Tetelestai: Telah Tuntas
Tetelestai! Tuntas sudah tugas perutusan Yesus di dunia. Ist.
Waktu Yesus tergantung di kayu salib. Ada sepatah kata yang selalu bikin saya terdiam lama. “Tetelestai!”
Begitu kata-Nya, seperti tercatat di Injil Yohanes 19:30. Dalam bahasa Yunani aslinya cuma satu kata: Tetelestai. Tapi satu kata itu rasanya membawa beban seluruh sejarah keselamatan.
Makna di balik kata "Tetelestai"
Secara harfiah, Tetelestai itu seperti bilang: sudah digenapi total, sudah diselesaikan dengan sempurna, hutangnya lunas dibayar habis, dan tugas yang diberikan Bapa sudah rampung benar.
Zaman Romawi dulu, kata yang mirip ini biasa mereka coret di kuitansi pajak atau surat utang yang sudah dibayar penuh. Artinya? Sudah clear. Tidak ada lagi sisanya. Tidak perlu tambah apa-apa.
Makanya saya suka mikir, Yesus waktu itu bukan lagi bilang “ya sudah hampir beres” atau “tinggal sedikit lagi”. Beliau nyatakan dengan suara yang pasti: semuanya sudah beres. Pekerjaan penebusan yang Bapa titipkan kepada-Nya, selesai. Tidak kurang sedikit pun.
Apa sebenarnya yang diselesaikan Yesus?
Dari kecil sampai akhir hayat-Nya, Yesus punya satu fokus saja: membawa kita pulang kepada Bapa. Dosa yang memisahkan manusia dengan Allah, Dia tanggung sendiri. Nubuat lama di Yesaya 53 sudah menggambarkan itu dengan jelas – Hamba Tuhan yang menderita, yang memikul segala kesalahan kita.
Jadi saat Dia berseru “Sudah selesai”, saya percaya artinya: hukuman yang seharusnya kita terima, sudah Dia bayar lunas. Murka Allah atas dosa sudah dipuaskan. Dan kurban yang sempurna itu sudah dipersembahkan.
Salib bukanlah akhir yang menyedihkan. Bagi saya, justru itu adalah puncak rencana Allah yang luar biasa. Bukan kekalahan, tapi kemenangan yang sesungguhnya.
Dari kurban lama ke kurban yang satu
Dulu di masa Perjanjian Lama, orang Israel harus mempersembahkan korban terus-menerus. Domba, lembu, burung merpati… hampir setiap hari ada yang disembelih. Semua itu memang baik sebagai bayangan, tapi tetap saja tidak bisa membersihkan dosa secara permanen.
Lalu datang Yesus. Surat Ibrani pasal 10 ayat 12 bilang begini: “Tetapi Ia, setelah mempersembahkan satu kurban untuk dosa selama-lamanya, duduk di sebelah kanan Allah.”
Satu kali saja. Dan itu cukup untuk selamanya. Tidak perlu diulang lagi. Itu yang bikin hati saya tenang.
Kemenangan yang nyata
“Selesai” juga berarti kuasa dosa sudah patah. Hukum Taurat yang menuntut kita sudah dipenuhi. Iblis sudah kalah. Dan jalan yang tadinya tertutup menuju Bapa, sekarang terbuka lebar.
Saya selalu teringat saat tirai Bait Suci robek dari atas sampai bawah (Matius 27:51). Bukan angin biasa yang merobeknya. Itu tanda jelas: mulai saat itu, kita boleh datang langsung kepada Allah lewat Yesus. Tidak perlu perantara lain lagi.
Damai yang datang dari “Sudah Selesai”
Yang paling saya syukuri dari ucapan ini adalah kepastiannya. Keselamatan bukan soal kita berusaha keras membayar dosa sedikit demi sedikit. Semuanya sudah bergantung pada karya Yesus yang sudah tuntas di salib.
Kita hidup bukan untuk “mencari” keselamatan. Kita hidup karena kita sudah diselamatkan oleh anugerah-Nya, lewat iman.
Teologi Katolik yang kita miliki ini kaya sekali dan utuh. Ia mengajarkan dengan dalam bahwa kurban Kristus di salib itu sempurna dan cukup. Rahmat keselamatan mengalir dari sana, lewat sakramen-sakramen dan kehidupan rohani kita sehari-hari. Cara memahaminya memang bisa berbeda-beda antar orang, tapi intinya sama: Yesus sudah menyelesaikan segalanya.
Saya rasa menyerang saudara-saudari kita sendiri hanya karena beda cara memahami teologi itu kurang bijak. Kita semua berdiri di bawah salib yang sama. Di situ Yesus berseru “Tetelestai”.
Mari kita pegang erat kebenaran ini. Karena Dia sudah bilang “Sudah selesai”, kita boleh bernapas lega, hidup dengan damai, bersyukur, dan saling mengasihi sebagai sesama umat Katolik.
Penulis: Sr. Skolastika Ningtyasrum