Mengapa Petrus dan Bukan Yohanes?
| ho mathētēs hon ēgapa ho Iēsous - dasar penunjukan Petrus, sebagai penggembala sejati pengikut Yesus. Ist. |
Mengapa Yesus memilih Petrus, bukan Yohanes, sebagai pemegang Kunci Surga? Refleksi teologis Katolik tentang rahmat, Kepausan, belas kasih, dan Gereja yang dibangun di atas kelemahan manusia.
Di atas kertas sejarah, dunia mungkin akan memilih Yohanes. Ia muda, murni, setia berdiri di bawah salib ketika rasul-rasul lain lari ketakutan, dan ia memegang gelar kehormatan tertinggi: “murid yang dikasihi” (ho mathētēs hon ēgapa ho Iēsous). Namun, mengapa Kunci Surga dan tongkat penggembalaan justru diserahkan kepada Simon Petrus, seorang nelayan yang temperamental, labil, dan secara tragis menyangkal Tuhannya tiga kali pada malam penderitaan-Nya?
Yohanes yang Dikasihi, Petrus yang Dipilih
Untuk memahami hal ini, kita harus menyelami misteri terdalam teologi Katolik yang di kemudian hari menjadi titik perdebatan sengit dengan tokoh-tokoh Reformasi abad ke-16, yang pengaruhnya masih mendarah daging dalam ribuan denominasi yang lahir sesudahnya hingga hari ini. Kelompok-kelompok dari abad ke-16 ini sering kali menyoroti kelemahan moral, korupsi, dan dosa para Paus pada masa itu sebagai alasan logis untuk menolak institusi Kepausan.
Namun, dalam kritik mereka, secara teologis sering kali terlewat sebuah paradoks ilahi yang telah ditetapkan Kristus sejak awal: Gereja tidak didirikan di atas fondasi kesucian pribadi manusia, melainkan mutlak di atas rahmat dan kesetiaan janji Kristus yang tidak dapat dibatalkan.
Ketika Kristus menetapkan Petrus di Kaisarea Filipi (Matius 16:18), Ia menggunakan bahasa Aram: “Engkau adalah Kepha (batu karang), dan di atas Kepha ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai Petros dan Petra.
Kristus tidak memilih Petrus karena saat itu Petrus sudah teguh dan sempurna. Yesus Mahatahu; Ia mengetahui dengan tepat kelemahan pria Galilea itu. Kristus memilih Petrus justru untuk membuktikan bahwa kekuatan yang menopang Gereja Universal (Katholikos) bukanlah kehebatan manusiawi, melainkan kuasa ilahi.
Gereja Dibangun di Atas Rahmat, Bukan Kesempurnaan
Bayangkan jika Gereja dipimpin oleh manusia sempurna tak bercela seperti Yohanes. Dunia akan dengan mudah berasumsi bahwa Gereja bertahan karena kehebatan dan kesucian para pemimpinnya. Namun, dengan memilih Petrus yang rapuh dan berdosa, Kristus memastikan satu fakta fundamental: setiap kali Gereja bertahan melewati badai sejarah dan gelombang perpecahan, hal itu terjadi murni karena campur tangan Allah, bukan karena kehebatan Pausnya. Inilah pembuktian nyata dari rahmat Allah yang bekerja di atas kelemahan manusia.
Lalu, mengapa penyangkalan Petrus diizinkan terjadi? Santo Agustinus, Bapa Gereja yang agung, dan Santo Thomas Aquinas, puncak teologi Skolastik, mengajarkan sebuah prinsip mendalam: Tuhan mengizinkan kejatuhan demi mendatangkan kebaikan dan kebajikan yang jauh lebih besar. Yesus sendiri telah bernubuat dalam Lukas 22:31–32:
“Simon, Simon, lihatlah, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”
Perhatikan betapa menggetarkan rancangan ini: Petrus harus hancur. Kesombongannya, ketika ia menepuk dada dan berkata, “Sekalipun semua orang tergoncang imannya, aku tidak,” harus diruntuhkan menjadi debu. Seorang pemimpin tertinggi Gereja tidak boleh menggembalakan kawanan domba Allah dengan arogansi kesucian diri. Ia harus tahu bagaimana rasanya menjadi pendosa yang jatuh telungkup dalam kehinaan, bagaimana rasanya menangis dengan air mata penyesalan yang pahit di tengah malam yang gelap.
Air Mata Petrus dan Misteri Belas Kasih Kristus
Hanya seseorang yang pernah hancur lebur oleh dosanya, lalu direngkuh kembali oleh belas kasih (Misericordia) Kristus, yang mampu memimpin Gereja yang pada hakikatnya adalah rumah sakit bagi para pendosa dengan kelembutan yang nyata.
Mari kita melihat momen pemulihan Petrus di Pantai Tiberias (Yohanes 21:15–17). Yesus tidak menuntut kesempurnaan sebelum memberikan tongkat penggembalaan. Dalam naskah Yunani terjadi dialog yang sangat mengharukan. Yesus bertanya dengan level cinta ilahi: “Simon, apakah engkau mengasihi Aku dengan kasih tanpa syarat (Agape)?” Petrus yang telah remuk oleh kesadarannya sendiri tidak lagi berani sombong. Ia menjawab dengan cinta persahabatan yang manusiawi dan terbatas: “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu (Phileo).”
Yesus turun ke level Petrus, menerima cinta Phileo yang tidak sempurna itu, lalu memberikan mandat yang terus bergema hingga hari ini: Pasce oves meas: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kunci Surga dan Pelayanan Sang Gembala
Apakah Yohanes diabaikan karena ia tidak menerima kunci itu? Tentu tidak. Dalam tradisi mistik dan spiritual Gereja, Yohanes melambangkan “Gereja Kontemplatif”, cinta yang beristirahat di dada Kristus, sementara Petrus melambangkan “Gereja Aktif dan Hierarkis.” Yohanes menerima tugas yang jauh lebih intim secara spiritual: di bawah salib, ia menerima Bunda Maria, Sang Bunda Gereja (Yohanes 19:27). Namun, untuk memegang kunci otoritas, menata kehidupan umat manusia yang berantakan, dan menjaga kesatuan ajaran (Magisterium), dibutuhkan tangan kasar seorang nelayan yang memahami pahitnya realitas dunia.
Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (Art. 18) dan Katekismus Gereja Katolik (KGK 881–882) menegaskan bahwa otoritas ini diberikan bukan sebagai piala penghargaan bagi orang tersuci, melainkan sebagai Munus , pelayanan suci. Itulah sebabnya gelar Paus yang paling agung, yang disematkan oleh Paus Gregorius Agung, adalah Servus servorum Dei, Hamba dari para hamba Allah.
Jadi, pilihan Kristus atas Petrus adalah surat cinta Tuhan yang paling nyata bagi kita semua. Jika Kristus hanya memilih orang sesempurna Yohanes, maka kita yang penuh luka dan dosa ini akan mudah putus asa. Namun, karena Sang Juruselamat memilih Petrus yang pernah menyangkal-Nya, kita memiliki pengharapan yang menyala-nyala.
Kunci Surga diberikan kepada seorang manusia biasa yang pernah menangis tersedu-sedu karena mengkhianati Tuhannya.
Dengan demikian, setiap kali kita, para pendosa, datang mengetuk pintu rahmat Gereja, kita tahu bahwa yang memegang kuncinya adalah seseorang yang sungguh mengerti betapa besarnya pengampunan Allah.