Menjadi Pribadi yang Bijak Bestari
Menjadi pribadi yang bijak: perlu latihan, membaca, merenungkan, dan melaksanakan Sabda Tuhan. Ist.
Oleh Antonius Widada CP
Dabar Yahweh, Sabda Tuhan yang direnungkan:
Dalam Kitab Kebijaksanaan (2:2a; 12:22), kita diajak melihat dengan jernih perbedaan antara orang fasik dan orang bijak.
Orang fasik digambarkan sebagai pribadi yang jahat, sombong, dan angkuh. Pikiran serta hatinya dipenuhi iri hati, dendam, dan dengki. Ia tidak segan mencelakakan orang lain.
Menjadi orang bijak
Dalam bahasa Ibrani, orang fasik disebut rasha, sementara dalam bahasa Yunani disebut poneros, yakni pribadi yang tidak mengenal Allah (godless), bahkan cenderung menolak-Nya. Mereka sebenarnya tahu akan Tuhan, tetapi tidak percaya kepada-Nya.
Sebaliknya, orang bijak adalah pribadi yang hidup dalam terang pengetahuan dan iman. Dalam tradisi Yunani dikenal dengan istilah sophia atau sophos, dan dalam Ibrani disebut okmah.
Orang bijak bukan hanya pintar atau berpendidikan, tetapi juga mampu mengarahkan pikiran, perkataan, dan tindakannya bagi kebaikan.
Seseorang yang tidak hidup untuk dirinya sendiri semata, melainkan memberi manfaat bagi banyak orang. Lebih dari itu, orang bijak memiliki iman yang mendalam terhadap kebenaran dan kehendak Allah. Karena itulah, hidupnya terarah, penuh makna, dan pada akhirnya berbuah keberhasilan, sebab ia bekerja keras serta hidup berdamai dengan Tuhan dan sesama.
Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi sangat personal: di manakah posisi kita?
Dalam Injil Yohanes (7:1–2, 10, 25–30), kita melihat bagaimana kebencian orang Yahudi terhadap Yesus semakin memuncak. Hal ini tidak terlepas dari perbedaan pandangan teologis yang tajam.
Bagi orang Yahudi, Mesias atau Al Masih adalah sosok misterius yang tidak diketahui asal-usulnya. Karena itu, ketika Yesus tampil sebagai manusia biasa dan mengaku sebagai Mesias, bahkan sebagai Putra Allah, hal itu dianggap sebagai penghujatan besar. Reaksi yang muncul bukan lagi sekadar penolakan, melainkan kemarahan yang mengarah pada keinginan untuk membunuh.
Namun Yesus justru menyingkapkan kebenaran yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa Mesias hadir secara manusiawi, lahir dan hidup seperti manusia pada umumnya, meskipun berasal dari Allah.
Misteri inkarnasi
Di sinilah letak misteri inkarnasi yang sulit diterima oleh banyak orang pada masa itu. Karena itu, mereka berusaha menangkap Yesus. Akan tetapi, usaha itu selalu gagal, sebab “waktu-Nya belum tiba.”
Ungkapan ini bukan sekadar soal waktu kronologis, melainkan menunjuk pada rencana ilahi, yakni saat penebusan melalui wafat-Nya di kayu salib.
Pada zaman itu, salib adalah simbol kehinaan. Ia merupakan alat hukuman paling kejam dan memalukan, diperuntukkan bagi para penjahat berat dan pengkhianat. Tidak ada kehormatan di sana, hanya penderitaan dan aib.
Ave Crux, spes unica
Namun sejak Yesus wafat di Golgota, makna salib berubah secara radikal. Salib tidak lagi sekadar lambang penderitaan, melainkan menjadi tanda keselamatan. Santo Edith Stein mengungkapkannya dengan kalimat yang sangat kuat: Ave Crux, spes unica, Salam, ya Salib, satu-satunya pengharapanku.
Hingga kini, salib tetap menjadi tanda yang mengundang penolakan bagi sebagian orang. Ia dianggap menakutkan, bahkan dibenci. Namun bagi orang beriman, salib justru menjadi sumber kebanggaan.
Di sanalah Allah menunjukkan kasih-Nya yang paling nyata. Salib menjadi puncak perwujudan cinta kasih Allah, karena melalui peristiwa itu manusia dipulihkan kembali pada martabatnya yang semula.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan agung, suci, dan abadi. Namun dalam kebebasannya, manusia sering memilih jalan yang keliru, mengejar kenikmatan sesaat, dan jatuh dalam dosa.
Akibat dosa
Akibat dari dosa adalah bahwa manusia terpisah dari Tuhan. Dalam situasi itulah kasih Allah bekerja dengan cara yang tak terduga. Putra-Nya sendiri rela datang ke dunia dan wafat untuk menebus manusia.
Penebusan ini bersifat universal, terbuka bagi semua orang. Namun keselamatan itu tidak otomatis dimiliki setiap orang. Hanya mereka yang mau percaya dan bertobat yang akan kembali kepada citra ilahi.
Sebaliknya, mereka yang menolak kasih penebusan itu akan tetap berada dalam keterpisahan dari Allah.
Renungan ini pada akhirnya membawa kita kembali pada pilihan hidup. Menjadi orang fasik atau menjadi orang bijak bukan sekadar konsep, melainkan keputusan yang nyata dalam keseharian.
Dan salib, yang dahulu dianggap hina, kini berdiri sebagai tanda kasih yang mengundang setiap orang untuk kembali kepada-Nya.