Dabar, Firman Tuhan tentang Perjanjian
| Dabar, firman Tuhan tentang covenant, yakni perjanjian. Istimewa. |
Oleh Antonius Widada CP
Dabar, firman Tuhan tentang covenant, yakni perjanjian. Dalam bahasa Yunani disebut diathēkē, sedangkan dalam bahasa Ibrani berit.
Karena itu, kita sering mendengar istilah perjanjian bilateral. Perjanjian adalah suatu kesepakatan yang mengikat secara hukum: yang kuat melindungi yang lemah, yang lemah mengabdi kepada yang kuat, dan Tuhan menjadi saksinya (lih. 1Sam. 20:8; 23:18).
Kejadian (17:3–9)
Perjanjian Allah yang menampakkan diri kepada Abram. Abram pun sujud menyembah-Nya. Intinya, Allah berjanji:
a) Abram akan menjadi bapa banyak bangsa, dan namanya diubah menjadi Abraham.
b) Keturunannya akan sangat banyak; dari padanya akan lahir raja-raja.
c) Allah mengikat perjanjian kekal dengan Abraham dan keturunannya, bahwa Ia akan menjadi Allah mereka, dan mereka menjadi umat-Nya.
d) Allah memberikan tanah Kanaan kepada mereka untuk selama-lamanya.
e) Dari pihak Abraham, yang diminta hanyalah kesetiaan pada perjanjian kekal itu.
Hal yang sangat menarik bagi saya adalah bahwa Israel, keturunan Abraham melalui Ishak (anaknya) dan Yakub (cucunya), sering kali tidak setia. Mereka jatuh bangun dan harus kembali rujuk dengan Allah. Namun, kesetiaan Allah tetap dan abadi, tidak terpengaruh oleh ketaatan ataupun ketidaksetiaan (kelemahan) umat-Nya.
Yohanes (8:51–59)
Injil ini berisi pertentangan antara Yesus dan orang-orang Yahudi. Yesus bersabda bahwa siapa yang percaya dan menuruti firman-Nya akan selamat. Namun para pemimpin Yahudi tetap tidak percaya, bahkan menuduh Yesus sebagai orang Samaria yang sesat dan kafir. Yesus dianggap tidak waras, bahkan kerasukan setan.
Saya merenungkan bahwa:
a) Siapa yang menuruti firman Yesus akan selamat, tidak akan mati selama-lamanya. Di sini Yesus menyatakan keilahian-Nya, karena hanya Allah yang dapat memberikan keselamatan.
b) Ada bahaya bagi kita: manusia bisa menjadi sombong dan menutup hati terhadap kehendak Tuhan.
c) Allah tidak memerlukan jasa atau kebaikan kita. Yang diperlukan adalah kerendahan hati untuk mengikuti kehendak-Nya, bukan kehendak sendiri. Bukan hidup semaunya.
Anda bagaimana?