Gereja Katolik dan Inkulturasi Adat Budaya Dayak di Kalimantan
Oleh Rangkaya Bada
Kehadiran Gereja Katolik di Kalimantan tidak dapat dilepaskan dari perjumpaannya dengan orang Dayak sebagai pemilik sah kebudayaan dan ruang hidup di Borneo.
Injil tidak datang ke ruang kosong. Ia hadir di tengah masyarakat yang telah memiliki sistem nilai, kosmologi, adat istiadat, seni, bahasa, serta relasi yang mendalam dengan alam. Dalam konteks inilah inkulturasi menemukan maknanya yang paling hakiki.
Gereja Katolik, terutama sejak Konsili Vatikan II, menyadari bahwa pewartaan iman tidak boleh bersifat kolonial, apalagi mematikan budaya lokal. Ad gentes dan Gaudium et Spes menegaskan bahwa Injil harus berakar dalam kebudayaan setempat, bukan menggantikannya. Di Kalimantan, prinsip ini menemukan relevansinya dalam dialog kreatif antara iman Kristiani dan adat budaya Dayak.
Orang Dayak mengenal dunia sebagai ruang relasional. Manusia, alam, leluhur, dan Yang Ilahi berada dalam satu kesatuan kosmis. Pandangan ini sesungguhnya memiliki titik temu dengan teologi penciptaan dalam iman Katolik. Karena itu, Injil dapat dipahami bukan sebagai “barang asing”, melainkan sebagai kabar gembira yang menyempurnakan, memurnikan, dan memberi horizon baru pada kebijaksanaan lokal Dayak.
Inkulturasi, dengan demikian, bukan strategi pastoral semata, tetapi sikap iman. Ia menuntut kerendahan hati Gereja untuk belajar, mendengar, dan berjalan bersama umat.
Misi Katolik dan Proses Dialog Budaya
Sejarah misi Katolik di Kalimantan menunjukkan dinamika yang panjang dan berlapis. Para misionaris Kapusin, SMM (Montfortan), Pasinos (CP), Serikat Sabda Allah (SVD), Dominikan, CSE, dan tarekat lainnya, pada masa awal sering datang dengan latar belakang Eropa yang kuat. Dalam tahap tertentu, pendekatan pewartaan masih bercorak asimilatif. Namun seiring waktu, terjadi pergeseran paradigma.
Para misionaris mulai menyadari bahwa adat Dayak bukan penghalang iman, melainkan pintu masuk pewartaan. Bahasa daerah dipelajari, simbol-simbol lokal dihargai, dan struktur sosial adat dipahami. Gereja tidak lagi berdiri di atas, melainkan di tengah masyarakat.
Dialog budaya ini tampak nyata dalam kehidupan paroki dan stasi. Upacara adat seperti gawai, ritus panen, atau tradisi syukuran kampung, tidak serta-merta ditolak. Gereja hadir dengan sikap kritis sekaligus apresiatif. Unsur-unsur yang bertentangan dengan iman disaring, sementara nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, belarasa, penghormatan pada leluhur, dan keseimbangan dengan alam dirangkul.
Di sinilah inkulturasi menjadi proses yang dinamis. Ia bukan romantisasi budaya, melainkan kerja teologis dan pastoral yang terus-menerus. Gereja belajar membaca “tanda-tanda zaman” dalam konteks Dayak yang terus berubah, dari masyarakat ladang berpindah hingga komunitas yang kini berhadapan dengan industri ekstraktif dan kapitalisme global.
Liturgi, Simbol, dan Spirit Dayak
Inkulturasi paling kasat mata terlihat dalam liturgi. Di banyak wilayah Kalimantan, perayaan Ekaristi diwarnai dengan unsur budaya Dayak. Busana adat dikenakan pada perayaan tertentu. Tarian tradisional mengiringi perarakan persembahan. Alat musik lokal seperti gong dan sape’ mengisi ruang gereja.
Bukan sekadar estetika, simbol-simbol ini membawa makna teologis. Tarian bukan hiburan, melainkan doa yang bergerak. Musik tradisional bukan pelengkap, melainkan ungkapan jiwa kolektif umat. Gereja menjadi ruang di mana iman dan identitas Dayak berdamai.
Bahasa juga memainkan peran penting. Penggunaan bahasa ibu dalam doa dan homili membuat Injil terasa dekat. Sabda Allah tidak lagi terdengar asing, tetapi menyapa dari dalam pengalaman hidup sehari-hari: ladang, sungai, hutan, dan rumah panjang.
Spirit Dayak yang menjunjung tinggi kebersamaan menemukan resonansinya dalam eklesiologi Gereja sebagai umat Allah. Gereja bukan hanya bangunan, tetapi komunitas yang berjalan bersama. Dalam konteks ini, rumah panjang menjadi metafora yang kuat bagi Gereja lokal: banyak bilik, satu atap, satu kehidupan bersama.
Inkulturasi liturgis ini bukan tanpa tantangan. Gereja tetap harus menjaga kesatuan iman universal. Karena itu, proses inkulturasi selalu melibatkan diskresi pastoral dan bimbingan magisterium, agar ekspresi lokal tetap setia pada inti iman Katolik.
Inkulturasi sebagai Jalan Masa Depan Gereja di Kalimantan
Di tengah arus globalisasi, inkulturasi justru menjadi semakin relevan. Orang Dayak hari ini menghadapi tekanan besar: deforestasi, ekspansi sawit, pertambangan, dan marginalisasi ekonomi. Dalam situasi ini, Gereja dipanggil bukan hanya untuk merayakan budaya, tetapi juga membela martabat manusia dan keutuhan ciptaan.
Inkulturasi tidak boleh berhenti pada simbol. Ia harus menjelma dalam keberpihakan nyata. Gereja yang sungguh berinkulturasi adalah Gereja yang berdiri bersama orang Dayak dalam memperjuangkan tanah adat, lingkungan hidup, dan masa depan generasi muda.
Pendidikan, literasi, dan penguatan ekonomi umat menjadi bagian dari misi Gereja. Nilai-nilai adat seperti tidak menjual tanah sembarangan, hidup secukupnya, dan menjaga warisan leluhur, sejalan dengan ajaran sosial Gereja. Di titik ini, iman dan budaya saling meneguhkan.
Gereja Katolik di Kalimantan memiliki modal sosial dan spiritual yang besar. Dengan terus mengembangkan teologi kontekstual Dayak, Gereja dapat menjadi suara profetik di tengah perubahan zaman. Inkulturasi bukan proyek selesai, melainkan ziarah panjang bersama umat.
Pada akhirnya, Injil yang berinkulturasi adalah Injil yang hidup. Ia berakar di tanah Dayak, berbicara dengan bahasa Dayak, dan berbuah dalam kehidupan orang Dayak. Gereja tidak kehilangan jati dirinya; justru ia menemukan wajahnya yang paling manusiawi.