Berkat dengan Tanda Salib di Dahi
Berkat dengan Tanda Salib di dahi. Apa dan bagaimana? Istimewa.
Oleh P Jack Dambe Cjd
Banyak umat sering bertanya mengapa prodiakon tidak diperkenankan memberi berkat dengan tanda salib di dahi anak-anak saat antrean komuni, padahal orang tua di rumah justru sangat dianjurkan melakukannya?
Jawabannya terletak pada perbedaan mendasar antara tata tertib liturgi resmi di dalam gereja dan kehangatan devosi di dalam keluarga.
Ketertiban Liturgi dan Peran Prodiakon di Dalam Gereja
Saat merayakan Ekaristi, tata cara ibadat (liturgi) memiliki aturan baku yang bertujuan agar ibadat berjalan tertib dan makna dari setiap peran tidak menjadi kabur.
Dalam Misa, gerakan memberkati dengan membuat tanda salib adalah wewenang khusus pelayan tertahbis (Uskup, Imam, Diakon) karena pada saat itu mereka bertindak secara resmi mewakili Kristus (In Persona Christi). Sementara itu, prodiakon adalah umat awam yang mendapat tugas tambahan murni untuk membantu membagikan Tubuh Kristus.
Mengacu pada Instruksi Redemptionis Sacramentum (2004) artikel 151 dan 154, Gereja menegaskan bahwa pelayan luar biasa (prodiakon) tidak diperkenankan mengambil alih peran atau meniru gestur tubuh yang secara khusus diperuntukkan bagi imam, agar umat tidak bingung membedakan tugas klerus dan awam.
Mengenai kebiasaan memberkati di antrean komuni, Vatikan melalui Surat Kongregasi Ibadat Ilahi (Protokol No. 1322/02/L tahun 2008) telah memberikan jawaban yang tegas.
Dokumen tersebut menyatakan bahwa praktik memberikan berkat individu saat pembagian komuni sebenarnya tidak ada dalam buku Misale Romawi, dan secara khusus melarang pelayan awam melakukan gestur berkat (seperti tanda salib di dahi). Hal ini dapat dipahami karena berdasarkan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR), seluruh umat, termasuk anak-anak yang tidak menyambut komuni, akan menerima berkat Tuhan secara bersama-sama melalui Berkat Perutusan dari imam di akhir Misa.
Oleh karena itu, jika ada anak yang ikut mengantre komuni, prodiakon cukup menunjukkan kasih sayang dengan mengatupkan tangan di dada atau meletakkan tangan di bahu sang anak sambil mendoakan dalam hati, "Semoga Tuhan memberkatimu," tanpa perlu membuat tanda salib di dahi. Atau jauh lebih baik menunggu imam yang melakukannya setelah komuni.
Kehangatan Devosi dan Otoritas Orang Tua di Rumah
Praktik ini menjadi sangat berbeda ketika dilakukan di dalam rumah. Rumah tangga Katolik tidak dipandang sekadar sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai Ecclesia Domestica atau "Gereja Rumah Tangga", sebagaimana ditegaskan dalam dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium artikel 11.
Di dalam rumah, kekakuan aturan liturgi berganti menjadi tradisi keluarga yang penuh kehangatan. Melalui Sakramen Perkawinan, Tuhan memberikan wewenang dan tanggung jawab rohani yang sangat besar kepada ayah dan ibu atas anak-anak mereka.
Saat orang tua membuat tanda salib di dahi anak, misalnya saat anak hendak berangkat sekolah atau sebelum tidur, tindakan tersebut bukanlah berkat resmi liturgi seperti yang dilakukan imam, melainkan sebuah doa permohonan yang sangat kuat.
Praktik devosional ini sangat didukung oleh ajaran Gereja. Katekismus Gereja Katolik (KGK) artikel 1669 menjelaskan bahwa pemberkatan berasal dari "imamat umum" yang diterima oleh semua orang yang dibaptis, sehingga kaum awam pun dapat memimpin pemberkatan tertentu bagi keluarganya.
Hal ini semakin diperjelas dalam pedoman resmi Buku Pemberkatan (De Benedictionibus) pada Pengantar Umum artikel 18, yang secara spesifik memberikan hak kepada orang tua untuk memberikan berkat kepada anak-anaknya.
Tanda salib di dahi dari tangan orang tua adalah cara terindah untuk mengingatkan sang anak bahwa mereka selalu berada dalam perlindungan dan kasih Tuhan.
Kesimpulan
Gereja mengatur agar prodiakon tidak membuat tanda salib di dahi saat Misa semata-mata demi menjaga ketertiban tata Liturgi dan menghormati peran khusus imam. Namun sebaliknya, Gereja sangat mendorong dan merestui orang tua untuk membuat tanda salib di dahi anak-anak mereka di rumah sebagai bentuk nyata dari doa dan kasih sayang rohani dalam keluarga.