DONASI KONSTANTINUS Tanggapan terhadap Narasi Sampah Tante Loya Latoya
| Tanggapan terhadap Narasi Sampah, Tante Loya Latoya. Fb Jjd |
Oleh P Jack Dambe Cjd
Membaca esai "Tante Loya Latoya" yang diberi judul: Donasi Konstantin, Katolik Roma dibangun dengan Dokumen Palsu”, ini rasanya seperti menonton seseorang mencoba merobohkan Basilika Santo Petrus menggunakan pistol air berisi sirup marjan: berisik, lengket, penuh drama, tapi sama sekali tidak mengubah apa pun dari struktur bangunan.
Tulisan Tante Loya adalah drama hiperbola, sebuah "halusinasi historis" yang ditulis dengan emosi meluap-luap namun sayangnya miskin literasi dasar.
Mari kita kuliti narasi provokatif ini bagian demi bagian, lalu kita berikan sebuah plot twist sejarah di akhir (Skandal Philip dari Hesse) agar Tante Loya tahu bahwa jika kita mau bicara soal manipulasi agama demi politik, "kubunya" pun punya bangkai yang baunya tidak kalah menyengat.
1. Fondasi "Kertas Daur Ulang": Sebuah Halusinasi Kronologis
Narasi Loya: "Gereja Katolik Roma adalah institusi megah yang berdiri di atas fondasi... tumpukan kertas daur ulang... lahir dari ujung pena seorang pemalsu."
Jawab: Ini adalah jenis kebodohan sejarah yang sangat murni sehingga hampir patut dibingkai di museum. Tante Loya mencoba meyakinkan pembacanya bahwa sebuah gedung pencakar langit (Gereja Katolik) baru mulai dibangun fondasinya saat bangunannya sudah berada di lantai ke-80.
Mari kita gunakan matematika anak SD: Kaisar Konstantin hidup di abad ke-4. Dokumen palsu Donatio Constantini itu baru muncul di abad ke-8 (sekitar 400 tahun setelah Konstantin wafat). Sementara itu, Gereja Katolik dengan otoritas kepausan kokoh berdiri berdasarkan Suksesi Apostolik (Petrus) sejak abad ke-1, berdasarkan Matius 16:18.
Jika Gereja Katolik baru "lahir" dan punya wewenang karena selembar dokumen palsu di abad ke-8, lalu apa yang dilakukan para Paus selama 700 tahun sebelumnya? Apakah mereka cuma duduk-duduk di kafe pinggir jalan Roma sambil menunggu seseorang menemukan mesin fotokopi? Mengklaim Gereja dibangun di atas Donatio itu seperti mengatakan kakek buyutmu lahir karena akta kelahiran yang baru kamu cetak kemarin sore di warnet. Logika yang sangat "ajaib"! Inilah ciri khas kaum heretic.
2. "Kunci Surga" dan Salah Eja "Purtagori" yang Menggemaskan
Narasi Loya: "Kunci surga ternyata harus ditempa menggunakan palu kebohongan duniawi... dunia Barat hidup dalam keyakinan yang keliru secara kuat yang dipelihara dengan ancaman api neraka PURTAGORI."
Jawab: Astaga, Tante Loya. Setidaknya gunakan Google atau fitur spell-check sebelum menghujat dengan penuh gaya.
Namanya Purgatorium (Api Penyucian), bukan "Purtagori". Membaca tulisan yang sok tahu sejarah tapi salah mengeja istilah teologis dasar itu rasanya seperti mendengar seseorang berlagak menceramahi ilmuwan NASA, tapi dia sendiri tidak bisa mengeja kata "Bulan".Ini menegaskan dirimu yang modal AI, tanpa kepekaan teologi. Sudah sering terjadi, misalnya: menambahkan injil Petrus, dsb.
Lebih parah lagi, Loya gagal total membedakan antara Otoritas Spiritual dan Kedaulatan Teritorial. Donatio Constantini adalah klaim atas hak milik tanah (real estate) di Italia dan Eropa Barat (politik duniawi). Itu tidak ada hubungannya dengan "kunci surga" atau doktrin keselamatan.
Mencampuradukkan urusan real estate Kepausan di Italia dengan Kunci Surga dan Purgatorium itu ibarat kamu mengira sertifikat rumah KPR-mu adalah tiket masuk otomatis jalur VIP ke surga. Kaisar Konstantin cuma punya kunci gudang senjata dan kunci toilet istana; dia tidak punya wewenang memberikan "kunci surga". Terbalik, Tante!
3. Drama Lorenzo Valla: Pahlawan yang Ternyata "Orang Dalam"
Narasi Loya: "Reaksi gereja terhadap penemuan Valla tentu saja sudah bisa kita tebak: penolakan total dan kemarahan yang suci... Mereka tidak bisa membiarkan fakta menghancurkan fantasi."
Jawab: Di bagian ini, Loya tidak lagi sekadar beropini, dia sedang mengarang fiksi murni. Loya memuja Lorenzo Valla seolah-olah dia adalah jagoan sekuler dari luar angkasa yang datang menghancurkan Vatikan.
Faktanya? Lorenzo Valla adalah seorang Imam Katolik dan humanis taat. Ketika dia membuktikan kepalsuan dokumen itu pada tahun 1440, apakah Gereja meledak dalam "kemarahan suci"? Apakah Valla dibakar di tiang gantungan? Sama sekali tidak. Paus Nikolaus V (yang sangat mencintai ilmu pengetahuan) justru mengakui kehebatan Valla dan mempekerjakannya sebagai Sekretaris Apostolik di Vatikan, dan terus memberikan dukungan pada Valla untuk menyumbangkan keilmuannya pada fondasi kebenaran Gereja.
Narasi "Gereja marah dan menolak total" ini hanyalah bumbu penyedap yang sudah kadaluwarsa dari film konspirasi murahan. Jika Gereja itu sejahat dan sehaus darah yang digambarkan Loya, Valla sudah jadi sate klatak sebelum sempat mempublikasikan tulisannya. Nyatanya? Valla malah dapat gaji bulanan dari Paus. Fakta memang sering kali merusak skenario film aksi yang sudah susah payah disusun oleh para pembenci, ya?
4. Kegagalan Memahami "Infalibilitas"
Narasi Loya: "Sungguh mengagumkan melihat bagaimana sebuah institusi bisa begitu sombong mengklaim infalibilitas... sementara sejarah mencatat bahwa mereka adalah konsumen sekaligus produsen hoaks."
Jawab: Lagi-lagi, Tante Loya menembak membabi buta tapi pelurunya nyasar ke kakinya sendiri. Infalibilitas (ketidaksesatan) Paus itu hanya berlaku dalam urusan Ajaran Iman dan Moral (ex cathedra). Tidak pernah ada dogma yang mengatakan "Paus adalah ahli sejarah yang maha tahu" atau "Paus memiliki mata sinar-X pendeteksi tinta palsu".
Menuntut Paus abad pertengahan harus tahu bahwa dokumen itu palsu secara filologis adalah seperti menuntut dokter bedah jantungmu harus tahu cara memperbaiki karburator motor RX-King yang mogok. Gak nyambung, Sayang! Kepausan dijalankan oleh manusia yang bisa tertipu urusan administrasi, tapi itu tidak membatalkan kebenaran teologisnya.
5. PLOT TWIST: Skandal "Kebohongan Suci" Gereja Reformasi (Martin Luther & Philip dari Hesse)
Tante Loya menulis seolah-olah hanya Gereja Katolik Roma yang pernah menggunakan kebohongan untuk mempertahankan kekuasaan politiknya. Dia berkhotbah bahwa "ketika agama dan kekuasaan tidur di ranjang yang sama, anak haram yang dilahirkan pastilah bernama penipuan." Wah, Tante, kalau mau bicara soal "anak haram penipuan politik," mari kita intip sejarah Gereja Reformasi Protestan yang sering dianggap sebagai antitesis dari "korupsi Katolik". Pernah dengar kasus Philip dari Hesse dan fatwa poligami dari Martin Luther? Mari kita bedah.
Kasusnya: Pada tahun 1540, Philip I (Landgrave dari Hesse) adalah salah satu pelindung militer dan penyandang dana terbesar bagi gerakan Reformasi Protestan. Tanpa pedangnya, gerakan Luther bisa dihancurkan oleh Kekaisaran. Masalahnya? Philip adalah pria hidung belang yang sering berselingkuh dan terkena sifilis. Dia ingin menikahi selingkuhannya yang berusia 17 tahun, Margarethe von der Saale, padahal dia sudah punya istri sah. Philip mengancam: jika teolog Protestan tidak mengizinkannya beristri dua, dia akan menarik pasukan militernya dan membelot kembali ke kubu Katolik (atau setidaknya berdamai dengan Kaisar).
Manipulasi Tingkat Dewa: Apa yang dilakukan tokoh-tokoh besar Reformasi seperti Martin Luther dan Philipp Melanchthon? Orang-orang yang meneriakkan "Sola Scriptura" (Hanya Alkitab) dan mengutuk kerusakan moral Paus ini tiba-tiba panik kehilangan "backingan" politik. Alih-alih menegakkan kebenaran firman Tuhan, Luther dan Melanchthon secara pengecut memberikan dispensasi rahasia kepada Philip untuk melakukan bigami (poligami), dengan syarat pernikahan kedua itu dirahasiakan rapat-rapat.
Namun, bangkai pasti tercium juga. Rahasia itu bocor ke publik Eropa dan memicu skandal moral yang maha dahsyat. Ketika Philip panik dan bertanya kepada Luther apa yang harus dikatakan kepada publik, apakah Luther menyuruhnya jujur?
Sama sekali tidak!
Martin Luther, sang reformator agung itu, menasihati Philip untuk BERBOHONG. Luther menulis bahwa Philip harus menyangkal pernikahan itu dengan "kebohongan yang kuat dan baik" (a good, strong lie) demi "kebaikan gereja".
Luther bahkan berargumen bahwa kebohongan kecil demi kepentingan Kristus adalah hal yang bisa dibenarkan!
Jadi agaimana, Tante Loya? Apakah "Purtagori" Anda cukup panas untuk skandal ini?
Jika Donasi Konstantin membuktikan bahwa ada pejabat Katolik Abad Pertengahan bersedia memalsukan dokumen demi mendapatkan tanah, maka Skandal Philip dari Hesse membuktikan bahwa bapak Reformasi bersedia membengkokkan hukum Tuhan, melegalkan bigami, dan menyuruh pelindungnya berbohong murni demi mempertahankan pasukan kavaleri sebagai pelindung dirinya!.
Kenyataannya, baik Katolik maupun Protestan pernah dihadapkan pada realita pahit: di mana ada kekuasaan politik, di situ ada kompromi yang kotor. Bedanya, Gereja Katolik memiliki keberanian (melalui proses sejarah) untuk akhirnya mengakui kepalsuan Donatio dan membuangnya.
Sementara itu, instruksi berbohong dari Luther tetap menjadi noda hitam kemunafikan yang hampir tidak pernah dikisahkan demi menjaga citra diri sang Reformator. Hebat ya, bapa reformator pujaan Nyonya Loya.
Tante Loya, sejarah itu bukan sekadar arena untuk memamerkan kosakata yang merajut kebencian pribadi.
Sebelum Anda melempar batu ke jendela kaca Vatikan, pastikan tante Loya dan pendukungmu yang buta sejarah tidak sedang berdiri di dalam rumah kaca yang fondasinya juga pernah retak oleh manipulasi sejarah.
Silakan tante Loya buat makin banyak narasi kebencian pada Gereja Katolik, kata orang di NTT, nanti saya tada di bok, untuk menelanjangimu lebih jauh lagi.