Presbyter: Makna, Dasar Alkitabiah, dan Perbedaannya dengan Pendeta
Oleh P Jack Dambe CjdPresbyter: imam Katolik, sakramen Imamat, kuasa sakramental, suksesi apostolik. Ist.
Presbyter adalah imam dalam Gereja Katolik yang menerima Sakramen Imamat dan memiliki kuasa sakramental melalui Suksesi Apostolik. Artikel ini membahas makna, dasar Alkitab, dan perbedaannya dengan pendeta Protestan.
Banyak umat Kristen saat ini masih terjebak dalam pemahaman yang terlalu menyederhanakan: semua pemimpin jemaat dianggap sama.
Imam Katolik, pendeta, atau gembala sidang sering dipandang hanya berbeda istilah atau gaya memimpin ibadah. Padahal, jika ditinjau dari iman, teologi, Kitab Suci, dan sejarah Gereja, perbedaannya sangat mendasar dan tidak bisa disamakan.
Tulisan ini merapikan pemahaman tersebut agar tidak terjadi kekeliruan dalam melihat makna presbyter secara tepat.
Arti “Presbyter” dalam Tradisi Gereja
Secara etimologis, kata presbyter berasal dari bahasa Yunani presbyteros yang berarti “penatua”. Namun, dalam tradisi Gereja sejak zaman para rasul, istilah ini tidak sekadar menunjuk pada orang yang dituakan, melainkan mengacu pada imam yang menerima tahbisan sakramental.
Dalam Gereja Katolik, menjadi presbyter bukan sekadar lulus sekolah teologi atau menjadi pengkhotbah. Seorang presbyter harus menerima Sakramen Imamat, yang secara ontologis mengubah dirinya secara permanen. Perubahan ini bukan simbolis, melainkan nyata dalam iman Gereja.
Melalui sakramen ini, seorang imam diberi kuasa untuk bertindak in persona Christi (dalam pribadi Kristus), khususnya dalam:
- Perayaan Ekaristi
- Pengampunan dosa
- Pelayanan sakramental lainnya
Dasar Kitab Suci tentang Imamat
Kuasa sakramental seorang presbyter berakar kuat dalam Kitab Suci, terutama dalam mandat langsung dari Yesus:
- Lukas 22:19
Yesus mempercayakan perayaan Ekaristi kepada para rasul - Yohanes 20:22–23
Yesus memberi kuasa mengampuni dosa
Pengangkatan presbyter juga jelas bersifat otoritatif dari para rasul:
- Kisah Para Rasul 14:23
Rasul menetapkan penatua melalui doa dan puasa - Titus 1:5
Paulus memerintahkan Titus untuk menetapkan penatua - 1 Timotius 5:22
Penumpangan tangan tidak boleh dilakukan sembarangan
Semua ini menunjukkan bahwa jabatan presbyter tidak berasal dari pilihan jemaat, melainkan dari otoritas rasuli melalui penumpangan tangan.
Suksesi Apostolik sebagai Fondasi
Dalam Gereja Katolik, kuasa rohani tidak muncul begitu saja, tetapi diteruskan melalui Suksesi Apostolik yaitu rantai penumpangan tangan yang tidak terputus sejak para rasul hingga para uskup saat ini.
Artinya:
- Imam ditahbiskan oleh uskup
- Uskup adalah penerus para rasul
- Garis otoritas tetap terjaga secara historis dan sakramental
Inilah yang menjamin keabsahan imamat dan kuasa sakramental dalam Gereja.
Perbedaan dengan Pendeta dalam Tradisi Protestan
Sejak peristiwa Reformasi pada abad ke-16, banyak komunitas Kristen menolak Sakramen Imamat dan Suksesi Apostolik. Dampaknya sangat signifikan:
a. Tidak ada tahbisan sakramental
Pendeta tidak menerima Sakramen Imamat seperti dalam Gereja Katolik.
b. Tidak memiliki kuasa sakramental
- Tidak mengubah roti dan anggur menjadi Ekaristi sejati
- Tidak memberikan pengampunan dosa secara sakramental
- Sistem pemilihan bersifat organisatoris
Pendeta biasanya:
- Dipilih oleh jemaat
- Ditunjuk oleh sinode
- Melalui proses administratif seperti organisasi
Dalam praktik modern, bahkan ada yang mengangkat diri sendiri sebagai gembala sidang karena memiliki pengaruh atau pengikut.
Jabatan bersifat fungsional, bukan ontologis
Seorang pendeta:
- Bisa diberhentikan
- Bisa mengundurkan diri
- Bisa kembali menjadi anggota jemaat biasa
Ini berbeda dengan imam Katolik yang menerima meterai imamat yang kekal, yang tidak dapat dihapuskan.
Kesimpulan
Presbyter dalam konteks iman Katolik bukan sekadar “pemimpin jemaat” atau “pengkhotbah”. Ia adalah imam yang:
- Ditahbiskan secara sah melalui Sakramen Imamat
- Berdiri dalam garis Suksesi Apostolik
- Memiliki kuasa sakramental yang berasal dari Kristus sendiri
Karena itu, presbyter tidak dapat disamakan dengan pendeta atau gembala sidang dalam tradisi Protestan. Perbedaannya bukan hanya soal istilah, tetapi menyangkut:
- Dasar teologis
- Tradisi apostolik
- Hakikat sakramental
Dengan pemahaman ini, umat tidak lagi melihat perbedaan sebagai sekadar variasi administratif, tetapi sebagai realitas iman yang mendalam.