Aku dan Pastor Sepo: Tahun Kelahiran Kami pun, Sama!

Aku dan Pastor Sepo: Tahun Kelahiran Kami pun, Sama!
Aku dan Pastor Sepo (baju batik): banyak pengalaman masa muda kami bersama. Ist.

Oleh Amon Stefanus

Suatu hari seorang teman bertanya kepadaku, mengapa wajahku sedikit mirip dengan wajah Pastor Sepo. Ia bertanya dengan nada bercanda, tetapi juga penuh rasa ingin tahu: apakah kami masih memiliki hubungan keluarga?

Aku hanya tersenyum. Tidak banyak orang mengetahui bahwa sebenarnya kami memang masih kerabat. Ayahku dan ibunya adalah sepupu. Jika ditarik lebih jauh ke belakang, kakek buyut kami masih bersaudara. Hubungan itu tidak banyak diceritakan orang, seakan menjadi kisah kecil yang tersembunyi di balik perjalanan hidup kami masing-masing.

Kami lahir di kampung yang sama: Banyor atau Banjur, seperti orang luar sering menyebutnya. Sebuah kampung kecil di pedalaman Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang. Kampung itu dikelilingi gungung, hutan, sungai, dan ladang-ladang sederhana tempat orang hidup dari alam.

Tahun kelahiran kami sama

Tahun kelahiran kami pun sama. Karena itulah sejak kecil kami tumbuh bersama. Kami bermain di tanah yang sama, berjalan di jalan setapak yang sama, dan belajar di ruang kelas yang sama. Dari kelas satu sekolah dasar sampai kelas tiga SMP kami selalu duduk di sekolah yang sama. Hanya ketika memasuki SMA Santo Yohanes Ketapang, ia menjadi adik kelasku, karena setelah tamat SMP ia sempat berhenti sekolah selama satu tahun.

Masa kecil kami juga dipenuhi pengalaman yang hampir serupa. Kami sama-sama merasakan kehilangan ayah pada usia yang masih sangat muda. Ia ditinggalkan ayahnya ketika masih batita. Ayahnya pulang ke kampungnya di Kabupaten Sanggau dan tidak pernah kembali lagi. Sedangkan aku kehilangan ayahku untuk selama-lamanya ketika aku naik ke kelas lima SD.

Sejak saat itu kami belajar menjalani masa kecil dengan cara yang sederhana, tetapi juga penuh ketabahan.

Hari-hari kami diisi dengan kehidupan kampung. Pagi-pagi kami ikut pergi ke ladang. Kadang membantu menyadap karet di kebun. Pada musim buah kami menyando durian yang jatuh di kebun durian. Kadang pula kami masuk ke rimba untuk berburu atau memasang perangkap bagi kancil, kijang, atau babi hutan. Sepo paling terampil membuat perangkap Binatang.

Sungai juga menjadi bagian dari masa kecil kami. Di sana kami mandi, bermain, memancing ikan, mencari kodok sungai, atau menyelam di air yang jernih untuk menangkap ikan dengan sempetek, sejenis alat seperti panah kecil yang digerakkan oleh pegas karet atau ban dalam sepeda.

Ketika masih SD kami beberapa kali mengikuti abang ipar kami yang bernama Pintar, yang kami panggil Pak Baon. Ia sering mengajak kami pergi berburu atau memasang tajor, pancing yang dipasang di sungai pada malam hari.

Ada dua peristiwa yang sampai sekarang masih sangat jelas dalam ingatanku.

Waktu itu kami masih kelas lima SD. Usia kami sudah tiga belas tahun, karena kami baru masuk sekolah dasar ketika berumur sembilan tahun. Suatu hari Pak Baon mengajak kami melihat belantik—perangkap babi hutan yang ia pasang di hutan Odak. Perjalanan ke sana hampir tiga jam melewati jalan setapak di tengah hutan.

Kami berangkat sekitar pukul sebelas siang. Matahari sudah tinggi ketika kami tiba di tempat perangkap itu.

Hari itu kami beruntung. Belantik Pak Baon berhasil menangkap seekor cis—babi hutan jantan yang besar. Kami bersorak kecil melihat hasil tangkapan itu.

Pak Baon menyalakan api untuk membersihkan bulu-bulu babi tersebut. Setelah itu dagingnya dipotong-potong agar dapat dibawa pulang. Potongan daging dimasukkan ke dalam jare—penangkin rotan yang dipikul di punggung. Pak Baon tentu membawa bagian yang paling banyak, sedangkan aku dan Sepo membawa sesuai kekuatan kami.

Ketika semua siap, hari sudah menjelang sore. Sekitar pukul tiga kami mulai berjalan pulang.

Langkah kami lambat karena beban yang berat. Kami sering berhenti untuk beristirahat. Tanpa terasa malam mulai turun sebelum kami tiba di kampung.

Di antara kami hanya Pak Baon yang membawa penerangan, sebuah tuar—lampu sorot sederhana dengan pemantul dari lembaran seng yang mengkilap. Aku dan Sepo berjalan di depan, sementara Pak Baon berjalan di belakang sambil menyuluhkan cahaya.

Ketika hampir sampai kampung, kami harus melewati batang pohon besar yang tumbang melintang di jalan setapak. Kayu itu cukup tinggi, sekitar setinggi dadaku.

Tanpa beban aku mungkin bisa melewatinya dengan mudah. Tetapi malam itu aku memikul jare yang berat. Ketika mencoba melangkah, kakiku terpeleset dan aku terjatuh.

Untunglah isi jare jatuh di atas dedaunan sehingga dagingnya tidak kotor. Sepo dan Pak Baon segera berhenti untuk menolongku. Bersama-sama mereka membantuku melewati batang pohon itu.

Peristiwa itu sederhana, tetapi sampai sekarang tetap hidup dalam ingatan.

Pada kesempatan lain Pak Baon kembali mengajak kami ke daerah Odak. Kali ini kami berburu di sekitar Sungai Odak dan membawa tiga ekor anjing. Kami mengejar babi hutan sampai ke daerah Baya-Keranji, tetapi hari itu kami tidak berhasil menangkap apa pun.

Akhirnya kami membuat pondok kecil di tepi sungai, di bawah sebatang pohon besar. Lantai pondok dibuat dari batang kayu bulat, sedangkan atapnya dari daun puruh.

Malam itu kami memasang sekitar enam puluh tajor di sungai. Ketika memeriksanya, kami mendapatkan cukup banyak ikan—terutama ikan lele. Ada juga baung dan anak adong. Kami bahkan menangkap beberapa pugo, kodok sungai yang sering kami jadikan lauk.

Untuk mengusir nyamuk kami menyalakan api unggun. Malam itu kami tidur ditemani suara sungai dan nyala api kecil yang menari di kegelapan hutan.

Walaupun perburuan tidak berhasil, ketika pulang kami tetap membawa hasil yang lumayan dari najor di sungai.

Setelah lulus SD kami berdua melanjutkan sekolah ke SMP Usaba 5 Simpang Dua. Pada masa itu aku membantu Pastor Johan di paroki. Aku bekerja di pastoran, tetapi tinggal di rumah Pak Acang keluarga yang memasak makanan bagi para pastor.

Pada tahun pertama sekolah, Sepo masih pulang pergi dari Banjur ke Simpang Dua dengan berjalan kaki sejauh delapan kilometer. Pada tahun kedua ia sempat tinggal di rumah keluarga Pastor Lintas. Ketika kelas tiga ia bahkan sempat tinggal bersamaku di rumah Pak Acang, sebelum akhirnya kembali berjalan kaki dari Banjur bersama teman-temannya.

Aku dan Sepo masa lalu

Tahun 1984 aku melanjutkan sekolah ke SMA Santo Yohanes Ketapang, sedangkan Sepo sempat berhenti selama satu tahun. Baru pada tahun 1985 ia menyusul masuk SMA yang sama dan tinggal di Asrama STM Santo Yusuf.

Sejak Januari 1985 aku sudah membantu pekerjaan di pastoran. Beberapa bulan kemudian Sepo juga ikut bekerja di sana. Tugas kami sederhana: mencuci piring, mengambil makanan para Pastor dan Bruder Pasionis dari susteran OSA, menata meja makan, memotong roti, memasak air, dan menyiram tanaman.

Tempat itu menjadi saksi masa muda kami: dua anak kampung yang belajar bekerja, belajar bertanggung jawab, dan diam-diam menata masa depan.

Ketika aku lulus SMA pada tahun 1987, Sepo masih melanjutkan pekerjaannya di pastoran bersama Yudin hingga ia lulus pada tahun berikutnya.

Pada tahun 1988 aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, di Universitas Sanata Dharma. Meskipun berjauhan, kami tetap saling berkabar melalui surat. Dari salah satu suratnya pada tahun 1990 aku mengetahui bahwa ia mengikuti Tahun Orientasi Panggilan di Nyarumkop. Setelah satu tahun di sana, ia melanjutkan ke Malang untuk masuk novisiat sebagai calon imam Pasionis. Kemudian ia belajar filsafat dan teologi di STF Widya Sasana.

Suatu waktu sekitar tahun 1992, ketika ia sudah menjadi frater, ia datang ke Yogyakarta bersama teman-temannya. Kami sempat berjalan-jalan bersama mengunjungi Borobudur, Prambanan, dan Kebun Binatang Gembira Loka.

Pada Oktober 1999 Pastor Damianus Sepo, CP akhirnya ditahbiskan menjadi imam di Batu, Malang.

Setahun kemudian aku dan istriku sempat bertemu dengannya di Pastoran Sandai, ketika ia bertugas di sana. Saat itu kami baru saja menikah dan sedang berkunjung ke kampung kelahiran istriku di Demit. Kami bahkan sempat bermalam di pastoran itu.

Beberapa kali kami bertemu

Sejak saat itu beberapa kali kami bertemu kembali di Banjur ketika pulang berlibur ke kampung.

Kebersamaan kami kembali terasa dekat ketika pada tahun 2019 Pastor Sepo ditugaskan di Paroki Katedral Santa Gemma Galgani Ketapang. Sejak itu aku sering mengunjunginya di Biara Pasionis Ketapang tempat yang dahulu menjadi saksi masa muda kami ketika mencuci piring untuk para pastor dan Bruder dari Negeri Kincir Angin.

Sebagai kerabat, sepupu, teman sekampung, dan sahabat masa kecil, aku merasa bangga atas perjalanan hidupnya. Ia menjadi pastor pertama dari kampung kami, dan pastor kedua dari Kecamatan Simpang Dua setelah Pastor Lintas.

Ia dikenal sebagai pribadi yang tenang, sabar, dan murah hati. Banyak umat yang ia tolong, termasuk keluarga kami. Ia juga berhasil membimbing salah satu keponakannya, Gabriel Bala, hingga menjadi seorang imam. Lebih dari itu, ia sering memotivasi anak-anak kampung kami untuk berani bermimpi, bersekolah tinggi, dan menjadi sarjana.

Hari ini, Minggu 15 Maret 2026, Pastor Sepo memimpin misa perpisahannya di paroki kami. Ia akan pindah ke Batu, Malang, untuk menjadi pendamping para calon imam Pasionis sebelum mereka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Perjalanan hidupnya membawa kenangan panjang dari hutan Odak, dari sungai tempat kami memancing, dari jalan setapak di kampung Banjur, hingga ke altar pelayanan Gereja.

Selamat bertugas, Pastor Sepo.

Semoga engkau betah di ladang pelayanan yang baru.

Dan semoga segala jerih payahmu di ladang Tuhan

menghasilkan buah yang berlimpah bagi banyak orang. (Amon Stefanus).

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org