Pertobatan Ekologis dalam Semangat St. Fransiskus Asisi: Frater Sol dan Soror Luna
Gereja Katolik berpandangan jauh futuristik dalam diri St. Fransiskus Asisi dan para paus yang mengingatkan perlunya "pertobatan ekologis". Ist.
Oleh Raymundus Ray
Indonesia, negeri yang dilingkari laut dan dipeluk hutan tropis, akhir-akhir ini lebih sering hadir dalam berita sebagai daftar bencana: banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, kekeringan panjang, dan cuaca yang tak lagi bisa ditebak. Alam seakan kehilangan kesabarannya.
Sungai meluap bukan semata karena hujan, tetapi karena ruang resap dirampas. Tanah runtuh bukan hanya karena lereng curam, melainkan karena akar-akar telah disingkirkan. Dalam deretan peristiwa itu, bencana tidak datang sebagai kejutan belaka, melainkan sebagai bahasa alam yang selama ini kita abaikan.
Ketika relasi ini retak, yang muncul bukan hanya krisis ekologis, tetapi juga krisis spiritual. Maka pertobatan ekologis menjadi lebih dari seruan moral; ia adalah jalan iman, suatu undangan untuk kembali menyapa alam sebagai keluarga, sebelum rumah bersama ini runtuh sepenuhnya.
Ketika Alam tidak Lagi Kita Sapa sebagai Saudara
Ada saat ketika manusia berhenti memanggil. Bukan karena kehilangan suara, melainkan karena kehilangan relasi. Alam, yang dahulu disapa sebagai saudara, kini direduksi menjadi objek. Hutan menjadi angka hektare. Sungai menjadi debit. Tanah menjadi komoditas. Udara menjadi “sumber daya”. Bahasa berubah dan bersama bahasa, cara kita mencinta ikut berubah.
St. Fransiskus Asisi hidup di zaman ketika manusia belum mengenal mesin-mesin raksasa, belum mengenal grafik emisi karbon, belum pula mengenal istilah “krisis iklim.” Namun ia telah lebih dahulu mengenal sesuatu yang jauh lebih radikal: kesadaran kosmik. Dalam Kidung Ciptaan (Cantico delle Creature), ia tidak berbicara tentang alam sebagai latar, melainkan sebagai keluarga. Ia menyapa Frater Sol, Soror Luna, Saudari Air, bahkan Saudari Kematian Jasmani.
Bahasa itu bukan puisi belaka. Ia adalah teologi yang hidup. Ia menolak hierarki kaku yang menempatkan manusia di puncak dan ciptaan lain di bawah. Bagi Fransiskus, manusia bukan penguasa, melainkan sesama makhluk—yang sama-sama rapuh, sama-sama bergantung, sama-sama diciptakan.
Maka ketika Gereja hari ini berbicara tentang pertobatan ekologis, itu bukanlah konsep baru yang dicari-cari demi relevansi zaman. Ia adalah ingatan yang dipulihkan. Kita diingatkan kembali bahwa dosa ekologis bukan sekadar soal pencemaran, tetapi soal rusaknya relasi: relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan.
Frater Sol: Cahaya yang Tidak Kita Ciptakan
Matahari terbit setiap pagi tanpa menunggu izin manusia. Ia memberi terang kepada ladang orang miskin dan halaman istana dengan keadilan yang sama. Dalam sebutan Frater Sol, Fransiskus mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: cahaya bukan milik kita.
Kita hidup di zaman yang terobsesi dengan kontrol. Kita ingin mengatur iklim, mengatur musim, mengatur alam agar tunduk pada jadwal produksi. Ketika alam tidak patuh, kita menyebutnya “bencana.” Padahal bisa jadi, itu hanya alam yang berhenti berkompromi dengan keserakahan kita.
Frater Sol adalah simbol batas. Ia mengingatkan bahwa ada terang yang tidak berasal dari teknologi, tidak pula dari kekuasaan. Dalam terang itu, manusia dipanggil untuk rendah hati: menyadari bahwa hidup ini bukan hasil rekayasa mutlak, melainkan anugerah.
Pertobatan ekologis, dalam terang Frater Sol, berarti berani mengakui keterbatasan. Mengakui bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan hanyalah percepatan menuju kehancuran. Bahwa cahaya sejati tidak selalu datang dari lampu-lampu kota, tetapi dari kemampuan manusia untuk tahu kapan harus berhenti.
Soror Luna: Keheningan yang Kita Lupakan
Bulan tidak menyilaukan. Ia memantulkan cahaya. Ia hadir dalam sunyi. Ia setia pada siklus. Soror Luna mengajarkan sesuatu yang tidak populer di zaman percepatan: kesabaran.
Dunia hari ini alergi terhadap jeda. Malam diterangi seperti siang. Keheningan dianggap kekosongan. Padahal, justru dalam sunyi manusia belajar mendengar—bukan hanya suara alam, tetapi juga suara hatinya sendiri.
Fransiskus memanggil bulan sebagai saudari karena ia melihat kelembutan di sana. Bukan kekuatan yang memaksa, melainkan keteguhan yang setia. Alam tidak berteriak; manusialah yang terlalu bising untuk mendengarnya.
Pertobatan ekologis menuntut kita belajar dari Soror Luna: menghormati ritme. Memberi waktu bagi tanah untuk pulih, bagi sungai untuk bernapas, bagi hutan untuk tumbuh kembali. Juga memberi waktu bagi diri sendiri untuk tidak selalu produktif, tidak selalu efektif, tidak selalu “berguna” dalam ukuran pasar.
Dalam cahaya bulan, kita diundang untuk merenung: barangkali krisis ekologis bukan hanya akibat eksploitasi alam, tetapi juga akibat kehilangan kemampuan manusia untuk hening.
Dari Pujian menuju Pertobatan: Jalan Fransiskus Hari Ini
Fransiskus tidak menyelamatkan dunia dengan manifesto. Ia melakukannya dengan hidup sederhana. Dengan memilih miskin di tengah budaya akumulasi. Dengan mencintai ciptaan bukan karena ia berguna, tetapi karena ia ada.
Di sinilah pertobatan ekologis menemukan wajah konkret. Ia bukan sekadar kebijakan hijau atau kampanye seremonial, melainkan perubahan cara hidup. Cara makan. Cara membangun rumah. Cara bepergian. Cara memandang tanah; bukan sebagai warisan yang boleh dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga.
Paus Fransiskus, dalam Laudato Si’, menghidupkan kembali semangat ini. Ia tidak mengajak Gereja menjadi aktivis lingkungan semata, tetapi menjadi komunitas yang bertobat. Bertobat dari gaya hidup berlebih. Bertobat dari teologi yang terlalu antroposentris. Bertobat dari iman yang saleh di altar, tetapi abai di ladang dan sungai.
Dalam semangat St. Fransiskus Asisi, pertobatan ekologis adalah pujian yang diwujudkan. Doa yang menjelma tindakan. Liturgi yang berlanjut di luar gereja misalnya di hutan, di laut, di udara yang kita hirup setiap hari.
Menyapa Frater Sol dan Soror Luna hari ini berarti mengakui kembali bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Bahwa keselamatan bukan hanya urusan jiwa manusia, tetapi juga masa depan seluruh ciptaan.
Dan mungkin, di sanalah iman menemukan bentuknya yang paling jujur: ketika manusia berhenti merasa paling penting, dan mulai belajar menjadi saudara.