Tubuh yang Dirasuki Malaikat?

Tubuh yang Dirasuki Malaikat?
Mungkinkah Santo Mikael masuk ke dalam tubuh manusia untuk melindungi dari kuasa jahat? Ist.
Oleh P Jack Dambe Cjd

Apakah malaikat bisa merasuki tubuh manusia? Artikel ini menjelaskan ajaran Gereja Katolik tentang peran Santo Mikael, kehendak bebas, dan perlindungan rohani secara mendalam.

Ada seorang beriman yang bergulat dalam keheningan batin. Ia membawa pertanyaan yang tidak sederhana. Sebuah kegelisahan yang lahir dari iman sekaligus rasa takut. 

Dalam hatinya, muncul tanya: mungkinkah Santo Mikael masuk ke dalam tubuh manusia untuk melindungi dari kuasa jahat?

Penulis mengetahui kegelisahan itu. Ia melihat bahwa pertanyaan tersebut bukan sekadar rasa ingin tahu. Itu adalah jeritan jiwa yang mencari kepastian. Namun jawaban yang muncul dari kedalaman ajaran Gereja tetap tegas. Tidak! Malaikat, termasuk Santo Mikael, tidak pernah merasuki atau mengambil alih tubuh manusia. Bahkan untuk tujuan yang dianggap mulia sekalipun.

Martabat Kehendak Bebas, Batas yang Tidak Dilanggar Malaikat

Dalam terang tradisi iman, terutama melalui pemikiran Thomas Aquinas, dijelaskan bahwa kehendak bebas manusia adalah martabat yang tidak dapat diganggu gugat. 

Kebebasan itu bukan sekadar kemampuan memilih. Ia adalah tanda bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, sebuah kebenaran yang ditegaskan pula dalam Gaudium et Spes. Maka setiap bentuk “pengambilalihan tubuh” bertentangan langsung dengan kodrat tersebut.

Narator melihat kontras yang jelas. Roh jahat bekerja dengan cara merampas. Ia mengikat. Ia memperbudak. Inilah yang dikenal sebagai kerasukan. Sebaliknya, Allah dan para malaikat-Nya tidak pernah melanggar batas itu. Mereka hadir tanpa memaksa. Mereka membimbing tanpa merusak kebebasan.

Iluminasi Rohani

Ajaran Gereja, sebagaimana dirumuskan dalam Katekismus Gereja Katolik, menegaskan bahwa manusia selalu berada dalam perlindungan malaikat. Namun perlindungan itu bukan dalam bentuk okupasi fisik. Malaikat bekerja dalam ranah rohani. Mereka menerangi akal budi. Mereka menggerakkan hati. Mereka membisikkan kebaikan dalam sunyi nurani.

Kita memahami bahwa nama Mikhael sendiri menyimpan makna mendalam. Dalam bahasa Ibrani, ia berarti “Siapa yang seperti Allah?”

 Sebuah seruan yang sekaligus menjadi perlawanan terhadap kesombongan iblis. Maka peperangan yang dilakukan oleh Santo Mikael bukanlah di dalam tubuh manusia, melainkan di alam roh, sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Wahyu.

Peperangan Rohani

Dalam sejarah, muncul pula kegelisahan lain. Pada masa Reformasi Protestan, tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan John Calvin cenderung menyingkirkan peran malaikat dan para kudus. Mereka khawatir akan penyimpangan iman. Namun Gereja Katolik mengambil jalan berbeda. Katolik tidak menghapus, melainkan memurnikan. Katolik menegaskan bahwa manusia tidak membutuhkan “kerasukan suci” untuk melawan kejahatan. Pertempuran rohani dimenangkan melalui kerja sama antara iman dan rahmat.

Tubuh sebagai Ruang Sakral

Narator lalu mengarahkan perhatian pada satu kebenaran puncak. Tubuh manusia adalah ruang sakral. Ia bukan wadah yang dapat diisi oleh sembarang entitas. Hanya satu Pribadi Ilahi yang diizinkan masuk secara nyata ke dalam tubuh manusia, yakni Yesus Kristus dalam Sakramen Ekaristi. Di sanalah terjadi persatuan yang sejati. Persatuan yang tidak merusak, melainkan menyucikan.

Penulis melihat perubahan dalam jiwa orang itu. Ketakutan perlahan surut. Ia mulai memahami bahwa perlindungan ilahi tidak bekerja dengan cara mengambil alih dirinya. Santo Mikael tidak perlu masuk ke dalam darahnya. Ia berdiri di sampingnya. Ia berjaga. Ia melindungi dalam terang dan kuasa Allah.

Dan manusia itu, yang semula gentar, kini melangkah. Bukan karena ia dirasuki. Tetapi karena ia tetap merdeka.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org