𝙎𝙞𝙠𝙖𝙥 𝘽𝙖𝙩𝙞𝙣 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙈𝙞𝙨𝙖

𝙎𝙞𝙠𝙖𝙥 𝘽𝙖𝙩𝙝𝙞𝙣 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙈𝙞𝙨𝙖
Sikap batin dan lahir mengikuti Misa itu perlu: tanda dan yang ditandakan. Istimewa.
Oleh P Jack Dambe Cjd

Realitas umat beriman di era modern sering kali menyuguhkan sebuah ironi yang begitu banal di hadapan altar maha kudus. 

Keluhan mengenai sikap umat yang datang terlambat, duduk bersantai di luar gedung gereja, dan secara tiba-tiba merangsek masuk ke dalam barisan hanya pada saat komuni dibagikan, bukanlah sekadar masalah pelanggaran tata tertib parokial. 

Ini adalah simptom dari sebuah penyakit rohani yang jauh lebih kronis: hilangnya rasa gentar, takjub, dan hormat terhadap misteri agung Ekaristi

Kita seolah telah mereduksi perayaan keselamatan yang menggetarkan dimensi kosmis ini menjadi sekadar ritus pemenuhan kewajiban mingguan, sebuah absensi spiritual yang dangkal, profan, dan kosong dari esensi pengorbanan.

Ekaristi bukanlah sebuah restoran cepat saji

Ekaristi bukanlah sebuah restoran cepat saji di mana manusia bisa datang kapan saja, mengambil bagian yang menguntungkan, lalu pergi begitu saja tanpa keterikatan batin. Keterlambatan yang disengaja atau dibiarkan menjadi kebiasaan adalah sebuah bentuk pelecehan terselubung terhadap undangan ilahi. 

Memang benar, secara hukum legal formal, mungkin tidak ada aturan tertulis yang secara eksplisit mencoret hak Anda untuk menyambut komuni semata-mata karena Anda terlambat datang ke gereja. 

Namun, relasi dengan Tuhan tidak dibangun di atas dasar legalisme yang kaku, melainkan di atas kesadaran dan kelayakan batin. 

Jika Anda melangkah masuk ke dalam gereja ketika doa pembuka sudah selesai, ketika Anda tidak mempersiapkan hati melalui sapaan tobat awal dan tidak meresapkan sabda-Nya, bertanyalah pada nurani Anda yang paling dalam: sungguh pantaskah Anda maju ke altar?

​Di sinilah dibutuhkan sebuah kerendahan hati yang radikal dan kedisiplinan rohani yang sangat kokoh. Sebaiknya, Anda menanamkan sikap tegas pada diri sendiri untuk berani berkata, 

"Hari ini saya tidak pantas." Menahan diri dari menyambut komuni karena kesadaran penuh akan ketidaksiapan batin dan keterlambatan Anda adalah bentuk penghormatan rohani yang jauh lebih luhur daripada tetap maju menyambut sakramen dengan hati yang acuh tak acuh. 

Tidakkah kita harus memberikan porsi terbaik dari diri kita dalam persatuan dengan Tuhan? Jangan pernah berani menyambut Tubuh Kristus jika disposisi batin Anda tidak sungguh-sungguh serius, sebab menyambut-Nya dalam keadaan tidak layak sama halnya dengan menelan penghukuman bagi diri sendiri.

Puncak kekudusan

​Krisis penghayatan ini juga terekam jelas dalam kebingungan batin ketika imam mengangkat Hosti dan Piala. Momen tersebut adalah puncak kekudusan, di mana waktu seakan terhenti dan Kalvari dihadirkan kembali di altar. 

Sering kali, tatapan umat justru kosong, bahkan yang menoleh ke sana kemari tanpa konsentrasi, atau tubuh menunduk tanpa makna, alih-alih memandang Hosti Suci dengan penuh iman sambil menyerukan pengakuan di dalam hati, "Tuhanku dan Allahku." 

Para imam telah mengorbankan seluruh hidup mereka, bekerja keras melayani dan mencoba menjembatani umat modern yang sering kali sinis dan disibukkan oleh dunia, menuju kekudusan Tuhan. Namun, rahmat itu tidak akan bekerja jika umat tidak menyediakan tanah batin yang subur.

​Kedangkalan iman ini bermanifestasi pada bagaimana postur tubuh dan letak tangan kita ketika detik-detik penyambutan komuni tiba. Gereja, dalam kebijaksanaan pastoralnya, memang memberikan ruang bagi kebiasaan setempat. Umat diizinkan untuk menyambut Hosti Kudus baik secara langsung di lidah maupun dengan menggunakan tangan. 

Kebebasan preskriptif ini sering disalahartikan sebagai lisensi untuk bersikap sembrono. Jika Anda memilih untuk menerima komuni langsung di mulut, lakukanlah dengan sikap penyerahan diri yang total. 

Buka mulut Anda dengan pantas dan julurkan lidah dengan posisi tubuh yang stabil, membiarkan Tuhan sendiri yang mengambil inisiatif untuk memberi makan jiwa Anda.

Warisan teologis dari para Bapa Gereja

​Sebaliknya, jika Anda menyambut dengan tangan, ingatlah warisan teologis dari para Bapa Gereja: jadikanlah tangan kiri Anda sebagai takhta bagi tangan kanan, karena Anda akan menyambut Sang Raja Semesta Alam. 

Posisi tangan harus terbuka rata, tidak mencengkeram atau mengambil Hosti dari tangan pelayan, melainkan menerimanya. 

Setelah diletakkan, Hosti harus segera dikonsumsi di hadapan pelayan komuni dengan melangkah sedikit ke samping. Ekaristi tidak untuk dibawa berjalan menuju bangku layaknya makanan ringan yang kehilangan nilai sakralnya.

Perayaan Ekaristi menuntut seluruh eksistensi, kesadaran, dan keseriusan kita. Sikap tubuh yang rapuh, tangan yang diletakkan sembarangan, serta langkah kaki yang tergesa-gesa tanpa penghormatan adalah cermin dari jiwa yang tandus. Mari kita berhenti menjadikan Ekaristi sebagai rutinitas yang murahan. 

Kita dipanggil untuk kembali menemukan sikap gentar yang suci, menerapkan kedisiplinan batin yang tanpa kompromi, dan menyadari sepenuhnya bahwa persatuan dengan Kristus menuntut penyerahan totalitas diri, bukan sekadar kehadiran fisik yang terlambat dan formalitas yang hampa.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org