan kepada Paus Innosensius I di Roma. Ketika Paus secara resmi mengecam ajaran Pelagius dan menegaskan ajaran Gereja tentang rahmat, Agustinus menyambut keputusan tersebut dengan kalimat yang terkenal itu. Dalam salah satu khotbahnya, ia menyatakan bahwa setelah Roma berbicara, perkara tersebut seharusnya dianggap selesai.

Bagi Agustinus, otoritas Roma bukanlah pengganti dialog teologis, tetapi penjamin terakhir kesatuan iman. Ia sendiri adalah seorang intelektual besar yang mencintai perdebatan dan refleksi mendalam. Namun ia juga menyadari bahwa Gereja tidak bisa hidup dari perdebatan tanpa ujung. Harus ada titik akhir, dan titik itu, baginya, adalah keputusan Gereja Roma.

Menariknya, Agustinus tidak sedang membangun teori absolutisme kepausan. Ia berbicara dalam konteks konkret, yakni sebuah ajaran yang mengancam inti iman Kristen tentang rahmat dan keselamatan. Karena itu, ungkapan Roma locuta causa finita lahir dari kebutuhan pastoral dan teologis, bukan dari ambisi kekuasaan.

Makna Roma Locuta bagi Gereja Katolik Hingga Hari Ini

Hingga hari ini, Roma locuta causa finita tetap hidup dalam kesadaran Gereja Katolik, meskipun dipahami secara lebih matang dan bernuansa. Gereja modern tidak menafsirkan ungkapan ini sebagai penolakan terhadap dialog, sinodalitas, atau kebebasan berpikir teologis. Sebaliknya, Roma dipahami sebagai pelayan kesatuan, bukan pemadam akal budi.

Dalam Gereja Katolik, Paus dan Tahta Apostolik memiliki tugas menjaga depositum fidei, yakni harta iman, agar tetap setia pada ajaran para rasul. Ketika muncul perbedaan tafsir yang menyentuh inti iman dan moral, Gereja membutuhkan otoritas yang dapat berkata cukup, bukan untuk membungkam, tetapi untuk menyatukan.

Di sinilah relevansi Roma locuta menjadi nyata. Ungkapan ini menegaskan bahwa iman Katolik bukan hasil voting mayoritas atau opini paling populer, melainkan warisan yang diterima, dijaga, dan diteruskan. Otoritas Roma berfungsi sebagai jangkar agar Gereja tidak terombang-ambing oleh arus zaman.

Namun Gereja juga belajar dari sejarah. Konsili Vatikan II menekankan pentingnya kolegialitas para uskup dan peran umat beriman. Dalam konteks ini, Roma locuta causa finita tidak berdiri berlawanan dengan sinodalitas, melainkan menjadi puncaknya. Proses dialog, discernment, dan perdebatan dapat berlangsung luas, tetapi ketika Gereja universal membutuhkan kejelasan, Roma berbicara demi kesatuan.

Bagi umat Katolik hari ini, ungkapan ini mengandung pesan spiritual yang dalam. Ia mengingatkan bahwa iman bukan milik pribadi semata, tetapi bagian dari persekutuan yang lebih besar. Ketaatan kepada Gereja bukanlah penyerahan akal sehat, melainkan tindakan iman bahwa Roh Kudus bekerja dalam Gereja, termasuk melalui institusi dan otoritasnya.

Di tengah dunia yang terfragmentasi, ketika kebenaran sering direduksi menjadi opini, Roma locuta causa finita menjadi pengingat bahwa Gereja berani berkata tegas demi kebenaran, sekaligus memikul tanggung jawab besar untuk melakukannya dengan rendah hati, kebijaksanaan, dan kasih.

Lahir dari sejarah, diuji oleh konflik, dan bertahan 

Roma locuta causa finita bukan kalimat yang menutup pintu dialog, melainkan kalimat yang menutup kebingungan. 

Ungkapan itu lahir dari sejarah, diuji oleh konflik, dan bertahan karena Gereja membutuhkan pusat kesatuan. 

Dalam dunia yang terus berubah, ungkapan ini tetap relevan, bukan sebagai simbol kekuasaan. Roma locuta causa finita menjadi tanda kepercayaan bahwa Gereja, dengan segala keterbatasannya, tetap dipimpin oleh Roh yang sama sejak para rasul hingga hari ini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org