7 Sakramen : Rahmat, Tradisi, dan Kekayaan Warisan dalam Gereja Katolik


7 Sakramen : Tradisi, dan Warisan dalam Gereja Katolik

Di dalam Sakramen, Gereja berdiri dan hidup. Bukan pertama-tama sebagai pemilik dan pewaris tetapi penyalur rahhmat dan pelayan misteri yang dipercayakan Kristus sendiri. Istimewa.

Oleh Dr. RD Laurentius Prasetyo

Tradisi Suci terkait sakramen dalam Gereja Katolik berasal langsung dari Yesus Kristus sendiri dan diteruskan oleh para rasul. Gereja tidak “menciptakan” sakramen, melainkan menerima, merayakan, dan menjaga apa yang telah Kristus tanamkan.

Ada orang, bahkan Katolik sekalipun. Mereka bertanya dengan nada ingin tahu yang jujur:

  1. Mengapa tujuh sakramen
  2. Dari mana dasarnya? 
  3. Apakah sakramen sungguh berasal dari Kristus, atau hanya rumusan Gereja di kemudian hari? 

Bertanya dan ingin tahu: Memurnikan iman

Pertanyaan semacam ini lahir bukan dari pembangkangan, melainkan dari ketidaktahuan yang ingin diterangi, dari iman yang ingin dimantapkan dengan pijakan Kitab Suci, dan Tradisi Suci yang diteruskan dari masa ke masa tanpa jeda.

Tidak ada yang keliru dalam bertanya. Iman bukan benda rapuh yang harus disembunyikan dari cahaya. Justru sebaliknya, iman yang dewasa berani diuji, sebagaimana emas murni dimurnikan dalam perapian. 

Kitab Suci Katolik sendiri mengingatkan bahwa iman yang tidak pernah disentuh api akan mudah rapuh ketika zaman mengguncang. Bertanya, dalam arti ini, adalah bagian dari ziarah iman, bukan pengkhianatan terhadapnya.

Sakramen (Katolik) lahir dari dinamika keselamatan itu. Ia bukan sekadar daftar ritual, melainkan jejak-jejak kehadiran Allah yang menyentuh seluruh hidup manusia. 

Dari kelahiran hingga kematian, dari awal pertobatan hingga perjamuan yang menguatkan,
Gereja merangkum pengalaman iman itu dalam tujuh Sakramen. Bukan karena Gereja gemar mengklasifikasi, tetapi karena hidup manusia sendiri berjalan dalam tahap-tahap yang rapuh, yang memerlukan rahmat pada setiap persimpangannya.

Di sini sakramen menjadi bahasa Allah yang paling manusiawi. Air, minyak, roti, anggur, kata pengampunan, sentuhan tangan, dan janji kesetiaan dipilih bukan tanpa maksud. 
Allah tidak menyelamatkan manusia dari jauh. Ia masuk ke dalam daging sejarah, ke dalam simbol-simbol sederhana, agar rahmat tidak melayang di awang-awang, tetapi dapat disentuh, dirasa, dan dihidupi.

Maka tujuh sakramen bukanlah beban iman, melainkan anugerah yang menuntun. Ia adalah satu dinamika keselamatan yang utuh: dimulai dari kelahiran baru, dikuatkan dalam perjalanan, disembuhkan ketika jatuh, dipelihara dalam persekutuan, dan akhirnya diantar pulang dengan pengharapan. 

Di dalam Sakramen-sakramen, Gereja berdiri bagai batu karang dalam Simon Petrus dan penerusnya (Paus (Gereja Katolik)) dan hidup sebagai tubuh Kristus di dunia. Bukan sebagai pemilik rahmat, tetapi sebagai pelayan misteri yang dipercayakan Kristus sendiri.

Sejak kapan tradisi 7 Sakramen dalam Gereja Katolik?

 Akar biblis dan apostolik dari sakramen:

Katekismus Gereja Katolik menegaskan:

 “Sakramen-Sakramen adalah tanda-tanda yang efektif dari rahmat, yang ditetapkan oleh Kristus dan dipercayakan kepada Gereja.”

 (KGK 1131)

Maknanya:

  1.  Kristus adalah sumber sakramen itu sendiri
  2.  Para rasul adalah penerus pertamanya
  3.  Gereja adalah penjaganya
  4.  Dari praktik hidup menuju perumusan eksplisit

Pada abad-abad awal Gereja, sakramen sudah dirayakan, meskipun istilah “tujuh sakramen” belum dirumuskan secara sistematis. Baptisan, Ekaristi, dan Penumpangan Tangan (cikal bakal Krisma dan Tahbisan) tampak jelas dalam Kisah Para Rasul dan tulisan para Bapa Gereja.

Baru pada abad ke-12, khususnya melalui teologi skolastik (misalnya Petrus Lombardus), Gereja merumuskan secara eksplisit jumlah tujuh sakramen. Rumusan ini kemudian ditegaskan secara definitif oleh:

  1.  Konsili Firenze (1439)
  2.  Konsili Trente (1545–1563)

Konsili Trente menyatakan secara dogmatis bahwa:

  1.  Sakramen berjumlah tujuh
  2.  Sakramen berasal dari Kristus
  3.  Sakramen sungguh-sungguh menyalurkan rahmat

Apa esensi dari Sakramen-Sakramen itu?

Sakramen-Sakramen sebagai perpanjangan Inkarnasi

Di sini Scott Hahn sangat membantu. Ia menegaskan bahwa Sakramen-Sakramen hanya bisa dipahami dengan benar bila dilihat dalam terang Inkarnasi.

Intinya:

 Allah menyelamatkan manusia melalui tanda-tanda yang kelihatan, karena manusia adalah makhluk jasmani-rohani.

Sakramen bukan simbol kosong. Sakramen adalah:

  1.  tanda yang kelihatan
  2.  yang menghasilkan rahmat yang tak kelihatan

Katekismus menegaskan:

 “Sakramen bekerja ex opere operato, artinya oleh tindakan itu sendiri, karena Kristus sendiri yang bertindak di dalamnya.”

 (KGK 1128)

Tujuh Sakramen sebagai Satu Dinamika Keselamatan

Kitab Suci sebagai dasar hidup Gereja

1. Baptis – kelahiran baru

Baptis adalah pintu gerbang seluruh SakramenBaptis menandai peralihan dari manusia lama menuju hidup baru dalam Kristus.

Dasar Kitab Suci:

Yohanes 3:5

“Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Matius 28:19

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Roma 6:3–4

“Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya kita hidup dalam hidup yang baru.”

Makna teologis:

Baptis bukan simbol penerimaan sosial, melainkan kelahiran baru. Manusia tidak memperbaiki dirinya, ia dilahirkan kembali oleh rahmat.

2. Krisma – penguatan Roh Kudus

Jika Baptis melahirkan, Krisma menguatkan. Gereja melihat Krisma sebagai pencurahan Roh Kudus yang memampukan orang beriman menjadi saksi dewasa.

Dasar Kitab Suci:

Kisah Para Rasul 8:14–17

Para rasul menumpangkan tangan, dan mereka menerima Roh Kudus.

Kisah Para Rasul 19:5–6

“Ketika Paulus menumpangkan tangan ke atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka.”

2 Korintus 1:21–22

“Allah memeteraikan kita dan memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan.”

Makna teologis:

Krisma adalah Pentakosta personal, bukan sekadar seremoni kedewasaan.

3. Ekaristi – puncak dan sumber hidup Gereja

(Lumen Gentium 11)

Ekaristi adalah pusat. Semua sakramen mengarah ke sini dan mengalir dari sini.

Dasar Kitab Suci:

Matius 26:26–28

“Inilah Tubuh-Ku… Inilah Darah-Ku.”

Yohanes 6:51

“Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku untuk hidup dunia.”

1 Korintus 11:23–26

“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Makna teologis:

Ekaristi bukan hanya mengenang, tetapi menghadirkan kembali kurban Kristus secara sakramental.

4. Tobat – pemulihan relasi yang retak oleh dosa

Gereja sadar: yang telah dibaptis pun bisa jatuh. Karena itu Kristus menyediakan sakramen pemulihan.

Dasar Kitab Suci:

Yohanes 20:22–23

“Dosanya diampuni jika kamu mengampuninya.”

Matius 16:19

“Apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

Yakobus 5:16

“Akuilah dosamu seorang kepada yang lain.”

Makna teologis:

Tobat bukan penghukuman, melainkan rekonsiliasi. Gereja menjadi alat belas kasih Allah.

5. Pengurapan Orang Sakit – penghiburan dan penyembuhan

Sakramen ini menegaskan bahwa penderitaan pun tidak dibiarkan kosong dan sunyi.

Dasar Kitab Suci:

Yakobus 5:14–15

“Baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan dan mengolesinya dengan minyak.”

Markus 6:13

“Mereka mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”

Makna teologis:

Ini bukan sakramen kematian, melainkan sakramen pengharapan, yang menyatukan penderitaan manusia dengan salib Kristus.

6. Tahbisan – kesinambungan pelayanan apostolik

Tanpa Tahbisan, Sakramen lain kehilangan pelayannya yang sah.

Dasar Kitab Suci:

Lukas 22:19

“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

2 Timotius 1:6

“Hidupkanlah karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku.”

Kisah Para Rasul 6:6

“Mereka menumpangkan tangan atas mereka.”

Makna teologis:

Tahbisan menjamin bahwa Gereja hari ini bukan terputus dari Gereja para rasul.


7. Perkawinan – pengudusan cinta manusia

Perkawinan menguduskan cinta, tubuh, kesetiaan, dan sejarah hidup bersama.

Dasar Kitab Suci:

Kejadian 2:24

“Keduanya menjadi satu daging.”

Matius 19:6

“Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Efesus 5:31–32

“Rahasia ini besar, tetapi yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dan Gereja.”

Makna teologis:

Cinta manusia dijadikan tanda cinta Kristus, bukan sekadar kontrak sosial.


Sakramen: satu alur, satu Kristus

Dari Baptis sampai Perkawinan dan Tahbisan, dari Tobat sampai Pengurapan Orang Sakit, seluruh hidup manusia disentuh.

  1. Bukan oleh ide.
  2. Bukan oleh teori.
  3. Melainkan oleh Kristus yang hadir dan bekerja dalam Sakramen-Sakramen-Nya.


Tujuh Sakramen, satu dinamika keselamatan

Ketujuh Sakramen menyentuh seluruh hidup manusia:

1. Baptis – kelahiran baru

2. Krisma – penguatan Roh Kudus

3. Ekaristi – puncak dan sumber hidup Gereja

(Lumen Gentium 11)

4. Tobat – pemulihan relasi yang retak oleh dosa

5. Pengurapan Orang Sakit – penghiburan dan penyembuhan

6. Tahbisan – kesinambungan pelayanan apostolik

7. Perkawinan – pengudusan cinta manusia

Esensinya satu:

Kristus tetap bekerja, menyembuhkan, menguduskan, dan menyelamatkan umat-Nya di sepanjang sejarah.

 3. Gereja Katolik meneruskan dan menjaga sakramen tanpa putus dari zaman ke zaman

 Prinsip suksesi apostolik

Kunci kesinambungan sakramen adalah suksesi apostolik. Gereja Katolik meyakini bahwa para uskup hari ini berdiri dalam rantai tahbisan yang tak terputus sejak para rasul.

KGK menegaskan:

 “Melalui suksesi apostolik, misi yang dipercayakan Kristus kepada para rasul diteruskan sampai akhir zaman.”

 (KGK 861)

Tanpa suksesi apostolik:

 Ekaristi kehilangan pelayannya yang sah

 Tahbisan kehilangan akar kerasulannya

 Gereja berubah menjadi komunitas privat, bukan Tubuh Kristus

Peran Magisterium dan Tradisi Hidup

Gereja menjaga sakramen melalui:

  1.  Tradisi Suci
  2.  Kitab Suci
  3.  Magisterium (wewenang mengajar Gereja)

Ensiklik Ecclesia de Eucharistia (St. Yohanes Paulus II) menegaskan:

Gereja tidak memiliki kuasa atas Ekaristi, karena Ekaristi adalah anugerah yang diterima, bukan ciptaan Gereja.

Pernyataan ini penting:
  1.  Gereja bukan pemilik sakramen
  2.  Gereja adalah pelayan dan penjaga misteri
  3.  Sakramen sebagai ingatan yang hidup
Sakramen adalah ingatan yang hidup, bukan arsip mati. Ia bukan hanya mengenang Kristus, tetapi menghadirkan-Nya kembali secara nyata dalam ruang dan waktu.

Dari abad ke abad, dari Roma hingga pelosok Borneo, Gereja Katolik tetap sama dalam satu hal: Kristus hadir, bertindak, dan menyelamatkan melalui Sakramen-Nya.
Sakramen-sakramen itu kekayaan. Sekaligus kekuatan Gereja Katolik.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org