Bidah Zaman Modern dalam Perspektif Katolik
| Bidah kadang menajamkan iman, memurnikan Gereja dalam keheningan. Ist. |
Gereja tidak lahir dalam terang yang utuh. Ia bertumbuh perlahan, seperti benih yang meraba tanah gelap sebelum mengenal cahaya.
Dalam perjalanan Gereja bagai bahtera yang mengarungi zaman, iman sering tersandung. Bertanya. Ragu. Mencari jalan. Apa yang kemudian disebut bidah sesungguhnya kerap lahir dari kegelisahan semacam ini.
Pada abad-abad awal, orang-orang Kristen belum memiliki bahasa yang mapan untuk menyebut misteri Allah. Injil telah diwartakan. Yesus telah diimani sebagai Tuhan. Namun bagaimana menjelaskan iman itu kepada dunia yang akrab dengan filsafat dan logika rasional. Di sinilah pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Bukan sebagai pembangkangan, melainkan sebagai usaha memahami.
Bidah, dalam konteks ini, tidak selalu datang sebagai musuh. Ia kadang hadir sebagai cermin. Ia memaksa Gereja menatap kembali apa yang sungguh diyakininya. Dalam keheningan pergulatan itulah iman perlahan belajar menyebut nama Allah dengan lebih jujur.
Kristus yang Hampir Direduksi
Arianisme tidak lahir dari kebencian pada Kristus. Ia justru lahir dari rasa takut. Takut bahwa keesaan Allah akan retak jika Yesus sungguh disebut Allah. Maka Kristus ditempatkan sedikit di bawah. Ditinggikan. Dimuliakan. Tetapi tetap dijaga jaraknya dari Allah yang Mahatinggi.
Bagi banyak orang pada masa itu, pandangan ini terasa menenangkan. Ia menjaga keteraturan kosmos. Allah tetap jauh dan tak tersentuh. Namun justru di sanalah Injil kehilangan nadanya yang paling dalam. Sebab dalam Kristus, Allah tidak menjaga jarak. Ia mendekat. Ia mengambil daging. Ia masuk ke dalam luka manusia.
Santo Athanasius memahami kegentingan ini dengan sunyi. Jika Kristus bukan Allah sejati, maka yang menyentuh manusia hanyalah bayangan. Bukan Allah sendiri. Maka keselamatan menjadi kata yang indah, tetapi hampa. Dalam diam yang keras kepala, Gereja pun belajar mengatakan tidak pada penghiburan yang palsu.
Konsili sebagai Ruang Mendengarkan Roh
Konsili Nicea dan Konstantinopel sering dibaca sebagai arena konflik teologis. Namun di balik perdebatan itu, ada keheningan yang lebih dalam. Para uskup datang dengan luka dan kegelisahan umat. Mereka tidak sedang mencipta kebenaran. Mereka sedang mendengarkan.
Kata sehakikat lahir bukan dari keberanian intelektual semata, melainkan dari kesetiaan iman. Gereja mencoba setia pada kesaksian para rasul. Setia pada doa yang telah lama diucapkan. Setia pada pengalaman bahwa dalam Yesus, Allah sungguh hadir tanpa sisa.
Ketika Roh Kudus diakui sebagai Tuhan yang menghidupkan, Gereja sedang belajar bahwa iman bukan hasil rumusan manusia. Ia adalah anugerah yang menuntun dari dalam. Konsili menjadi ruang di mana Gereja belajar menunduk, bukan meninggikan diri.
Kredo sebagai Doa yang Diwariskan
Kredo tidak lahir sebagai slogan. Ia lahir sebagai doa. Sebagai pengakuan yang diucapkan dengan gentar. Setiap kalimatnya membawa jejak air mata dan pengharapan.
Ketika Gereja mengaku Kristus dilahirkan, bukan dijadikan, ia sedang menjaga satu hal yang rapuh namun menentukan. Bahwa Allah tidak hanya berbicara dari jauh. Ia masuk ke dalam sejarah. Ia mengambil resiko ditolak. Disalibkan. Dilupakan.
Kredo menjaga ingatan ini tetap hidup. Ia mengikat generasi yang berbeda dalam iman yang sama. Bukan karena semua mengerti sepenuhnya, tetapi karena semua bersedia percaya bersama. Dalam dunia yang cepat melupakan, kredo mengajarkan kesetiaan yang pelan.
Zaman Modern dan Kelembutan Iman yang Diuji
Zaman ini pun memiliki bidahnya sendiri. Ia sering tidak keras. Ia lembut. Ia membujuk. Iman diajak menjadi perasaan belaka. Kristus dipisahkan dari salib. Gereja dipandang sebagai pilihan, bukan rumah.
Namun seperti dahulu, Gereja tidak dipanggil untuk berteriak. Ia dipanggil untuk setia. Setia pada Injil yang tidak selalu nyaman. Setia pada Kristus yang tidak bisa direduksi menjadi simbol.
Iman yang dewasa tidak takut diuji. Ia tahu bahwa pertanyaan tidak selalu harus dijawab dengan cepat. Kadang ia perlu didoakan. Disimpan. Dihidupi. Dalam kesetiaan yang lirih itulah Gereja terus berjalan, membawa kredo bukan sebagai senjata, melainkan sebagai pelita.
Dan selama Roh yang sama tetap berhembus, setiap kegelisahan zaman akan kembali menjadi jalan. Jalan sunyi menuju Allah yang pernah memilih untuk menjadi manusia.