FAITH (Part 1): Fides Quaerens Intellectum - Iman yang Mencari Pemahaman
Oleh P Jack Dambe CjdGunung Pencobaan: Iman yang mencari pemahaman. Dokpri.
Keberadaan manusia senantiasa diwarnai oleh ketegangan abadi: antara hasrat rasio untuk menguasai realitas dan keterbatasan ontologis diri dalam menjangkau Yang Tak Terbatas.
Dalam tradisi Katolik, ketegangan ini tidak diselesaikan dengan membuang salah satu di antaranya, melainkan dirangkum dalam realitas yang menantang bernama iman. Iman bukanlah sebuah selimut kenyamanan psikologis ketika manusia berhadapan dengan ketidaktahuan, melainkan sebuah lompatan eksistensial ke dalam pelukan Misteri Ilahi yang tak terselami.
Esensi terdalam dari beriman adalah penyerahan diri (surrender). Memahami Tuhan bermula dari pengakuan jujur bahwa akal budi manusia, betapapun cemerlangnya, hanyalah sebuah cawan retak yang mencoba menampung samudra. Tuhan tidak akan pernah bisa direduksi menjadi sekadar objek laboratorium yang bisa dibedah tuntas di atas meja operasi logika.
Oleh karena itu, iman mutlak menuntut kerendahan hati yang radikal. Penyerahan diri dalam iman bukanlah sebuah kekalahan intelektual, melainkan kesadaran bahwa ada Kebenaran Tertinggi yang melampaui silogisme. Tanpa kerendahan hati untuk menundukkan otonomi ego manusia, pintu menuju pemahaman akan yang ilahi selamanya tertutup rapat.
Iman dan Akal BudI: Dua Sayap Kebenaran
Gereja Katolik tidak pernah mengamputasi nalar atau memusuhi ilmu pengetahuan. Tradisi Gereja menjunjung tinggi fides quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman). Iman dan akal budi bagaikan dua sayap yang mengantar roh manusia terbang menuju Kebenaran.
Namun, rahmat Tuhan tidak menghancurkan kodrat akal budi, melainkan menyempurnakannya. Akal budi mampu menuntun manusia hingga ke pelataran misteri Allah, tetapi ia harus berhenti di ambang pintu. Menuntut agar esensi Yang Ilahi harus sepenuhnya muat ke dalam kotak logika manusiawi adalah sebuah kesesatan epistemologis; ia bagaikan menuntut lautan untuk muat ke dalam sebuah gelas ukur. Logika manusiawi semata bagaikan mata tanpa cahaya terang iman; ia berfungsi, namun buta terhadap realitas yang hakiki.
Arogansi Rasio dan Penolakan Iman
Di sinilah kita patut menatap dengan tajam fenomena penolakan iman di era modern. Ada sejenis arogansi intelektual yang amat halus, namun begitu angkuh, pada mereka yang menolak iman murni dengan dalih "tidak empiris" atau "tidak masuk akal". Sikap ini pada hakikatnya adalah sebentuk penyembahan berhala gaya baru, di mana manusia mengangkat rasionya sendiri ke atas takhta Tuhan.
Menolak eksistensi sesuatu hanya karena ia tidak bisa ditangkap oleh jaring logika kita yang terbatas ibarat orang buta sejak lahir yang bersikeras bahwa warna itu tidak ada karena tidak bisa diraba. Ini bukanlah tanda pencerahan pikiran, melainkan indikasi kepicikan jiwa. Alam semesta ini terlalu agung untuk sekadar dijelaskan oleh tumpukan dalil empiris semata.
Paradoks Iman dan Pengkhianatan Batin
Namun, teguran yang jauh lebih menohok justru harus diarahkan ke dalam relung batin kita sendiri sebagai orang yang beriman.
Sungguh sebuah tragedi spiritual ketika iman direduksi secara menyedihkan menjadi sekadar tatanan doktrinal yang kaku.
Realitas ini tak pelak melahirkan kemuakan (disgust) yang mendalam bagi banyak orang, yang melihat agama kehilangan detak jantung kasihnya.
Ketika iman hanya dipraktikkan sebagai kepatuhan birokratis tanpa ada penyerahan hati yang meremukkan ego, Gereja berisiko menampilkan wajah yang artifisial.
Namun tidak berhenti di situ, letak paradoks yang paling melukai esensi agama adalah ketika iman dibajak menjadi sarana pembenaran diri (self-justification) dengan dalil rasionalitas yang berujung pada penolakan doktrin. Mari kita dudukkan perkaranya dengan jernih.
Doktrin Gereja itu amat sangat penting; ia adalah fondasi ontologis, pagar pelindung, dan kompas yang menjaga kemurnian peziarahan rohani kita.
Doktrin Gereja tidak untuk dibuang, melainkan harus senantiasa dipahami dalam konteks utuh keselamatan dan cinta kasih Allah.
Namun, betapa seringnya nalar manusia bermain kayu. Banyak orang tiba-tiba memusuhi doktrin, bersembunyi dengan pongah di balik argumen "akal budi", "kritis", atau "rasionalitas manusiawi". Padahal, jika dikuliti lebih dalam, penolakan itu sama sekali bukan murni karena pencarian kebenaran intelektual, melainkan sekadar tameng rasionalisasi karena doktrin tersebut secara frontal menghalangi pembenaran diri mereka.
Ketika ajaran Gereja menegur gaya hidup, mengusik kenyamanan ego, atau menuntut pertanggungjawaban moral yang berat, sangat mudah bagi rasio untuk memberontak dan melabeli doktrin itu sebagai "ketinggalan zaman" atau "tidak logis".
Akal budi lantas direndahkan fungsinya, bukan lagi sebagai sayap menuju kebenaran, melainkan dipekerjakan sebagai pengacara murah yang disewa untuk melegalkan kompromi-kompromi pribadi dan hawa nafsu.
Menjadikan nalar sebagai senjata untuk memutilasi doktrin demi memuaskan ego, atau sebaliknya, menggunakan hafalan doktrin untuk merasa superior dan berhak menghakimi sesama, adalah pengkhianatan paling telanjang terhadap teladan salib Kristus.
Iman sejati selalu menuntut kenosis (pengosongan diri). Ia adalah sebuah kerelaan radikal untuk dibentuk dan ditelanjangi oleh kebenaran doktrin, bukan malah membengkokkan doktrin itu agar muat ke dalam selera pembenaran diri kita yang telah jatuh.
Beriman dalam tradisi Katolik adalah keberanian untuk mencintai apa yang tidak sepenuhnya sanggup kita rasionalkan, seraya tunduk pada tuntunan ajaran-Nya tanpa rekayasa.
Beriman adalah sebuah perjalanan peziarahan di mana nalar menuntun kita dengan setia hingga ke bibir jurang misteri.
Lalu, kerendahan hati mengambil alih, memampukan kita melompat ke dalam pelukan Allah.
Kita percaya sepenuhnya bahwa kita dipanggil untuk diubahkan oleh kebenaran, bukan untuk membenarkan diri sendiri.