Credo Nicea-Konstantinopel Percaya pada Gereja yang Satu, Kudus, KATOLIK, dan Apostolik

Credo Nicea-Konstantinopel Percaya pada Gereja yang Satu, Kudus, KATOLIK, dan Apostolik
Gereja yang satu, kudus, KATOLIK dan apostolik sesuai rumusan Credo Nicea-Konstantinopel. Ist.

Oleh Sr. Felicia Tesalonika

Gereja yang satu, kudus, KATOLIK, dan Apostolik dalam Credo Konsili Nicea-Konstantinopel.

Dalam pengakuan iman yang dirumuskan para Bapa Konsili Nicea (325) dan diperkaya Konstantinopel (381), kita mendengar seruan yang abadi: 

“Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.” 

Rumusan dalam teks ini bukan sekadar kata-kata liturgis, melainkan “teks hidup” yang mengandung sensus plenior makna penuh yang terungkap melalui lingkaran hermeneutika: sejarah, tradisi, dan pengalaman iman kolektif. 

Melalui pendekatan hermeneutika Gadamer, kita tidak sekadar membaca, tetapi “berdiam” di dalam teks itu, membiarkan vorurteil (prasangka positif) tradisi membimbing kita menemukan hakikat Gereja yang sesungguhnya. 

Artikel ini hendak mendalami khususnya kata CATHOLICAM yang paling sering dilupakan atau disalahpahami – sebagai inti universalitas yang menurut seluruh (kata Yunani katholikos).

Latar Belakang Historis Rumusan Credo Nicea-Konstantinopel

Credo Nicea-Konstantinopel lahir dari pergumulan hebat melawan ajaran sesat Arianisme yang menyangkal keallahan Putra. 

Konsili Nicea (325) merumuskan inti tentang Kristus: “consubstantialem Patri” (sehakikat dengan Bapa). Kemudian, Konsili Konstantinopel (381) memperkaya rumusan itu dengan penekanan pada Roh Kudus dan Gereja, untuk menegaskan kesatuan iman di tengah ancaman pecah-belah. 

Teks asli Yunani menggunakan bentuk jamak “Credimus” (Kita percaya), bukan “Credo” tunggal seperti versi Barat kemudian. Rumusan Latin yang setia pada aslinya berbunyi:

“Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam. Confitemur unum baptisma in remissionem peccatorum...”

Para Bapa Konsili  yang sebagian besar dari Timur sengaja memilih kata catholicam untuk menegaskan bahwa Gereja bukanlah perkumpulan lokal atau partikular semata, melainkan yang “menurut seluruh”. 

Kata catholicam ini bukan tambahan baru; melainkan kristalisasi dari tradisi apostolik yang sudah hidup sejak abad kedua. Dalam konteks hermeneutika historis, rumusan ini lahir dari pengalaman penganiayaan dan perdebatan doktrinal, sehingga menjadi “tembok pertahanan” iman yang universal. Tanpa pemahaman latar belakang ini, kata CATHOLICAM hanya akan menjadi label kosong, padahal ia adalah pengakuan akan kehadiran Kristus yang penuh di dalam seluruh umat manusia.

Pengakuan Iman akan “Satu, Kudus, dan Apostolik”

Sebelum mendalami CATHOLICAM, kita perlu meletakkan tiga sifat lain sebagai fondasi. “Satu” (unam) merujuk pada kesatuan mistik Tubuh Kristus (Ef 4:4-6); bukan kesatuan paksaan, melainkan kesatuan dalam kasih dan iman yang sama. “Kudus” (sanctam) bukan karena kesempurnaan anggotanya, melainkan karena Kristus yang Kudus menghadirkan diri di dalamnya melalui sakramen-sakramen. “Apostolik” menegaskan kesinambungan dengan para Rasul: suksesi apostolik, ajaran yang sama, dan kekuasaan mengikat serta melepaskan yang diteruskan melalui para Uskup.

Ketiga sifat ini saling berkaitan secara organik. Namun, CATHOLICAM menjadi “jembatan” yang menghubungkan ketiganya ke seluruh dunia dan sepanjang zaman. Tanpa universalitas, kesatuan bisa menjadi sektarian; kekudusan bisa menjadi elitis; dan keapostolikan bisa terkurung dalam masa lalu. Di sinilah hermeneutika mulai bekerja: kita melihat bagaimana keempat sifat itu membentuk lingkaran hermeneutis yang tak terpisahkan.

Catholicam: Universalitas yang Menurut Seluruh – Dalaman Mendalam

Inilah inti pembahasan kita. Kata CATHOLICAM berasal dari Yunani καθολικὴν (katholikēn), yang secara etimologis berarti “menurut seluruh” (kata holos = seluruh, dan kata = menurut). Bukan sekadar “universal” dalam arti geografis meluas, melainkan “menurut totalitas” – mencakup seluruh kebenaran iman, seluruh umat manusia, seluruh zaman, dan seluruh sarana keselamatan.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KKK 830), dijelaskan dengan jernih: “Gereja adalah katolik dalam arti ganda. Pertama, karena Kristus hadir di dalamnya dengan kepenuhan-Nya... Kedua, karena ia diutus kepada seluruh umat manusia.” Ini adalah sensus plenior yang kita cari. CATHOLICAM bukan sifat tambahan, melainkan sifat yang membuat tiga sifat lain menjadi nyata. Kristus tidak terbatas pada satu suku, satu bahasa, atau satu budaya. Ia hadir sepenuhnya di mana-mana Roh Kudus bekerja.

Dalam surat St. Ignatius dari Antiokhia kepada jemaat Smyrna (sekitar tahun 107 M), kita menemukan penggunaan pertama kata “Gereja Katolik” secara eksplisit: “Di mana Yesus Kristus ada, di situlah Gereja Katolik.” Ignatius, murid St. Yohanes, sudah melihat bahwa Gereja bukanlah “gereja-gereja” yang terpisah, melainkan satu realitas yang utuh di mana Kristus hadir secara penuh. Ini adalah hermeneutika apostolik yang langsung: teks Ignatius menjadi “cermin” bagi Credo 381.

CATHOLICAM mencakup tiga dimensi universalitas yang saling menembus:

1. Universalitas dalam ruang (geografis): Gereja tidak terkurung di Yerusalem, Roma, atau Konstantinopel. Ia merambah “sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Di Indonesia, termasuk di tanah Dayak Kalimantan Barat, Gereja Katolik adalah gereja yang sama dengan di Vatikan atau Afrika. Setiap paroki kecil di pedalaman adalah “Gereja Katolik” yang penuh karena bersatu dengan Uskup Roma.

2. Universalitas dalam waktu (historis): Gereja Katolik merangkul seluruh Tradisi apostolik sejak Pentakosta hingga akhir zaman. Ia tidak “membeku” di abad ke-4, melainkan terus berkembang dalam pemahaman iman (perkembangan doktrin seperti yang diajarkan St. Yohanes Henry Newman). Hermeneutika Gadamer membantu kita melihat bahwa setiap generasi “berdansa” dengan teks Credo, membawa pengalaman baru tanpa mengubah hakikatnya.

3. Universalitas dalam kebenaran dan sarana keselamatan: Gereja memiliki “kepenuhan sarana keselamatan” (KKK 816) – iman yang lengkap, tujuh sakramen, dan pelayanan apostolik. Ini yang membedakan ia dari komunitas lain yang memiliki “unsur-unsur pengudusan dan kebenaran” (Lumen Gentium 8), tetapi tidak kepenuhan itu.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, CATHOLICAM memanggil kita untuk tidak menjadi “Gereja suku” atau “Gereja etnis”. Ia menolak segala bentuk partikularisme sempit. Gereja Katolik di tanah air kita adalah Gereja yang “menurut seluruh”: menerima kekayaan budaya Dayak, Jawa, Batak, Papua, namun menyatukannya dalam satu iman yang sama. Inilah makna mendalam yang sering terlupakan: CATHOLICAM adalah undangan kepada semua bangsa untuk masuk ke dalam kepenuhan Kristus tanpa kehilangan identitas budaya mereka.

Catholicam dalam Hermeneutika Patristik dan Tradisi Gereja Awal

Melalui lensa hermeneutika patristik, CATHOLICAM semakin terang. St. Sirilus dari Yerusalem (abad ke-4) dalam Katekese Pembaptisan menjelaskan: “Gereja disebut Katolik karena ia tersebar di seluruh dunia, mengajarkan seluruh kebenaran, menyembuhkan seluruh jenis dosa, dan memiliki segala macam keutamaan.” Ini adalah penafsiran yang “menurut seluruh” – tidak ada yang dikurangi.

St. Agustinus dalam Contra Faustum menegaskan bahwa Gereja Katolik adalah yang “memeluk seluruh dunia” dan “menjaga keutuhan iman”. Bahkan dalam perdebatan Donatisme, Agustinus menggunakan catholicam untuk menolak klaim bahwa kesucian hanya ada di satu kelompok kecil. Tradisi Timur dan Barat sepakat: CATHOLICAM adalah kriteria keaslian.

Dalam Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 13-17 mengembangkan pemahaman ini: Gereja Katolik adalah “sakramen kesatuan seluruh umat manusia”. Universalitas bukan imperialisme, melainkan pelayanan. Di sinilah hermeneutika kita bertemu dengan realitas kontemporer: di tengah globalisasi dan sekularisme, CATHOLICAM menjadi jawaban atas fragmentasi manusia modern.

Relevansi Catholicam bagi Gereja Kontemporer, Khususnya di Indonesia

CATHOLICAM bukan warisan museum, melainkan panggilan hidup. Di Indonesia, di mana Gereja sering menghadapi tantangan pluralisme dan isu lokal, universalitas ini mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari Tubuh Kristus yang utuh. Setiap Misa, ketika kita mengucapkan “satu, kudus, katolik, dan apostolik”, kita mengaku bahwa Gereja kita di Sanggau, Pontianak, atau Jayapura adalah Gereja Katolik yang sama dengan di Roma.

Panggilan hermeneutis kita hari ini: hidupkan kembali CATHOLICAM melalui dialog antarbudaya, ekumenisme yang sejati, dan kesaksian kasih yang universal. Seperti yang diajarkan para Bapa Konsili 381, Gereja yang Katolik adalah Gereja yang terbuka bagi semua karena Kristus hadir sepenuhnya di dalamnya.

Pengakuan iman ini tetap bergema: kita percaya akan Gereja yang satu, kudus, KATOLIK, dan apostolik. 

Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org