Kardinal Suharyo: Bangsa Ini Membutuhkan Pemimpin, Bukan Sekadar Penguasa
| Seruan kebaikan untuk pemimpin dan bangsa ini dari Kardinal Ignatius Suharyo. KompasTV. |
JAKARTA, EDUKATOLIK— Dari Gedung Pemuda, tempat sejarah kesadaran bangsa pernah dirumuskan, sebuah pesan moral kembali disuarakan.
Bangsa ini, kata Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo, tidak sedang kekurangan orang berkuasa. Yang langka justru pemimpin yang berintegritas, bermoral, dan setia pada tanggung jawabnya kepada rakyat.
Pesan itu disampaikan Kardinal Suharyo saat peluncuran Gerakan Nurani Bangsa di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Dalam nada tenang namun tegas, ia membedakan kepemimpinan dari sekadar kekuasaan. Pemimpin hadir untuk melayani, sementara penguasa kerap terjebak pada kepentingan kelompoknya sendiri.
“Saya berharap dengan hadirnya Gerakan Nurani Bangsa di Gedung Pemuda ini, para pemimpin kita sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemimpin, bukan penguasa,” ujar Kardinal Suharyo.
Ia mengingatkan, ketika kekuasaan dilepaskan dari nurani, maka kebijakan mudah menjauh dari keadilan. Sejarah bangsa, menurutnya, justru dibangun oleh tokoh-tokoh yang menempatkan etika dan keberpihakan pada kepentingan umum di atas ambisi pribadi.
Gerakan Nurani Bangsa sebagai Pengingat Etika Publik
Di tengah kehidupan demokrasi yang kerap riuh oleh persaingan dan polarisasi, Kardinal Suharyo memandang Gerakan Nurani Bangsa sebagai ruang refleksi bersama. Bukan arena politik praktis, melainkan pengingat bahwa demokrasi menuntut watak, bukan hanya prosedur.
Bangsa ini, kata kardinal, yang tampak didampingi rohaniwan-intelektual Katolik, Prof, Franz Magnis Suseno, memiliki banyak orang cerdas dan berpengaruh.
Namun, katanya, "tidak selalu cukup pemimpin yang mau mendengar suara hati, terutama jeritan mereka yang paling terdampak oleh keputusan-keputusan publik."
Ciri pemimpin yang baik
“Pemimpin yang baik bukan yang paling kuat, melainkan yang paling setia pada mandat rakyat dan nilai kemanusiaan,” tutur Kardinal Suharyo.
Pemilihan Gedung Pemuda sebagai lokasi peluncuran pun sarat makna. Dari tempat yang sama, puluhan tahun lalu, kesadaran kebangsaan dirajut melampaui sekat-sekat kepentingan. Kini, dari ruang itu pula, seruan untuk menautkan kembali kekuasaan dengan etika kembali dikumandangkan.
Gerakan Nurani Bangsa diharapkan menjadi pengingat terus-menerus bahwa kekuasaan tanpa integritas akan rapuh. Sebaliknya, kepemimpinan yang berakar pada nurani justru menjadi fondasi kepercayaan publik dan masa depan bangsa. (X-5/EDUKATOLIK)
Sumber:
Video Jurnalis: Nicholas Ryan Aditya
Penulis Naskah: Rizky Syahrial
Video Editor: Rizky Syahrial
Produser: Nursita Sari