Tanda Salib: Berakhir di Kiri atau di Kanan?
Tanda salib: berakhir di kiri atau di kanan? Mari telusuri tradisi dalam narasi ini. Ist.
Oleh P Jack Dambe Cjd
Perbedaan cara membuat tanda salib antara Gereja Ortodoks dengan Gereja Katolik Ritus Latin (Barat). Hal itu bukanlah masalah perbedaan dogma. Melainkan kekayaan perkembangan tradisi liturgi yang memiliki sejarah panjang.
Tanda salib dalam tradisi
Pada abad-abad awal, umat Kristen umumnya membuat tanda salib kecil di dahi menggunakan ibu jari.
Ketika devosi ini berkembang menjadi tanda salib besar di seluruh bagian tubuh, umat di Timur maupun di Barat awalnya melakukan gerakan yang sama persis: dahi, dada, bahu kanan, lalu bahu kiri. Pada masa itu, belum ada perbedaan arah antara takhta Roma dan Konstantinopel.
Tradisi Timur (baik Gereja Ortodoks maupun Katolik Timur) mempertahankan gerakan kuno ini.
Posisi jarinya pun memiliki katekese tersendiri: tiga jari pertama disatukan melambangkan Tritunggal Mahakudus, sementara dua jari yang dilipat di telapak tangan melambangkan dua kodrat Kristus, Ilahi dan manusiawi, serta turunnya Ia dari surga ke bumi.
Menyentuh bahu kanan terlebih dahulu mengandung makna teologis bahwa Kristus duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Selain itu, sisi kanan secara Alkitabiah melambangkan berkat, kemuliaan, dan tempat domba-domba yang diselamatkan pada penghakiman akhir zaman.
Pergeseran arah tanda salib di Barat
Pergeseran arah di Barat terjadi pada paruh kedua Abad Pertengahan (sekitar abad ke-12 dan ke-13). Paus Inosensius III dalam risalahnya De Sacro Altaris Mysterio secara gamblang mencatat bahwa tanda salib yang umum turun dari dahi ke dada, lalu ke bahu kanan dan ke bahu kiri. Namun, beliau juga mengakui bahwa sebagian umat mulai membuat tanda salib dari bahu kiri ke bahu kanan.
Beliau menguraikan makna mistik baru di balik pergeseran ini: perpindahan dari kiri ke kanan melambangkan bagaimana rahmat keselamatan berpindah dari orang-orang Yahudi (kiri) menuju bangsa-bangsa non-Yahudi (kanan). Makna lainnya adalah perjalanan manusia dari kesengsaraan dosa dan kutukan (kiri) menuju kemuliaan Ilahi dan keselamatan kekal (kanan).
Secara praktis, pergeseran ini diduga kuat karena kebiasaan umat meniru gerakan imam secara "bercermin". Ketika imam memberkati dari kiri ke kanan imam, umat yang berhadapan dengannya mengikuti arah tangan imam, sehingga umat bergerak dari kiri ke kanan mereka sendiri. Seiring waktu, kebiasaan ini menjadi standar universal di Ritus Latin.
Lalu, bagaimana otoritas Gereja Katolik menyikapi praktik Ortodoks ini? Gereja Katolik sama sekali tidak pernah menganggap cara Ortodoks tersebut sebagai suatu kesesatan atau pelanggaran liturgi. Sebaliknya, Gereja mengakuinya secara resmi sebagai tradisi apostolik yang sangat valid, kudus, dan sepenuhnya selaras dengan iman.
salib dari saudara-saudara Ortodoks
Bukti paling nyata dari penerimaan ini adalah keberadaan Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur (seperti Katolik Bizantium, Melkit, atau Yunani) yang berada dalam persekutuan penuh dengan Paus di Roma. Mereka tetap mempraktikkan tanda salib dari kanan ke kiri persis seperti saudara-saudara Ortodoks.
Sesuai dengan semangat Konsili Vatikan II dan seruan Santo Yohanes Paulus II agar Gereja bernapas dengan "dua paru-paru" (Timur dan Barat), perbedaan arah ini sangat dihormati.
Keduanya adalah sarana rahmat dan tanda kemenangan Kristus yang mutlak sejalan dengan Liturgi kita. Amin di kiri atau Amin di kanan, hakikatnya tetap satu: pengakuan iman akan Tritunggal Mahakudus.