Anak Muda Kristen dan Identitas yang Dikenakan di Punggung

Anak Muda Kristen dan Identitas yang Dipakai di Punggung
Kristen sebagai identitas: jangan simpan pelitamu di bawah gantang, Dokpen.

Oleh Sr. Serafina Kadem

Tulisan di belakang kaus itu sederhana, bahkan bisa terlewatkan di tengah hiruk-pikuk sebuah rumah makan di Simpang Ampar, Kalimantan Barat

Namun justru pada kesederhanaannya, ia bekerja sebagai penanda identitas. Bukan identitas administratif, melainkan identitas iman. Identitas yang tidak disimpan di dalam hati saja, tetapi dipakai di punggung, dibawa ke ruang publik, dan dibiarkan dibaca siapa saja.

Anak-anak muda Kristen yang duduk di rumah makan itu tidak sedang berkhotbah. Mereka tidak mengangkat Alkitab. Mereka tidak berteriak-teriak soal iman. Mereka hanya makan, tertawa, bercakap ringan. Namun kaus yang mereka kenakan berbicara. Ia menyampaikan satu pesan: "aku pengikut Kristus, dan aku tidak malu akan itu".

Di zaman ketika identitas sering dipertukarkan dengan citra, branding, atau tren sesaat, keberanian menyatakan iman secara tenang seperti ini justru menjadi sesuatu yang radikal. Ia tidak agresif, tetapi juga tidak sembunyi-sembunyi. 

Iman tidak dipaksakan, tetapi juga tidak ditarik ke ruang privat semata. Ia hadir apa adanya, di tengah meja makan, di tengah masyarakat.

Di titik inilah, tulisan di kaus itu berubah dari sekadar teks menjadi pernyataan eksistensial.

Anak Muda Kristen dan Bahasa Zaman Now

Generasi muda Kristen hari ini hidup di dunia yang cair. Batas antara ruang privat dan ruang publik makin tipis. Media sosial membuat setiap orang sekaligus menjadi penonton dan aktor. Dalam situasi seperti ini, iman sering tergoda untuk menjadi konten, simbol kosong, atau sekadar atribut visual.

Namun yang menarik dari anak-anak muda di Simpang Ampar ini adalah pilihan medium mereka. Mereka tidak memilih panggung digital. Mereka tidak mengejar viralitas. Mereka hadir di ruang keseharian. Di rumah makan sederhana. Di persimpangan kampung. Di ruang yang akrab dengan kehidupan masyarakat.

Tulisan di kaus itu menjadi bahasa iman yang kontekstual. Ia tidak rumit. Tidak teologis. Tidak elitis. Tetapi justru karena itu, ia komunikatif. Ia bisa dibaca oleh siapa saja, dari latar belakang apa saja. Ia tidak menghakimi. Tidak menggurui. Ia hanya menyatakan: kasih Kristus itu nyata, dan kami ingin hidup di dalamnya.

Inilah ciri khas anak muda Kristen zaman sekarang yang dewasa secara iman. Mereka tidak lagi merasa perlu membuktikan iman dengan retorika keras. Mereka memilih kesaksian yang hadir dalam keseharian. Dalam cara berpakaian. Dalam cara duduk bersama. Dalam cara menikmati hidup tanpa kehilangan arah rohani.

Pewartaan yang Diam, tetapi Bekerja

Pewartaan tidak selalu harus bersuara. Dalam tradisi Kristen, kesaksian hidup sering kali lebih kuat daripada kata-kata. Apa yang dipakai di punggung kaus itu bekerja secara diam-diam. Ia tidak memaksa orang setuju. Ia hanya membuka ruang dialog di dalam hati pembacanya.

Seseorang yang melihatnya mungkin hanya membaca sambil lalu. Tetapi bisa juga ia berhenti sejenak. Bertanya dalam hati. Mengingat pengalaman pribadinya tentang iman, gereja, atau kasih. Di situ pewartaan terjadi, tanpa mimbar, tanpa liturgi formal.

Anak-anak muda ini memahami satu hal penting: kasih Kristus bukan slogan kosong. Ia harus hadir di ruang sosial yang nyata. Di tempat orang lapar dan makan. Di tempat orang bekerja dan beristirahat. Di tempat orang bertemu tanpa protokol.

Simpang Ampar, dengan segala kesahajaannya, menjadi ruang teologis. Rumah makan menjadi semacam altar keseharian. Dan kaus itu menjadi teks kecil yang mengingatkan bahwa iman Kristen tidak hidup di menara gading, tetapi di tengah debu jalanan dan suara sendok beradu dengan piring.

Bangga Tanpa Arogan, Bersaksi Tanpa Menggurui

Yang paling menarik dari pemandangan ini adalah sikap batin di baliknya. Kebanggaan menjadi pengikut Kristus tidak berubah menjadi arogansi religius. Tidak ada ekspresi merasa paling benar. Tidak ada jarak yang sengaja diciptakan dengan yang lain.

Kebanggaan ini bersifat tenang. Dewasa. Bersahaja. Ia lahir dari kesadaran bahwa iman adalah anugerah, bukan prestasi. Karena itu, ia tidak perlu dipamerkan secara berlebihan. Cukup dikenakan. Cukup dihidupi.

Anak muda Kristen seperti ini sedang menunjukkan wajah gereja masa depan. Gereja yang tidak berisik, tetapi relevan. Tidak defensif, tetapi hadir. Tidak sibuk mengutuk dunia, tetapi membawa terang ke dalamnya.

Di tengah dunia yang penuh polarisasi identitas, kehadiran mereka menjadi tanda harapan. Bahwa iman masih bisa dirayakan tanpa melukai. Bahwa kasih Kristus masih bisa diwartakan tanpa kehilangan kerendahan hati.

Tulisan di belakang kaus itu mungkin akan pudar oleh waktu. Kainnya bisa usang. Warnanya bisa memudar. Tetapi maknanya telah bekerja. Ia telah menegaskan satu hal penting: di Simpang Ampar, di sebuah rumah makan sederhana, iman Kristen hidup. Bukan sebagai simbol mati, melainkan sebagai kesaksian yang berjalan bersama zaman.

Dan justru dari tempat-tempat seperti inilah, pewartaan kasih Kristus menemukan bentuknya yang paling jujur.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org